
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah menyiapkan bantuan khusus bagi anak-anak yatim korban bencana longsor di Desa Pasi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Amran mengatakan, berdasarkan pendataan di lapangan, terdapat 15 anak yang orang tuanya meninggal dunia akibat bencana tersebut. Mereka mendapatkan beasiswa pendidikan dan bantuan dari pemerintah.
“Dan ada anak yatim, 15 orang. Kami memberikan beasiswa, totalnya kurang lebih, dan bantuan 1 miliar. Kemudian untuk anak yatim, insyaallah kalau punya lahan, ada lahan kosong,” kata Amran di saat ditemui di Cilandak, Jakarta, Rabu (28/1).
Selain beasiswa dan bantuan dana, lanjut dia, pemerintah juga menyiapkan program jangka panjang berupa pembangunan kebun seluas 5 hingga 10 hektare, jika tersedia lahan.
“Kemudian untuk anak yatim, insyaallah kalau punya lahan, ada lahan kosong untuk masa depannya, kita akan bantu bangun kebun 5 hektare, 10 hektare. Itu bisa dipakai sekolah nanti sampai perguruan tinggi. Dan itu yang tanggung biayanya dari pemerintah,” ujar Amran.
Untuk pembangunan kebun tersebut, tokoh asal Sulawesi Selatan itu mengatakan pemerintah akan dibantu oleh Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
“Untuk pembangunan kebun, kami terima kasih Pak Panglima bisa berkontribusi kalaupun itu seadanya.
Tetapi bukan itu, ini bentuk kepedulian kita. Inilah kebersamaan kita di saat saudara kita kena musibah,” ungkap Amran.
Seperti diketahui terdapat 23 marinir yang jadi korban longsor di Desa Pasi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, korban meninggal dunia, 19 lagi dinyatakan hilang.
Seperti diketahui, terdapat 23 prajurit Marinir yang menjadi korban longsor di Desa Pasi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, sebagian dinyatakan meninggal dunia, sementara 19 lainnya masih dinyatakan hilang.
Amran menyampaikan duka cita mendalam atas musibah tersebut dan mendoakan para prajurit yang gugur.
“Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya kepada saudara-saudara kita yang gugur. Mudah-mudahan beliau semua syahid karena gugur dalam tugas,” ujar Amran.
Ia kemudian mengenang pengalamannya sebagai anak prajurit pada tahun 1976–1977. Saat itu, ayahnya masih berpangkat perwira rendah dan ditugaskan ke wilayah timur Indonesia.
“Waktu kami masih SD, kami anak-anak prajurit. Kami bergembira menjemput kepulangan pasukan. Tapi ternyata, di antara teman-teman saya, banyak ayahnya tidak pulang. Gugur di medan tugas, di wilayah timur, termasuk di Biryam Barat,” kenang dia.
Pengalaman tersebut, kata Amran, membekas hingga kini. Karena itu, begitu mendengar kabar musibah longsor yang menimpa prajurit Marinir, dia langsung turun ke lapangan.
“Kalaupun bantuan yang kami bawa seadanya, yang terpenting adalah kepedulian. Ini bentuk kebersamaan kita. Bukan hanya dalam suka, tapi juga dalam duka kita harus saling membantu. Minimal, kita kirimkan doa untuk saudara-saudara kita,” imbuh dia.





























