Optimistis Hadapi Tantangan: Tiga Strategi GAPKI Menavigasi Masa Depan

0

Di sebuah ruang konferensi di Nusa Dua, Bali, hawa dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma kopi yang disajikan para pramusaji. Di depan layar besar bertuliskan 21st Indonesia Palm Oil Conference, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, berdiri tenang di podium. Suaranya jernih, tapi nadanya berlapis antara keyakinan dan peringatan. “Kita tak sedang dalam masa mudah,” katanya, Kamis siang, 13 November 2025. “Namun di tengah kompleksitas, selalu ada ruang bagi pertumbuhan.”

Ucapan itu disambut tepuk tangan panjang dari ratusan pelaku industri sawit yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Di balik layar presentasi, angka-angka berkilau. Produksi minyak sawit nasional per September 2025 mencapai 43 juta ton, naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor—mulai dari CPO, oleokimia, hingga biodiesel—menembus 25 juta ton, dengan nilai US$27,3 miliar, melonjak 40 persen dari tahun lalu. “Sinyal yang membuat kita optimistis,” ujar Eddy, “tapi juga jadi wake-up call bahwa strategi baru harus segera diterapkan.”

Industri sawit, yang selama dua dekade terakhir menjadi tumpuan ekspor dan penyerap tenaga kerja, kini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia berubah cepat. Perdagangan global kian rumit. Standar lingkungan dan tata kelola berkelanjutan jadi syarat masuk pasar utama seperti Eropa dan Amerika Utara. Di dalam negeri, kebijakan energi dan stabilitas regulasi kerap berubah arah mengikuti dinamika politik dan harga minyak dunia.

Eddy menatap realitas itu dengan cara berbeda. Bagi dia, tantangan justru ruang untuk menavigasi ulang masa depan sawit Indonesia. Tema konferensi tahun ini—Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy and Global Trade—bukan sekadar jargon. “Kita perlu menata ulang arah, dari cara kita berdagang, mengelola industri, sampai bagaimana kita berperan dalam transformasi energi,” katanya.

Ia mulai dari soal perdagangan global. Di satu sisi, ada kabar baik: perjanjian ekonomi Indonesia-Uni Eropa, IEU CEPA, membuka peluang besar bagi ekspor sawit Indonesia menembus pasar Eropa dengan tarif yang lebih kompetitif. Tapi di sisi lain, muncul bayang-bayang regulasi baru: European Union Deforestation Regulation (EUDR). Bagi sebagian pelaku industri, EUDR dianggap sebagai hambatan dagang yang berbalut isu lingkungan. Namun Eddy memilih pandangan lain. “EUDR bukan sekadar ancaman,” ujarnya. “Ia adalah cermin. Ia menantang kita membangun sistem yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.”

Bagi GAPKI, strategi itu berarti memperkuat data, menegakkan jejak rantai pasok, dan memastikan praktik perkebunan memenuhi standar global tanpa kehilangan kedaulatan nasional. “Kita luruskan informasi yang keliru, dengan data dan fakta yang sebenarnya,” katanya.

Dari soal dagang, Eddy berpindah ke ranah yang lebih dalam: tata kelola. Ia menyebut sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai jantung dari upaya memperkuat kredibilitas sawit Indonesia. “ISPO jangan hanya jadi simbol di kertas,” katanya. “Ia harus jadi standar emas dunia, produk kebanggaan anak bangsa.” Di kursi audiens, para peserta mengangguk kecil—mereka tahu betul, citra sawit Indonesia di pasar global masih kerap diterpa kampanye negatif.

Bagi Eddy, memperbaiki rumah sendiri adalah langkah pertama sebelum bicara ke dunia luar. Dan rumah itu, katanya, bukan hanya perusahaan besar, tapi juga para petani kecil yang menjadi tulang punggung industri ini. GAPKI, setiap tahun, memberi penghargaan bagi koperasi petani paling produktif. Tahun ini, gelar itu jatuh pada koperasi di Kutai Timur, Kalimantan Timur, dengan produktivitas 37,4 ton tandan buah segar per hektare—angka yang melampaui rata-rata nasional. “Mereka membuktikan bahwa petani kecil pun bisa menjadi teladan,” kata Eddy.

Optimisme itu meluas ke generasi muda. Dalam forum yang sama, GAPKI memamerkan semangat digital anak muda lewat Hackathon Sawit Nasional 2025. Sebanyak 139 tim mahasiswa dari 35 universitas di seluruh Indonesia adu ide untuk masa depan industri. Pemenangnya, Tim BiFlow dari ITS Surabaya, menciptakan teknologi RAPIDS—sistem pendeteksi dini penyakit Ganoderma boninense menggunakan radar non-invasif dan pembelajaran mesin. “Inovasi ini akan mengubah cara kita menjaga pohon sawit,” kata Eddy.

Namun, strategi GAPKI tak berhenti di situ. Eddy mengumumkan peluncuran Konsorsium Elaeidobius, kolaborasi antara GAPKI, Kementerian Pertanian, PT Riset Perkebunan Nusantara, BPDPKS, dan sejumlah lembaga riset. Mereka bekerja sama dengan Institut Penelitian Pertanian Tanzania (TARI) untuk memperkuat populasi serangga penyerbuk alami, Elaeidobius. “Dengan penyerbukan yang lebih efisien, hasil panen bisa meningkat signifikan,” ujarnya.

Di tengah sorotan lampu dan layar LED, suasana konferensi itu sesekali berubah hening ketika Eddy berbicara tentang masa depan energi. Ia memuji kebijakan B35 dan B40, langkah pemerintah yang mendorong pemanfaatan biodiesel berbasis sawit. “Kebijakan ini menciptakan permintaan domestik yang kuat, mengurangi emisi, dan memberi harapan bagi petani,” katanya. Tapi ia juga mengingatkan: agar fondasi ini tak rapuh, sinergi antara industri dan pemerintah harus dijaga. “Kita butuh regulasi yang stabil dan bisa diprediksi. Tanpa kepastian hukum, mesin pertumbuhan tak akan bergerak harmonis.”

Menjelang akhir sambutannya, suara Eddy melunak. Ia berbicara bukan lagi sebagai ketua asosiasi, tapi sebagai bagian dari perjalanan panjang sawit Indonesia. “Kita lahir dari tanah yang sama, bekerja di bawah matahari yang sama, dan punya tanggung jawab yang sama,” ujarnya. “Tantangan boleh datang dari mana saja, tapi masa depan sawit Indonesia harus ditentukan oleh kita sendiri.”

Tepuk tangan kembali bergema. Di luar ruangan, cahaya sore Bali mulai menembus kaca, memantul di logo GAPKI di backdrop panggung. Di situ, optimisme terasa bukan sebagai slogan, tapi sebagai energi yang nyata. Industri sawit Indonesia, setelah melewati badai kampanye hitam, fluktuasi harga, dan pergulatan regulasi, kini menyiapkan babak baru—lebih tangguh, lebih berdaulat, dan lebih berkelanjutan. Seperti kata Eddy di penghujung pidato, “Kita tak sekadar menavigasi kompleksitas. Kita sedang menulis ulang masa depan.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini