
Pemerintah melalui Badan Karantina Indonesia (Barantin) memperkuat mekanisme preborder karantina melalui diplomasi ke dua negara di Amerika Selatan, yakni Peru dan Cile.
Diplomasi dalam bentuk kunjungan kerja ini dilaksanakan sebagai bentuk pelindungan sumber daya alam hayati Indonesia dari ancaman hama penyakit hewan karantina (HPHK), hama penyakit hewan ikan (HPIK), dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK).
“Penerapan sistem preborder karantina sangat penting untuk menjamin bahwa kesehatan, keamanan, dan mutu komoditas pangan telah terjamin di negara asal sebelum masuk ke wilayah Indonesia,” ujar Kepala Barantin Sahat M. Panggabean dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (5/8).
Langkah ini juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
Sahat menjelaskan, kegiatan strategis delegasi Republik Indonesia (Delri) pada akhir bulan lalu ke dua negara tersebut, 23 hingga 29 Juli, di antaranya untuk melakukan verifikasi lapangan terhadap sistem pengelolaan dan mitigasi risiko OPT di kebun dan rumah kemas bluberi serta lemon segar.
Selain itu, Barantin juga melakukan pengkajian sistem keamanan pangan, kesehatan, dan ketertelusuran ( traceability ) bluberi di Peru dan lemon segar di Cile.
“Verifikasi lapangan dan pengkajian ini merupakan bagian dari penguatan sistem preborder karantina di negara asal. Kami harus memastikan prosesnya sesuai dengan protokol yang disepakati kedua negara dan jelas ketertelusurannya sebelum masuk ke wilayah negara Indonesia. Selain memperlancar arus perdagangan global, langkah strategis ini juga krusial untuk memperkuat biosekuriti dan mewujudkan ketahanan pangan, sehingga negara Indonesia berdaulat pangan,” jelas Sahat.
Sahat mengatakan bahwa Indonesia tidak hanya menerima pemasukan komoditas, tetapi juga turut menentukan standar global, melalui bargaining position (upaya diplomasi dan negosiasi). Kemudian, kesepakatan antarnegara dengan tujuan saling menjaga keamanan sumber daya alam hayati ini tertuang dalam protokol ekspor.Â
Barantin dan otoritas karantina di negara setempat melakukan penandatanganan protokol fitosanitari, yaitu protokol ekspor bluberi segar Peru ke Indonesia antara Barantin dan Senasa Peru (Servicio Nacional de Sanidad Agratia del Peru) serta protokol ekspor lemon segar Cile ke Indonesia antara Barantin dan Servicio Agricola y Ganadero (SAG) Cile.Â
Sebagai payung kerja sama, juga dilaksanakan penandatangan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) di bidang penguatan sanitari dan fitosanitari (SPS) serta sertifikasi bilateral, antara Barantin dan Senasa.
“Penandatanganan MoU ini bukan sekadar dokumen, melainkan langkah nyata menuju harmonisasi tindakan karantina, pertukaran regulasi SPS, dan percepatan pengeluaran barang di perbatasan (border). Visi yang kuat ini untuk menjadikan mekanisme preborder sebagai garda terdepan dalam perdagangan bebas yang aman dan berbasis ilmu pengetahuan,” ungkap Sahat.
Dokumen kerja sama berupa MoU dan protokol yang telah ditandatangani, akan menjadi bahan posisi deliverables capaian hubungan bilateral dalam kunjungan kenegaraan Presiden Peru ke Indonesia pada bulan Agustus ini dan Presiden Cile ke Indonesia pada bulan Oktober atau November mendatang.Â
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Barantin dan delri yang terdiri dari Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Bambang, dan Direktur Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan Aprida Christin, juga turut menghadiri acara peringatan The Farmer’s Day (DÃa de las Campesinas y Campesinos) yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan La Moneda, Santiago, Cile pada tanggal 29 Juli 2025.
Perayaan tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Cile, Gabriel Boric, serta dihadiri oleh pejabat tinggi Pemerintah Cile, sektor pelaku usaha, serta perwakilan petani dari seluruh wilayah Cile.
“Kami sangat berterima kasih pada perwakilan negara Indonesia yang telah hadir secara langsung di Cile, guna membuka akses pasar lemon segar Cile ke Indonesia. Indonesia merupakan negara yang sangat besar dan saya harapkan kerja sama perdagangan antarnegara dapat terus ditingkatkan,” ujar Presiden Boric.Â





























