Mahasiswa UIN Bandung Temukan Cara Atasi Ganoderma pada Sawit

0
sawit dan olahnnya.
Buah kelapa sawit dan minyak hasil olahannya. (Foto: Shutterstock/Mercury Studio)

Tim mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. 

Mereka berhasil masuk dalam jajaran 40 tim terbaik dalam Lomba Riset Sawit Nasional 2025 berkat inovasi pengendalian penyakit busuk pangkal batang sawit yang disebabkan oleh Ganoderma boninense.

Tim yang dipimpin Raysha Trythatya Nurhaidha bersama tiga anggota lainnya, Nursyafira Asma Humaira, Ratmanuha Putri Mulyawan, dan Silmi Aulia Putri, melakukan riset untuk mengatasi penyakit busuk pangkal batang pada sawit. Mereka menggunakan dua metode, yaitu uji coba di laboratorium (in vitro) dan simulasi komputer (in silico).

Melalui pendekatan ini, mereka berupaya menemukan agen hayati, seperti mikroorganisme, yang bisa menghambat pertumbuhan jamur Ganoderma boninense secara efektif dan berkelanjutan.

“Inovasi ini penting karena Ganoderma merupakan penyakit kronis yang berdampak besar pada produktivitas sawit. Kami ingin menawarkan solusi berbasis riset ilmiah yang ramah lingkungan dan bisa diterapkan langsung di lapangan,” ujar Raysha seperti dikutip dari laman resmi uinsgd.ac.id.

Riset ini dibimbing langsung oleh Musa’adah, S.Si., M.Biotech, yang sejak awal 2025 telah mendampingi mahasiswa menyusun proposal dan mengikuti tahapan seleksi nasional yang digelar pada Maret lalu. Setelah melalui proses penilaian yang ketat, tim UIN Bandung resmi diumumkan sebagai pemenang pada Juli 2025.

Keberhasilan ini bukan hanya menempatkan nama UIN SGD Bandung di peta riset nasional, tapi juga memperkuat kontribusi kampus Islam dalam mendukung industri sawit berkelanjutan. Sebab, penyakit Ganoderma hingga kini masih menjadi tantangan besar bagi produktivitas sawit di Indonesia.

Dengan terpilihnya sebagai pemenang, tim UIN SGD Bandung mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan risetnya selama delapan bulan, mulai Agustus 2025 hingga April 2026. Fase lanjutan ini menjadi krusial untuk menguji efektivitas agen hayati yang ditemukan dan merancang strategi aplikatif bagi petani dan industri sawit.

Sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan generasi muda yang mampu menjawab tantangan nyata sektor ini. Kompetisi ini sendiri diselenggarakan untuk menjaring gagasan riset kreatif mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air. Total 40 tim dari berbagai universitas terkemuka dinobatkan sebagai pemenang dan akan melanjutkan proyek risetnya masing-masing.

Temuan mahasiswa UIN Bandung ini menjadi harapan baru dalam perang panjang melawan Ganoderma. Lebih dari sekadar prestasi akademik, mereka membawa pesan bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja, bahkan dari ruang laboratorium kecil di kaki Gunung Manglayang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini