Starbucks Siapkan Satu Juta Bibit Berkualitas untuk Peremajaan Kebun Kopi

0
Biji kopi berwarna merah siap untuk dipanen. Dok: PTPN

Starbucks akan mendistribusikan satu juta bibit kopi berkualitas tinggi untuk mengganti tanaman yang sudah tidak produktif di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk Aceh, Bali, Pusat Tenggara Timur, Sumatera Bentara, dan Sulawesi Selatan.

Program ini merupakan salah satu dari empat program utama dalam TEKAD (Tani, Ekspor, Kopi, Ajar, dan Dana) yang dijalankan Starbucks bersama Kementerian Pertanian, sebagaimana tertuang dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang baru ditandatangani.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Plt. Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun) Abdul Roni Angkat dan General Manager Starbucks Farmer Support Center, Masyitah Daud, di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Selasa (2/12).

“Dengan kemitraan ini, kami menargetkan untuk mendistribusikan satu juta bibit kopi dan bibit kopi yang berkualitas tinggi untuk penanaman pembaharuan tanaman,” kata Masyitah.

Dia menjelaskan, bibit-bibit tersebut dipilih karena memiliki ketahanan terhadap penyakit dan kekeringan, serta mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil panen.

“Bibit ini dapat digunakan untuk menggantikan kopi yang baru dan pohon-pohon kopi tua yang saat ini berproduksi rendah, serta untuk membantu menjamin kelangsungan petani yang jangka panjang,” ujar Masyitah.

Program lainnya adalah pelatihan bagi 200 pelatih agronomi Indonesia untuk memperluas praktik budidaya kopi berkelanjutan. 

Setiap pelatih nantinya akan membimbing sekitar 75 petani per tahun, sehingga skema ini diproyeksikan mampu membantu sedikitnya 15.000 petani dalam mengadopsi teknik agronomi terbaru yang dikembangkan Starbucks.

“Program ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas industri kopi Indonesia dengan mengintegrasikan keahlian kopi Starbucks dengan pengalaman dan kompetensi berbagai lembaga lainnya,” ujar dia.

Selain itu, Starbucks juga akan penyediaan 20 set peralatan penggilingan kopi hemat air di berbagai wilayah penghasil kopi. Inisiatif ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses pascapanen dengan mengurangi penggunaan air bersih serta menekan limbah cair, terutama pada musim kemarau. 

“Selain itu, teknologi ini membantu meningkatkan kualitas biji kopi olahan sehingga nilai jual dan kesiapan ekspornya semakin tinggi,” sambung dia.

Lantas ada juga program percontohan pengendalian hama ramah lingkungan di 500 kebun kopi di Aceh.  Melalui program ini, Starbucks memperkenalkan Beauveria bassiana, agen hayati alami yang efektif melawan penggerek buah kopi, salah satu hama paling merusak dalam produksi kopi. 

Pendekatan biologis ini terbukti mampu menekan tingkat serangan hama dan meningkatkan hasil panen secara signifikan.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini