Bapanas Respons Temuan Beras Bulog Tak Layak Konsumsi

0
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengusulkan anggaran sebesar Rp 16,10 triliun untuk tahun 2026
Kepala adan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi. Dok: Ist

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi merespons temuan beras cadangan beras pemerintah (CBP) yang tidak layak konsumsi di Gudang Bulog Maluku Utara baru-baru ini.

Menurut Arief beras yang disimpang di dalam gudang, apalagi terlalu lama, memang berpotensi mengalami penurunan mutu, sehingga kualitasnya menurun dan tidak layak untuk dikonsumsi bila tidak ditangani dengan tepat.

“Jadi, yang di Bulog itu namanya juga penyimpanan. Tentunya pasti ada juga yang turun mutu, karena juga ada beberapa yang memang sudah dari bawaan 2024,” kata Arief di Jakarta, Senin (29/9).

Arief menambahkan, Bapanas  berulang kali mengingatkan Perum Bulog untuk mempercepat penyaluran bantuan beras kepada masyarakat, sehingga tidak ada stok beras tersimpan lama di gudang.

“Bapanas selalu mengingatkan Dirut Bulog, para direksi untuk mempercepat pengeluaran (Beras). Karena di bulan Oktober, November, Desember, Januari, Februari, nature-nya memang barang Bulog itu dikeluarkan,” kata Arief.

Karena pada Maret dan April, Bulog akan mulai kembali melakukan penyerapan beras dari petani untuk disimpang di dalam gudang. “Jadi, ini harus di-refresh stock-nya juga,” katanya.

Atas temuan beras yang tidak layak tersebut, ia mengajak semua pihak membantu Bulog mempercepat distribusi bantuan beras kepada masyarakat. Pasalnya, masih ada 1 juta ton yang harus dikeluarkan sebelum pergantian tahun.

“Karena sudah kita rencanakan dari awal tahun sampai dengan akhir tahun itu 1,5 juta ton harus keluar. Ini masih ada 1 juta ton yang harus dikeluarkan,” kata Arief.

Bekas Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya menekankan perlunya mendukung Perum Bulog. Karena tidak mudah mengurus cadangan beras, apalagi dengan stok yang banyak saat ini.

“Jadi, sekali kita juga harus mendukung teman-teman di Bulog. Karena tidak mudah kan juga mengurus 1.600 beras dan ada yang di pelosok-pelosok,” katanya.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya Standar Operasional Prosedur (Standard Operating Procedure/SOP), seperti kadar air 14 persen untuk menjaga kualitas, memperpanjang daya simpan, dan mencegah kerusakan

“Kalau teman-teman di luar negeri kok bisa melakukan, kenapa kita nggak bisa? Jadi standarnya itu menurut SOP yang sudah dibuat. Nggak boleh kendor. Misal, kalau disebutkan kadar air 14 persen, ya 14 persen,” katanya.

SOP, ini lanjutnya, tidak bisa ditawar bila ingin kualitas berasnya tetap bagus. “Jadi, yang namanya standar adalah standar. Kalau mau baik. Dan itu saya rasa sudah dilaksanakan,” imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, menemukan kondisi beras CBP di Gudang Bulog Ternate, Maluku Utara, dalam keadaan buruk. 

Saat melakukan inspeksi mendadak pada Selasa (23/9), ia melihat tumpukan beras yang warnanya sudah berubah menjadi abu-abu. 

“Ini untuk mengecek kondisi beras yang ada di sini. Ternyata ini ada yang sudah setahun lebih. Jadi masuk ke sini Mei tahun 2024, masih ada 1.200 ton,” ujar Titiek, dikutip dari @dpr_ri, Senin (29/9).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini