Sejak diterbitkannya Undang-Undang No. 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, serta dioperasionalkan melalui Perpres Nomor 45 Tahun 2023, terbentuklah Badan Karantina Indonesia (Barantin) sebagai lembaga pemerintah non-kementerian.
Badan ini bertugas melaksanakan urusan pemerintahan di bidang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan serta mengintegrasikan tugas-tugas karantina dari instansi terkait sebelumnya.
Hingga saat ini, di bawah kepemimpinan Sahat Manaor Panggabean, Barantin telah berjalan selama dua tahun dengan sejumlah capaian kinerja yang signifikan pada tiga program utama, digitalisasi, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), dan revitalisasi laboratorium.
Di bidang digitalisasi, Barantin telah meluncurkan Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology) untuk memberikan pelayanan kepada publik.
Layanan ini memudahkan masyarakat atau pengguna jasa untuk mengurus dan mengajukan permohonan tindakan karantina di mana saja, tanpa harus datang ke kantor Karantina. Masyarakat juga dapat langsung memantau status permohonannya hingga terbitnya sertifikat kesehatan karantina secara elektronik.
Implementasi Best Trust juga berdampak pada efisiensi waktu dan biaya. Sebelumnya dwelling time layanan berkisar 4–6 hari, namun per September 2025 turun menjadi 2,61 hari, menunjukkan peningkatan layanan yang signifikan.
Di bidang sumber daya manusia (SDM), Badan Karantina Indonesia aktif menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi terkemuka untuk mengembangkan SDM, pendidikan, riset, dan penerapan teknologi di bidang karantina.
Di antara perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Hasanuddin (UNHAS), dan Universitas Sumatera Utara (USU).
Dalam program revitalisasi laboratorium, Barantin telah meningkatkan layanan melalui laboratorium berstandar internasional. Langkah ini penting agar produk komoditas Indonesia dapat diterima di pasar global, karena setiap produk ekspor harus memenuhi standar mutu dan keamanan yang ketat.
Langkah ini penting agar produk komoditas Indonesia dapat diterima di pasar internasional, maka semua produk komoditas yang dikirim/keluar dari Indonesia  harus memenuhi standar mutu dan keamanan yang ketat.
Untuk memastikan produk yang diekspor aman dan berkualitas, proses karantina dan pengujian laboratorium merupakan tahapan yang sangat penting.
Laboratorium karantina berperan dalam menjamin keamanan pangan dengan memastikan produk komoditas bebas dari kontaminan yang dapat membahayakan kesehatan manusia, sekaligus memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor agar produk tidak ditolak karena standar tidak terpenuhi.
Selain itu, laboratorium juga meningkatkan nilai jual produk dengan memberikan jaminan mutu dan keamanan, sehingga daya saing komoditas Indonesia di pasar global terus meningkat.
Kinerja Barantin
Barantin berperan aktif dalam menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan penyakit hewan, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), melalui berbagai kegiatan menjelang Iduladha, termasuk pemetaan kerawanan, kampanye vaksinasi, dan pengawasan lalu lintas hewan.
Selain itu, Barantin juga berkontribusi pada pendapatan negara melalui instalasi karantina (PNBP). Pada 2024, dari 53 unit kerja, tercatat 2.416.351 sertifikat dengan kontribusi sebesar Rp 408,27 miliar. Hingga 15 Oktober 2025, jumlah sertifikat yang diterbitkan mencapai 2.095.386, dengan pendapatan Rp 326,70 miliar, yang diperkirakan meningkat pada sisa tahun ini.
Dalam menjalankan tugasnya, Barantin juga melakukan tindakan pengawasan terhadap komoditas. Pada 2024, tindakan penolakan tercatat 2.118 kali dan pemusnahan 1.278 kali, sedangkan hingga pertengahan Oktober 2025, penolakan terjadi 2.005 kali dan pemusnahan 904 kali.
Untuk meningkatkan layanan ekspor, Barantin kini memungkinkan proses sertifikasi dilakukan langsung di daerah asal, seperti Yogyakarta, tanpa harus melalui Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta. Langkah ini mempercepat proses ekspor sekaligus menambah efisiensi dan nilai tambah bagi daerah.
Sebagai bagian dari upaya mendukung Asta Cita Prabowo dalam hilirisasi, Barantin secara intens menyelenggarakan Bimbingan Teknis (BIMtek) untuk meningkatkan kualitas ekspor, pengolahan produk komoditas, serta mendorong penyerapan lapangan kerja.
Terbaru, melalui program Go Ekspor, Barantin melepas ekspor 25.000 botol produk hilirisasi sarang burung walet (SBW) milik Realfood tujuan Vietnam, dengan nilai mencapai Rp 1 miliar. Biasanya, sarang burung walet diekspor masih dalam bentuk bahan mentah. Namun, berkat BIMtek, produk ini kini sudah diproses menjadi barang hilir siap ekspor, sehingga meningkatkan nilai jual sekaligus menciptakan lapangan kerja di pedesaan.
Barantin juga membuka akses ekspor untuk buah tropis, seperti durian ke Tiongkok, serta berupaya memperluas pasar untuk nanas dan wasabi segar ke Amerika Serikat, sebagai bagian dari fungsi ekonomi (economic tools) Badan Karantina Indonesia.
Penlis: Marihot Hamonangan P, Alumni Pasca Ketahanan Nasional Universitas Indonesia






























