Momentum Kebangkitan Agro Industri Kelapa Sebagai Kekuatan Ekonomi Kerakyatan Melalui Koperasi

0

Kolom

Rapolo Hutabarat
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN)

Tanah air Indonesia dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai sumber daya alam yang terdapat di perairan, darat dan laut seperti minyak, gas dan mineral dibawah permukaan tanah, keragaman flora dan fauna  – berbagai jenis tanaman dan tumbuhan yang tumbuh subur dan produktif.

Khusus untuk tanaman perkebunan yang sudah dibudidayakan secara luas dan komersil antara lain adalah Kelapa. Tanaman ini sangat mudah kita temukan di seluruh pelosok tanah air, dari Sabang sampai Merauke terutama di pedesaan mulai dari dataran rendah hingga dataran medium.

Tanaman kelapa merupakan sumber daya hayati yang digunakan sebagai minyak goreng sebelum berkembangnya industri kelapa sawit sebagai penghasil utama minyak goreng di Indonesia. Namun demikian, minyak goreng kelapa masih dapat kita temukan di super market dalam jumlah terbatas dan harganya relatif jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan minyak goreng sawit.

Di kawasan Asia Tenggara, semua negara anggota the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang terdiri dari 11 negara memiliki budidaya kelapa hingga perkebunan skala besar, kecuali Singapura. Anggota ASEAN yang menghasilkan kelapa dan sekaligus sebagai produsen utama dunia adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Timor Leste.

Kelapa yang diproses segar dan buah yang dikeringkan (Kopra) dapat menghasilkan minyak yang bernilai tambah tinggi. Kopra yang menghasilkan minyak (coconut oil) banyak digunakan sebagai bahan baku untuk pangan, farmasi, kosmetik dan bahkan sebagai Bioavtur/Jet fuel. Dunia penerbangan saat ini sedang menyusun peta jalan penggunaan jet fuel yang berbasis minyak nabati yang dikenal dengan istilah Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang salah satu sumber bahan bakunya menggunakan minyak kelapa (coconut oil). Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama kelapa dan/atau minyak kelapa memiliki peluang sebagai pemain utama untuk memproduksi SAF tersebut.

Minyak kelapa sebagai sumber pangan mengandung fitonutrien yang sangat bermanfaat bagi Kesehatan. Fitonutrien tersebut adalah sebagai berikut: alkaloid 38.230 mg/100g; tannin 28.124 mg/100g; saponins 16.185 mg/100g; flavonoid 29.745 mg/100g; phenol 79.167 mg/100g; steroid 0.915 mg/100g; terpenoid 1.251 mg/100g; and glycoside 0.506 mg/100g.

Minyak kelapa juga dapat digunakan sebagai bahan baku industri oleochemical untuk menghasilkan produk intermediat seperti Fatty Alcohol, Fatty Acid, Ester, Medium Chain Triglyceride (MCT), Glyceril Monostearate (GMS) dan lain-lain. Produk intermediat tersebut selanjutnya akan digunakan oleh industri lainnya seperti kosmetik, farmasi dan oleo pangan.

Selain kedua hal tersebut (sebagai sumber fitonutrien dan oleochemical) minyak kelapa memiliki peluang yang sangat besar digunakan sebagai bahan baku untuk mengasilkan Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Minyak kelapa ini mirip dengan minyak inti kelapa sawit Refined Bleached and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) yang sudah diuji coba terbang oleh maskapai Garuda Indonesia. Uji terbang tersebut dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2023 yang lalu dengan menggunakan pesawat seri 737-800 NG dengan campuran 2.4% pada rute bandara Soekarno Hatta, Jakarta – bandara Adisoemarmo, Solo (Pulang Pergi).

Di organisasi penerbangan sipil internasional/International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukan memasukkan kelapa non standar di dalam positive list ICAO – ICAO document – CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels, Edisi ke-6 pada tanggal 28 Oktober 2024. Kelapa non standar itu meliputi kelapa tua, berukuran sangat kecil, sudah bertunas, mulai membusuk atau berjamur dan yang pecah. Berdasarkan data dari beberapa riset yang dilakukan bahwa jumlah kelapa non standar di Indonesia diperkirakan mencapai 30% dari produksi kelapa Indonesia.

Namun demikina, untuk minyak kelapa (laurat) yang diproses melalui Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA) belum masuk di daftar Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) sebagai bahan baku SAF, masih HEFA secara umum yang berbasis minyak nabati umum. Hal ini menjadi tugas kita bersama pemerintah dan pelaku industri untuk memasukkan minyak kelapa sebagai bahan baku SAF.

Tanaman Kelapa

Asal Usul Tanaman Kelapa

Tanaman kelapa adalah anggota genus Cocos pertama kali digunakan oleh Vasco da Gama dan daerah asalnya adalah lembah-lembah Andes di Kolombia. Fosil tertua buah yang paling mirip dengan kelapa ditemukan di Selandia Baru dan diperkirakan berusia sekitar 5,3 juta tahun yang lalu. Tetapi secara umum yang diterima bahwa kelapa diperkirakan berasal dari kawasan khatulistiwa yang membentang dari India, Indonesia hingga kepulauan Pasifik.

Menurut sejarah lainnya, pohon kelapa adalah tanaman yang berasal dari Asia Selatan dan tepatnya dari Malaysia atau dari Pasifik Barat. Tanaman kelapa menyebar dari satu negara ke negara lain dan cara penyebarannya diperkirakan terjadi lewat buah kelapa yang hanyut mengikuti aliran air laut atau sungai. Cara lainnya, buah kelapa di bawa oleh awak kapal dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya.

Pohon kelapa yang memiliki nama latin coconus nucifera merupakan tanaman tropis yang dapat tumbuh hampir di seluruh pelosok Nusantara. Meski banyak ditemui di Indonesia, pohon kelapa ternyata bukan berasal dari Indonesia.

Agroklimat untuk budidaya tanaman kelapa, temperatur 20-35oC; curah hujan 1000-3500 mm/tahun; pH tanah 4,5-8,5 dan ketinggian tempat berkisar 0-500 meter dari permukaan laut.

Data Luas, Produksi dan Ekspor-Impor Kelapa Indonesia

Luas lahan dan produksi kelapa Indonesia tahun 2021-2024 dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Luas dan Produksi Kelapa Indonesia Tahun 2021-2024

Tahun Luas (Ha) Produksi (Ton)
P. Rakyat BUMN Swasta Jumlah P. Rakyat BUMN Swasta Jumlah
2021 3.324.741 3.912 26.882 3.355.535 2.846.801 2.418 28.286 2.877.504
2022 3.305.662 469 34.709 3.340.840 2.828.818 745 37.491 2.867.054
2023 3.296.325 468 34.773 3.331.566 2.801.368 689 35.969 2.838.025
2024 3.300.894 469 34.821 3.336.183 2.861.856 704 36.745 2.899.305
Sumber data: Statistik Perkebunan Jilid I 2022-2024

Berdasarkan Tabel 1 diatas, luas perkebunan kelapa Indonesia yang dimiliki oleh rakyat mencapai 98% dari luas tanaman kelapa Indonesia sehingga peranan petani kelapa sangat penting dan strategis.

Volume dan nilai ekspor kelapa serta produk turunannya periode tahun 2021-2024 dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Volume dan Nilai Ekspor Kelapa dan Produk Turunannya 2021-2024

HS Produk Deskripsi 2023 2024
Volume (Kg) Nilai (U$) Volume (Kg) Nilai (U$)
08011100 Kelapa diparut atau dikeringkan) 113.670.875 125.962.697 119.230.729 176.624.425
08011200 Kelapa didalam kulit endocarp segar 380.883.323 75.329.685 431.915.857 113.585.055
08011910 Kelapa muda 242.077 72.049 926.001 336.984
08011990 Kelapa Olahan Lainnya 376.600.486 76.036.273 623.461.021 181.257.007
12030000 Kopra 45.668.662 33.533.218 29.739.745 25.745.675
15131100 Minyak kelapa 0 0 0 0
15131110 Virgin coconut oil (VCO) 17.364.423 17.834.990 21.298.544 26.868.307
15131190 Kopra dan fraksinya selain VCO 350.683.920 328.451.274 311.905.376 385.663.342
15131910 Fraksi dari minyak kelapa tidak dimurnikan 3.613.522 4.410.830 1.818.655 2.692.741
15131990 Minyak kelapa setengah jadi (lain-lain dari minyak kelapa (kopra) 368.219.835 392.268.311 342.354.821 478.263.690
23065000 Bungkil kelapa 290.147.474 62.381.167 193.081.197 32.162.644
53050021 Serat kelapa (coir) mentah 1.284.552 169.742 1.100.031 166.708
53050022 Serat kelapa (coir) lainnya 24.897.674 4.154.384 19.691.057 3.082.347
TOTAL Sumber data: BPS 1.973.276.825 1.120.604.619 2.096.523.035 1.426.448.925
Sumber data: BPS, 2025.

 

Posisi Indonesia secara global dengan negara-negara produsen utama kelapa dunia dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Luas, Produksi dan Produktifitas Negara Produsen Utama Kelapa Dunia Tahun 2021

No Negara Produsen Luas (ha) Produksi (Juta biji) Produktifitas (Biji/ha)
1 Philippines 3.647.00. 14.717.000 4.035
2 Indonesia 3.374.000 14.200.000 4.209
3 India 2.199.000 20.736.000 9.430
4 Sri Lanka 444.000 3.120.000 7.027
5 Papua New Guinea 222.000 1.483.000 6.680
6 Vietnam 168.000 1.410.000 8.393
7 Thailand 126.000 644.000 5.111
8 Vanuatu 88.000 303.000 3.443
9 Kenya 85.000 289.000 3.400
10 Malaysia 83.000 556.000 6.699
11 Fiji 61.000 244.000 4.000
12 Solomon Islands 38.000 100.000 2.632
13 Tonga 26.000 53.000 2.038
14 Kiribati 25.000 145.000 5.800
15 Samoa 20.000 53.000 2.650
16 F.S.Micronesia 18.000 78.000 4.333
17 Jamaica 16.000 167.000 10.438
18 Timor Leste 12.000 26.000 2.167
19 Guyana 12.000 92.000 7.667
20 Marshall Island 7.000 18.000 2.571
21 Other Countries 1.586.000 8.240.000 5.195
  Total 12.257.000 66.674.000 5.440

Source: International Coconut Community (ICC) Statistical Year Book 2021

https://coconutboard.gov.in/Statistics.aspx

 Budidaya dan Produktifitas

Budidaya tanaman kelapa dengan tujuan memperluas areal tanam sekaligus meningkatkan produktfitasnya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu melalui (1) penanaman oleh rakyat di seluruh pelosok tanah air sebagai tanaman pekarangan industri dan (2) melalui pembukaan lahan perkebunan oleh negara dan swasta dengan menanam bibit unggul (bersertifikat).

Jenis bibit kelapa di Indonesia terbagi atas tiga jenis, yaitu genjah, hibrida dan kelapa dalam. Kelapa dalam dapat mencapai 30 meter; ukuran kelapa 1,5-2,5 kg/butir dan mulai panen 6-8 tahun dengan umur produktif 60 tahun. Kelapa hibrida mencapai 40 tahun dan potensi produksi kopra berkisar 4-5 ton/ha/tahun. Kelapa genjah tingginya mencapai 12 meter; ukuran buah 1,5 kg/butir dan umur mulai panen 3-4 tahun setelah tanam.

Budidaya yang dilakukan oleh masyarakat dapat dilakukan dengan Gerakan Nasional Tanam Kelapa (Gernastaka/GNTK). Gerakan tersebut dapat dilakukan di seluruh Desa yang ada di Indonesia yang saat ini berjumlah 75.753 desa. Potensi ekonomi dari GNTK ini dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini.

Tabel 4. Potensi Ekonomi Gerakan Nasional Tanam Kelapa Seluruh Desa Indonesia (75.753)

Jumlah

Desa

GNTK/Desa

(Ha)

Total GNTK

(Ha)

Populasi/Ha Produksi

(pohon/tahun)

Rendemen

Kopra (20%)

Rendemen minyak dari kopra (60%)
75.753 100 Ha/Desa 7.575.300 140 pohon 120 butir 25.453.008 ton 15.271.804 ton
200 Ha/Des 15.150.600 140 pohon 120 butir 50.906.016 ton 30.543.609 ton

 

Jika merujuk kepada agroklimat dan berbagai faktor budidaya, dari jumlah 75.753 desa yang sesuai untuk budidaya kelapa sekitar 50-60% maka potensi ekonomi dari GNTK tersebut adalah seperti pada Tabel 5 dibawah ini.

Tabel 5. Potensi Ekonomi Gerakan Nasional Tanam Kelapa Seluruh Desa Indonesia

Jumlah

Desa

GNTK/Desa

(Ha)

Total GNTK

(Ha)

Populasi/Ha Produksi

(pohon/tahun)

Rendemen

Kopra (20%)

Rendemen minyak dari kopra (60%)
(50%)

37.877

100 Ha/Desa 3.787.700 140 pohon 120 butir 12.726.672 ton 7.636.003 ton
200 Ha/Desa 7.575.400 140 pohon 120 butir 25.453.344 ton 15.272.006 ton
(60%)

45.452

100 Ha/Desa 4.545.200 140 pohon 120 butir 15.271.872 ton 9.163.123 ton
200 Ha/Desa 9.090.400 140 pohon 120 butir 30.543.744 ton 18.326.246 ton

 

Angka simulasi pada Tabel 5 tersebut diatas tentu sangat dinamis terutama dari sisi kesesuaian agroklimatnya. Disamping itu juga perlu disusun suatu peta jalan (road map) tahapan luasan yang akan ditanam kurun waktu 1-10 tahun dengan skala luasan 100-200 ha per desa termasuk industri pembibitannya (jenis kelapa unggul yang bersertifikat). Dengan kata lain, GNTK ini dapat disusun menjadi Rencana Strategi Industrialisasi (hulu-hilir) Kelapa di Indonesia melalui Koperasi sebagai bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Indonesia (RPJP) sub sektor tanaman kelapa sebagai penghasil minyak nabati.

 Perdagangan Minyak Nabati Dunia

Minyak nabati utama dunia sebagai sumber pangan, pakan dan energi yang bersumber dari biji-bijian ada 10 jenis, yaitu: kedelai, kapas, kacang tanah, bunga matahari, kanola, wijen, minyak inti sawit, kelapa, rami dan jarak.

Luas, produksi dan produktifitas 10 jenis biji-bijian sebagai sumber minyak nabati dunia tahun 2021-2024 disajikan pada Tabel 6 dibawah ini.

Tabel 6. Luas, Produksi dan Produktifitas 10 Jenis Sumber Minyak Nabati Dunia 2021-2024

Sumber

minyak

Produksi (Juta ton) Produktifitas (Ton/ha) Luas panen (Juta ha)
2021 2022 2023 2024 2021 2022 2023 2024 2021 2022 2023 2024
Kedelai 354.03 356.89 367.89 402.26 2.74 2.68 2.73 2.87 128.99 133.41 134.74 140.11
Kapas 42.30 41.10 39.81 40.17 1.29 1.27 1.24 1.26 32.91 32.39 32.15 31.76
K. Tanah 32.75 34.66 33.34 34.75 1.17 1.18 1.16 1.18 28.06 29.31 28.64 29.43
Matahari 53.08 57.97 53.63 55.98 1,90 1.94 1.82 1.85 27.89 29.91 29.41 30.21
Kanola 66.06 66.98 79.25 77.45 1.95 1.83 2.02 1.99 33.94 36.67 39.28 39.01
Wijen 5.55 5.40 5.51 5.73 0.63 0.61 0.62 0.63 8.82 8.89 8.95 9.13
Inti sawit 18.16 18.75 19.15 19.43 0.78 0.77 0.77 0.77 23.32 24.37 24.74 25.11
Kelapa 4.69 5.17 4.75 4.90 0,50 0,55 0.50 0,51 9.45 9.47 9.53 9.55
Rami 3.03 3.04 3.50 3.30 0.90 0.76 0.88 0.89 3.36 3.98 3.95 3.73
Jarak 1.75 1.73 2.17 2.03 1.55 1.61 1.76 1.74 1.13 1.08 1.23 1.16
Dunia 581.40 591.70 609.01 646.00 1.95 1.91 1.95 2.02 297.87 309.47 312.62 319.20
Sumber data: Oil World, Annual 2023, June 15, 2023

Merujuk pada Tabel 6 diatas berdasarkan luas panen tahun 2024, terlihat jelas bahwa luas lahan kelapa hanya berkisar 2.99% dari luas panen minyak nabati dunia, luas panen kelapa sawit hanya berkisar 7.86% sedangkan luas panen tanaman kedelai mencapai 43.89%.

Negara tujuan ekspor kopra, minyak kelapa dan bungkil kopra dunia tahun 2018-2022 disajikan pada Tabel 7-9 dibawah ini.

Tabel 7.  Negara Tujuan dan Volume Eskpor Kopra Tahun 2018-2022 (1000 Ton)

Negara Tujuan 2018 2019 2020 2021 2022
Bangladesh 20.1 21.2 23.6 23.6 30.7
India 13.3 13.1 13.2 10.6 0.3
Pakistan 2.3 2.1 6.3 4.7 0.7
Philippina 5.6 7.1 5.5
Lainnya 0.1 0.3 0.7 0.3 0.3
TOTAL 41.4 43.8 43.8 39.2 37.5
Sumber data: Oil World, Annual 2023, June 15, 2023

Tabel 8.  Negara Tujuan dan Volume Ekspor Minyak Kelapa Tahun 2018-2022 (1000 Ton)

Negara Tujuan 2018 2019 2020 2021 2022
Belanda 163.2 87.9 83.9 78.4 94.8
Spanyol 3.5 5.5
Russia 13.2 15.8 18.3 21.1 25.1
Ukraina 6.3 4.0 4.7 8.1
Aljazair 2.4 3.0 1.3 0.5 1.4
Mesir 2.7 3.6 4.3 3.9 8.1
Mauritius 4.0
Afrika Selatan 4.5 3.1 3.1 1.9 3.0
Tunisia 3.0 3.6 2.2 2.7 8.5
Amerika Serikat 99.3 113.6 101.2 134.8 140.0
Tiongkok/China 105.3 118.0 88.4 106.8 124.3
India 4.8 7.4 6.9 3.1 1.1
Iran 7.8 13.0 10.0 7.6 5.7
Jepang 2.2 1.8 3.1 1.1 1.1
Korea Selatan 56.8 48.6 33.7 32.2 30.8
Malaysia 147.8 128.8 118.5 116.7 195.3
Arab Saudi 0.1 6.0 0.5
Singapura 23.9 24.6 21.9 22.1 19.5
Sri Lanka 5.3 3.4 46.7 44.6 2.9
Thailand 5.8 5.4 11.2 7.3 11.7
Turkiye 2.1 2.2 1.5 0.6 5.4
Uni Emirat Arab 0.3 1.4 2.6 1.8 3.6
Lainnya 16.5 19.2 18.3 15.7 22.6
TOTAL 677.8 614.4 581.7 614.4 711.0
Sumber data: Oil World, Annual 2023, June 15, 2023

Volume ekspor minyak kelapa dunia menunjukkan kecenderungan meningkat, tahun 2021 sebanyak 614,4 ribu ton menjadi 711,0 ribu ton pada tahun 2022. Negara pengimpor minyak kelapa tersebesar adalah Belanda, Malaysia, Tiongkok, Korea Selatan, Singapura dan Amerika Serikat.

Tabel 9. Negara Tujuan dan Volume Ekspor Bungkil Kopra Tahun 2028-2022 (1000 Ton)

Negara Tujuan 2018 2019 2020 2021 2022
Tiongkok/China 6.5 3.3 6.6 96.8
India 140.6 133.0 123.1 116.3 63.8
Korea Selatan 164.8 94.5 55.2 82.6 116.5
Philippina 4.5
Vietnam 18.6 5.1 3.3 18.6 38.7
Lainnya 1.7 1.8 1.2 1.0 1.9
TOTAL 332.2 237.6 182.8 229.6 317.8
Sumber data: Oil World, Annual 2023, June 15, 2023

Kontribusi minyak kelapa terhadap produksi dan kebutuhan (pemakaian) minyak nabati dunia tahun 2020-2022 dapat dilihat pada Tabel 10 dibawah ini.

Tabel 10. Kontribusi Produksi dan Pemakaian Minyak Kelapa Terhadap 11 Jenis Minyak Nabati Dunia Tahun 2020-2022 (1000 Ton)

Sumber minyak Produksi (Juta ton) Pemakaian (Juta ton)
2019 2020 2021 2022 2019 2020 2021 2022
Kedelai 57,019 58,734 60,221 59,543 56,928 58,261 59,355 59,752
Jagung 4,333 4,192 4,367 4,477 4,342 4,165 4,313 4.443
Kapas 4,610 4,614 4,446 4,370 4,679 4,617 4,440 4,371
Kacang Tanah 4,003 4,205 4,406 4,678 4,064 4,157 4,372 4,672
Bunga Matahari 20,804 21,308 18,946 20,095 20,086 21,440 19,155 19,135
Kanola/Rapeseed 25,251 25,767 26,995 26,816 25,507 25,451 27,045 26,778
Wijen/Sesame 869 867 856 817 864 864 851 818
Inti sawit 8,106 7,880 7,958 8,237 7,926 7,998 8,069 7,879
Kelapa 2,916 2,632 2,755 3,199 2,824 2,736 2,893 3,147
Rami/Linseed 824 797 788 797 809 793 793 821
Jarak/Castor 735 898 925 832 821 843 913 882
Dunia 129,470 131,894 132,663 133,861 128,850 131,325 132,199 132,698
Kontribusi m. kelapa (%) 2.25 1.99 2.07 2.38 2.19 2.08 2.18 2.37
Sumber data: Oil World, Annual 2023, June 15, 2023

Kontribusi minyak kelapa terhadap 11 jenis produksi dan konsumsi minyak nabati dunia yang bersumber dari biji-bijian masih sangat rendah. Hal ini dapat menjadi sebuah momentum untuk kebangkitan agro industri kelapa di Indonesia.

Harga minyak nabati dunia dapat berfluktuasi karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor adalah pengaruh iklim yang mempengaruhi keberhasilan panen dan produktifitas. Faktor lain adalah pertumbuhan ekonomi negara di dunia serta situasi geo-politik kawasan. Prediksi harga minyak nabati dunia periode 2022-2024 disajikan pada Tabel 11 dibawah ini.

Tabel 11. Prediksi Harga dan Harga Beberapa Minyak Nabati (U$ per Ton)

Minyak nabati Januari/Juni Juli/Desember
2024F* 2023* 2022 2023F* 2022 2021
M. Kedelai (FoB Dutch) 1,240 1,127 1,799 1,060 1,573 1,449
M. Kedelai (FoB Arg) 1,160 1,038 1,647 1,000 1,297 1,330
M. Matahari (FoB EU/NW EU) 1,190 1,053 1,907 1,010 1,387 1,384
M. Matahari (Laut hitam) 1,140 946 1,787 900 1,254 1,330
M. Kanola (FoB Dutch) 1,220 1,037 2,027 1,060 1,442 1,633
CPO (NW EU) 1,160 982 1,617 1,000 1,087 1,273
RBD Palm Olein (FoB Malaysia) 1,100 930 1,587 940 969 1,218
Palm Kernel Oil (CIF Rotterdam) 1,260 1,004 2,052 1,050 1,143 1,615
M. Kelapa (CIF Rotterdam) 1,320 1,070 1,988 1,130 1,255 1,689
Sumber data: Oil World, Annual 2023, June 15, 2023. F) Forecasts *) Data sementara

Merujuk kepada Tabel 11 bahwa rata-rata harga minyak kelapa dunia tahun 2022-2023 adalah U$ 1.360 per ton maka potensi ekonomi GNTK seluruh desa di Indonesia yang merujuk pada data di Tabel 5 dapat mencapai:

Jumlah

Desa

GNTK/Desa

(Ha)

Total GNTK

(Ha)

Populasi/Ha Produksi

(pohon/tahun)

Rendemen

Kopra (20%)

Rendemen minyak

dari kopra (60%)

U$ 1.360/ton x kurs Rp 16.000
(50%)

37.877

100 Ha/Desa 3.787.700 140 pohon 120 butir 12.726.672 ton 7.636.003 ton Rp 166 Triliun
200 Ha/Desa 7.575.400 140 pohon 120 butir 25.453.344 ton 15.272.006 ton Rp 332 Triliun
(60%)

45.452

100 Ha/Desa 4.545.200 140 pohon 120 butir 15.271.872 ton 9.163.123 ton Rp 199 Triliun
200 Ha/Desa 9.090.400 140 pohon 120 butir 30.543.744 ton 18.326.246 ton Rp 398 Triliun

 

Potensi tersebut belum termasuk dari produk samping berupa batok kelapa, air kelapa dan sabut kelapa yang perlu dihitung sebagai satu kesatuan sirkular ekonomi industri kelapa nasional.

Ekonomi Kerakyatan Melalui Koperasi

Konsep ekonomi kerakyatan jika mengacu ke Undang-Undang Dasar 1945 pada Pasal 33 Ayat (1) Perekonomian disusun sebagai usaha berdasar atas asas kekeluargaan dan Ayat (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

Penguatan kelembagaan ekonomi rakyat melalui koperasi dapat dilakukan dengan dua acara atau pendekatan yaitu (1) Pembentukan koperasi (badan hukum yang baru) dan (2) Memberdayakan koperasi yang sudah ada baik yang produktif maupun dorman/kurang produktif.

Data dari berbagai sumber bahwa jumlah koperasi di Indonesia dari tahun 2021 hingga 2024: Tahun 2021: 127.846 unit, Tahun 2022: 130.354 unit, Tahun 2023: 130.119 unit, Tahun 2024: 131.617 unit. Jumlah koperasi di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2014 hingga 2023. Pada tahun 2014, jumlah koperasi di Indonesia mencapai 209.488 unit. Hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk memperkuat lembaga ekonomi ini baik dari sisi manajemen, permodalan, akses pasar domestik dan pasar global.

Manfaat Koperasi secara regulasi sudah ditunjukkan oleh pemerintah melalui beberapa Undang-undang (UU), yaitu UU No. 25 tahun 1992 juncto Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 2 tahun 2022 juncto UU No. 6 tahun 2023 tentang Cipta Kerja dan UU No. 4 tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Selain keberpihakan UU tersebut sesungguhnya harus didukung oleh Peraturan Pemerintah sebagai landasan operasionalnya dan regulasi ditingkat yang lebih rendah yang saling mendukung semangat UU tersebut terutama dari sisi penguatan kelembagaan/manajemen, permodalan dan akses pasar hingga mampu memasuki pasar keuangan di Bursa Efek Indonesia.

Koperasi di Uni Eropa memegang peranan penting untuk perekonomian dan lapanga kerja. Beberapa contoh koperasi yang sangat besar dan kuat di Uni Eropa dan Asia antara lain adalah:

  1. Crédit Agricole Group (Prancis)

Sebuah grup perbankan internasional asal Prancis dan merupakan lembaga keuangan koperasi terbesar di dunia. Bank ini terdiri dari sejumlah bank lokal Crédit Agricole, 39 bank regional Crédit Agricole, dan satu organisasi pusat, yakni Crédit Agricole S.A. Crédit Agricole memulai sejarahnya pada akhir abad ke-19, terutama setelah Undang-Undang tahun 1884 mengatur kebebasan asosiasi profesional, yang antara lain mengizinkan pembentukan kelompok tani dan pendirian bank bersama lokal. Turnover koperasinya: 88.97 Miliar USD, penyerapan tenaga kerjanya: 142,159 Tenaga Kerja, Crédit Agricole Group merupakan Koperasi Konsumen.

  1. REWE Group (Jerman)

Grup koperasi ritel dan pariwisata terdiversifikasi Jerman yang berbasis di Cologne, Jerman.  Nama REWE berasal dari “Revisionsverband der Westkauf-Genossenschaften”, yang berarti “Asosiasi Audit Koperasi Pembelian Barat”. Turnover koperasinya: 77,93 Miliar USD, penyerapan tenaga kerjanya: 256,162 Tenaga Kerja, REWE Group merupakan Koperasi Produsen.

  1. National Federation of Agricultural Cooperative Associations – ZEN-NOH (Jepang)

Federasi koperasi pertanian di Jepang. ZEN-NOH dibentuk pada tahun 1972 dengan bergabungnya grup ZENHANREN dan grup ZENKOREN. Grup ZEN-NOH bertanggung jawab atas bisnis pemasaran dan pasokan Grup JA, termasuk penjualan produk pertanian dan penyediaan bahan untuk digunakan dalam produksi pertanian. Turnover koperasinya: 57.69 Miliar USD, penyerapan tenaga kerjanya: 27,594 Tenaga Kerja, ZEN-NOH merupakan Koperasi Produsen.

  1. Nonghyup (National Agricultural Cooperative Federation – NACF) (Korea Selatan)

Federasi Koperasi Pertanian Nasional Korea Selatan didirikan pada tahun 1961 untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi anggotanya dan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi nasional yang seimbang. Perannya dibagi menjadi tiga bidang: pemasaran dan pasokan, perbankan dan asuransi, dan layanan penyuluhan. Turnover koperasinya: 44.81 Miliar USD, penyerapan tenaga kerjanya: 27,774   Tenaga Kerja, Nonghyup merupakan tipe Koperasi Produsen.

  1. Credit Union

Heddesdorfer Credit Union yang dibangun Reiffeisen, petani dan kaum buruh berkembang pesat di Jerman. Credit Union Sampai wafatnya Reiffeisen tahun 1988, terdapat 425 Credit Union di Jerman. Keberhasilan Heddesdorfer Credit Union atas 3 prinsip utama dalam menjalankan organisasi akhirnya menjadi prinsip dasar Credt Union:

  1. Azas Swadaya, modal dari simpanan hanya diperoleh dari anggotanya,
  2. Azas Setiakawan/solidaritas, Pinjaman hanya diberikan kepada anggotanya,
  3. Azas Pendidikan/penyadaran, membangun watak adalah yang utama, hanya yang berwatak baik yang diberikan pinjaman

CU berkembang ke seluruh dunia, Seorang wartawan Alphonse Desjardin pada awal abad ke-20 membawa CU ke Canada. Seorang saudagar kaya Edward Fillene membawa CU ke Amerika Serikat. Mary Gabriella Mulherim membawa ke Asia khususnya Korea. Pada tahun 1934, dibuat Undang-Undang tentang Credit Union pada masa pemerintahan Presiden F. D. Rosevelt. Kemudian gabungan Credit Union di Amerika Serikat (Credit Union National Association) membentuk Biro Pengembangan CU sedunia, yang diresmikan menjadi World Council of Credit Unions (WOCCU) pada 1971. Kantor pusatnya di Madison, Wiscounsin Amerika Serikat.

Laporan Statistik WOCCU tahun 2010: Terdapat di 100 negara; Jumlah 52.945; Anggotanya 187.986.967; Simpanan US$ 1,229,389,373,994; Pinjaman (US$) 960.089.324.649; Cadangan (US$) 131.659.476.973 dan Asetnya mencapai (US$) 1.460.551.666.291.

  1. Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

Keberpihakan dan konsistensi regulasi sangat fundamental dan penting dalam mendukung perekonomian suatu bangsa. Indonesia melalui Undang-Undang nomor 19 tahun 2013 telah menggulirkan Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Pasal 7, Pasal 12 dan Pasal 37-39 merupakan landasan untuk perlindungan dan pemberdayaan petani diantaranya adalah melalui Asuransi Pertanian. Landasan operasional berupa Peraturan Pemerintah dan regulasi dibawahnya serta koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu ditingkatkan sehingga cita-cita dari Undang-Undang tersebut dapat dinikmati oleh Petani Indonesia.

Momentum Kebangkitan Agro Industri Kelapa Sebagai Kekuatan Ekonomi Kerakyatan Melalui Koperasi barangkalai dapat mengisi butir kedua Asta Cita Kabinet Prabowo-Gibran di Kabinet Merah Putih, yaitu: Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru.

Indonesia Emas tahun 2025 sudah menggema dan banyak para pemangku kepentingan menyampaikan bahwa momentum ini menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia dari berbagai aspek untuk kemaslahatan Indonesia. Tahun 2025 tidak lama lagi, jika kebangkitan industri agro kelapa ini berhasil maka komoditi kelapa dapat menjadi andalan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi atau bisa juga disebut “Indonesia Feed the World”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini