Jakarta — Di dunia sertifikasi, kepercayaan adalah mata uang paling mahal. Ia tidak dibangun dengan suara keras atau ekspansi agresif, melainkan dengan kesabaran, disiplin, dan konsistensi pada prosedur. Prinsip itulah yang selama lebih dari satu dekade dijaga Rismansyah Danasaputra di PT Mutu Indonesia Berjaya (MISB). Tahun 2025 menjadi penanda akhir sebuah perjalanan panjang.
Rismansyah, Direktur Sertifikasi Lembaga Sertifikasi MISB, memilih mengundurkan diri. Bukan karena konflik atau kegagalan, melainkan karena kesehatan. “Sebenarnya saya tidak menginginkan berhenti. Tapi ada fase dalam hidup ketika kita harus tahu kapan menyerahkan tongkat kepemimpinan,” ujarnya pelan dalam acara Ramah tamah Graha BUN Group di Mes SDM Pertanian Pasar Minggu Jakarta, 5/1/2026.
Rismansyah bergabung dengan MISB pada 2014. Saat itu, MISB belum seperti sekarang. Lembaga ini baru dirintis oleh empat orang: Achmad Mangga Barani, Supriyadi, Azril Bahri dan Ema. Skala kecil, sumber daya masih terbatas, dan belum memiliki sertifikasi unggulan yang kuat. Namun di situlah Rismansyah melihat peluang—bukan peluang bisnis semata, melainkan peluang membangun sistem sertifikasi.
Sebelum ke MISB, Rismansyah berkiprah di Minamas Plantation, –sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Ia juga lama berkarier di Kementerian Pertanian, mulai dari Ditjen PPHP, Perkebunan, hingga menjadi Direktur Tanaman Tahunan. Hubungannya dengan Achmad Mangga Barani terjalin sejak sama-sama menjadi pejabat eselon. “Kami punya kesamaan visi. Sertifikasi itu bukan jalan pintas cari untung,” kata Rismansyah. “Ia harus berdiri di atas integritas.”
Tak lama setelah bergabung, Rismansyah mengusulkan langkah strategis yang kelak menentukan arah MISB: membangun skema Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Saat itu, ISPO belum menjadi arus utama. Banyak lembaga sertifikasi ragu karena tuntutannya berat, dari sisi teknis, hukum, hingga tata kelola.

Namun Rismansyah melihat ISPO sebagai keniscayaan. “Sawit akan terus disorot. Kalau sertifikasinya tidak kuat, kita sendiri yang akan kehilangan legitimasi,” ujarnya. Usulan itu diterima. Sejak saat itu, MISB perlahan menata diri: menyiapkan auditor, membangun sistem mutu, dan menyesuaikan diri dengan standar Komite Akreditasi Nasional (KAN).
Prosesnya panjang. Baru akhirnya, MISB memperoleh akreditasi ISPO. Sejarah pun tercipta: MISB menjadi Lembaga Sertifikasi ISPO pertama dengan nomor akreditasi pertama. Bagi Rismansyah, pencapaian itu bukan sekadar kebanggaan institusi, melainkan bukti bahwa pendekatan disiplin bisa menang melawan godaan jalan pintas.
“Aturannya jelas. KAN mewajibkan witness minimal dua tahun sekali dan surveilans setiap lima tahun,” katanya. “Kami memilih patuh penuh. Sertifikasi itu soal kepercayaan publik.”
Pendekatan itu berimbas pada laju pertumbuhan MISB. Hingga 2025, tercatat 209 perusahaan telah disertifikasi MISB. Angka yang relatif moderat dibanding potensi pasar sawit nasional. Namun Rismansyah tak pernah mempersoalkannya. “Sebenarnya bisa lebih banyak,” katanya. “Tapi auditor kita terbatas. Kami tidak memaksakan audit. Kualitas lebih penting daripada kuantitas.”
Selain ISPO, MISB juga mengelola sertifikasi umrah dan hotel. Namun sektor itu tidak berkembang signifikan. Menurut Rismansyah, pasar dan kebutuhan regulasinya tidak sekuat ISPO. Ke depan, ia melihat peluang justru terbuka di sektor hilir. “Sertifikasi produk dan hilirisasi akan lebih cerah. Termasuk kemungkinan sertifikasi halal,” ujarnya.
Di balik disiplin profesional itu, Rismansyah dikenal sebagai figur yang keras sekaligus hangat. Ia tak menampik kerap marah. “Saya sering tegas. Kadang emosional,” katanya. “Tapi di hati saya tidak pernah ada maksud buruk. Semua untuk kemajuan bersama.”
Bagi Rismansyah, MISB bukan sekadar tempat kerja. Ia menyebutnya rumah. “Ada rasa kekeluargaan. Kebersamaan itu nyata,” katanya. Ia bahkan menyebut para pegawai di lantai tiga kantor MISB sebagai “anak-anak saya”. Dalam budaya kerja yang ia bangun, loyalitas dibalas dengan perlindungan, dan disiplin dibarengi kepedulian.
Achmad Mangga Barani, Komisaris Utama MISB, mengamini hal itu. Ia menyebut Rismansyah sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan lembaga. “Pak Risman masuk 2014 dan ikut membesarkan MISB sampai seperti sekarang,” kata Mangga. “Selama beliau memegang, MISB tidak pernah rugi dan selalu memberikan bonus dua kali gaji.”
Tahun ini pun, meski terjadi transisi kepemimpinan, MISB tetap mencatatkan laba. Bonus tetap diberikan hingga dua/tiga kali gaji. Menurut Mangga, itu bukan kebetulan, melainkan hasil sistem yang dibangun konsisten selama bertahun-tahun.
Tongkat estafet kini berpindah ke Adil Ahmad, Direktur Utama MISB periode 2022–2026. Dalam sambutannya, Adil menyampaikan rasa hormat kepada Rismansyah. “Beliau meninggalkan standar yang tinggi. Ini hal yang besar,” katanya. “Apa yang dirintis Pak Risman adalah fondasi bagi kami, dan harus diteruskan.”
Adil mengakui MISB memiliki karakter berbeda dibanding lembaga sertifikasi lain. Di bawah Achmad Mangga Barani, MISB tak hanya mengejar profit, tetapi juga menempatkan pengabdian dan nilai sosial sebagai bagian dari filosofi bisnis. “Filosofi itu tetap kami jalankan,” ujarnya. “Namun tentu tanpa melupakan tujuan perusahaan untuk tetap sehat secara finansial.”
Ke depan, tantangan MISB tidak ringan. Kebijakan pemerintah terkait penertiban kebun sawit di kawasan hutan menjadi ujian serius bagi ISPO. Lebih dari tiga juta hektare lahan sawit disebut telah diambil alih negara. “Harus ada keputusan hukum yang jelas agar lahan itu legal dan bisa disertifikasi,” kata Mangga.
Ia juga menyinggung stigma terhadap sawit yang kerap dianggap sebagai penyebab banjir. “Kalau ada banjir, pasti ada sebabnya. Tidak bisa disederhanakan,” ujarnya. Di sisi lain, regulasi Kementerian Pertanian yang dulu hanya berupa lampiran kini berubah menjadi pasal-pasal mengikat, menambah beban kepatuhan bagi pelaku usaha.
Dalam situasi itu, pengalaman Rismansyah dinilai tetap relevan. Mangga bahkan menegaskan, jika ada kesulitan teknis atau kebijakan, pimpinan baru tetap bisa berkonsultasi. “Pengalaman Pak Risman harus dimanfaatkan untuk kemajuan bersama,” katanya.
Rismansyah sendiri tak menuntut apa pun saat mundur. Ia hanya menitipkan satu hal: sistem. “Yang penting sistem yang ada tetap berjalan dengan baik,” katanya. “Siapa pun pemimpinnya, itu urusan kedua.”
Di dunia yang kerap terobsesi pada figur, Rismansyah memilih meninggalkan sesuatu yang lebih sunyi: tata kelola. Ia pergi bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan keyakinan bahwa mutu—seperti kepercayaan—akan tetap hidup jika dirawat, bukan dipamerkan.




























