
Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan, tidak ada impor beras medium yang masuk ke Indonesia. Seluruh kebutuhan beras medium nasional sudah dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Sesuai proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras sampai akhir tahun ini diperkirakan mencapai 34,79 juta ton. Dengan angka tersebut, Indonesia berada dalam kondisi surplus beras medium.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Moch Arief Cahyono menjelaskan, seluruh impor beras pada tahun ini merupakan bagian dari kebijakan beras khusus dan beras industri berbasis neraca komoditas.
Kebijakan tersebut memastikan bahwa hanya jenis beras yang tidak diproduksi dalam negeri atau dibutuhkan sebagai bahan baku industri yang dapat masuk.
“Yang perlu dipahami publik, tidak ada satu pun impor beras medium. Yang masuk hanya beras kebutuhan khusus, beras premium tertentu, dan beras industri. Tidak menyentuh konsumsi masyarakat umum,” tegas Arief.
Dia merinci, jenis beras yang masuk meliputi beras pecah 100 persen atau menir (HS 1006.40.90) sebagai bahan baku industri, beras kebutuhan khusus termasuk untuk penderita diabetes, serta beras khusus untuk restoran asing dan hotel.
Selain itu, terdapat varian khusus berkode HS 1006.30.99 seperti basmati, jasmine, dan japonica dengan tingkat kepecahan maksimal 5 persen yang memang tidak diproduksi di Indonesia.
Arief memastikan bahwa impor beras khusus tersebut tidak memengaruhi pasar beras medium dan tidak menekan harga gabah petani.
“Segmen industri harus berjalan, tetapi stabilitas pangan dan perlindungan petani tetap menjadi prioritas,” ujar dia.
Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartin menyampaikan, impor beras pada Oktober 2025 tercatat sebesar 40,7 ribu ton, sedangkan kumulatif Januari–Oktober 2025 mencapai 364,3 ribu ton dengan nilai 178,5 juta USD. Seluruhnya merupakan kategori beras khusus dan industri, bukan beras medium.
Pada saat yang sama, beras bahkan mengalami deflasi terdalam sepanjang tahun 2025 pada bulan November. Menurut BPS, beras mencatat deflasi 0,59 persen (month to month).
Deflasi tersebut dipicu oleh meningkatnya ketersediaan beras selama musim panen, penyesuaian harga antar kualitas, serta dampak penyaluran beras SPHP di berbagai pasar.
Arief turut mengapresiasi para petani Indonesia atas jerih payahnya sehingga produksi beras di dalam negeri mencukupi, bahkan surplus.
“Bersyukur tahun ini kebutuhan beras medium kita aman dari tangan petani dalam negeri dan sudah surplus. Produksi kita mencukupi, sehingga tidak ada alasan untuk impor beras medium. Petani tetap menjadi prioritas utama,” imbuh dia.





























