Menghadap Prabowo, Mentan Amran Ungkap Anomali Harga TBS Sawit

0
Petani mengangkut tandan buah segar (tbs) sawit
Petani mengangkut tandan buah segar (TBS) sawit baru selesai dipanen menggunakan motor angkut. Dok: Ditjen Perkebunan

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya anomali pada harga tandan buah segar (TBS) sawit yang turun saat harga crude palm oil (CPO) dunia justru mengalami kenaikan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (18/6).

Menurut Mentan Amran, Prabowo secara langsung menanyakan penyebab penurunan harga TBS di tingkat petani. Padahal, harga CPO dunia sedang meningkat dan nilai tukar dolar AS juga menguat.

“TBS ini kami atas arahan Bapak Presiden, kami ditelepon beliau, disampaikan ‘Pak Mentan, kenapa terjadi penurunan?’. ‘Saya katakan kepada beliau ini anomali’,” ujar Mentan Amran.

Sebagai latar, harga TBS sawit tercatat mengalami penurunan di sejumlah sentra. Penurunan itu terjadi setelah Presiden pengumuman kebijakan tata kelola ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI).

Dalam kebijakan tersebut, terdapat tiga komoditas sumber daya alam (SDA) strategis yang diatur melalui skema ekspor satu pintu, yakni batu bara, minyak kelapa sawit, dan ferro alloy (paduan besi).

Kondisi ini kemudian diikuti penurunan aktivitas pembelian di sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di berbagai daerah, yang berdampak pada penurunan harga TBS di tingkat petani.

Pria Berdarah Bugis itu menegaskan kondisi tersebut tidak sejalan dengan perkembangan pasar komoditas global dan berdampak pada petani sawit di dalam negeri.

“Nah, ini anomali. Harga CPO dunia naik, dolar menguat kurang lebih 10 persen, harga CPO naik, tetapi harga TBS turun,” tegas Mentan Amran.

Ia mengatakan pemerintah telah mengumpulkan pelaku usaha sawit dari berbagai daerah untuk mencari solusi atas persoalan tersebut. Dari sekitar 1.900 PKS yang beroperasi di Indonesia, sebanyak 274 PKS sebelumnya tercatat belum menyesuaikan harga TBS sesuai kondisi pasar.

“Nah, ini kami minta jangan bermain-main, jangan korbankan rakyat. Ada petani plasma itu 15 juta dengan seluruh keluarganya diperkirakan 30 juta. Bapak Presiden mengarahkan agar kita berpihak pada petani-petani plasma sawit,” ujarnya.

Mentan Amran menyebut langkah pengawasan yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil. Dari 274 PKS yang sebelumnya belum menaikkan harga TBS, kini sekitar 90 persen telah melakukan penyesuaian.

“Dari 1.900 ada 274 yang minggu lalu belum menaikkan harga, sekarang sudah menaikkan. Yang masih belum ada kurang lebih 100 atau sekitar 5 sampai 10 persen,” katanya.

Untuk mempercepat penyesuaian harga, Kementerian Pertanian bahkan telah menyurati Kapolri agar persoalan tersebut ditindaklanjuti di daerah masing-masing.

“Kami langsung pada hari itu juga mengirim surat ke Pak Kapolri bahwa ini harus ditindaklanjuti. Dan langsung tembusan Kapolda di wilayah masing-masing serta Ditkrimsus untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Mentan Amran optimistis dalam satu pekan ke depan harga TBS akan kembali normal. Saat ini, menurutnya, harga TBS di tingkat petani sudah mulai membaik dan mendekati kondisi yang seharusnya.

“Alhamdulillah sekarang harga TBS sudah hampir normal, tinggal sedikit lagi. Kami yakin satu minggu ke depan itu sudah pulih kembali,” katanya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini