Wamentan Sudaryono Dukung Tata Niaga Satu Pintu Gula Rafinasi melalui BUMN

0
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4).

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mendukung tata niaga gula rafinasi satu pintu melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mencegah kebocoran ke pasar konsumsi.

Menurutnya, kebijakan tersebut penting di tengah paradoks gula nasional, di mana Indonesia masih mengimpor gula, sementara produksi petani dalam negeri justru tidak terserap pasar.

“Intinya swasembada gula itu banyak menanam, banyak panen, dan banyak produksi. Tapi yang terjadi sekarang paradoks, kita masih impor gula sementara gula hasil petani justru tidak laku,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (8/4).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipicu oleh membanjirnya gula rafinasi ke pasar konsumsi, yang seharusnya diperuntukkan bagi kebutuhan industri. Hal ini menyebabkan harga gula petani menjadi tidak kompetitif dan menurunkan semangat petani untuk menanam tebu.

“Kalau impor gula dibatasi, seharusnya gula petani laris. Tapi kenyataannya tidak, karena ada kebocoran dari gula rafinasi ke pasar rumah tangga. Ini yang harus kita benahi bersama,” tegasnya.

Untuk itu, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini menilai penguatan sektor hilir menjadi kunci, termasuk melalui pengawasan distribusi gula rafinasi agar tidak masuk ke pasar konsumsi.

“Kalau distribusi diatur satu pintu melalui BUMN, kita bisa memastikan gula rafinasi tidak membanjiri pasar konsumsi. Ini penting untuk melindungi petani,” ujarnya.

Di sisi hulu, Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong peningkatan produksi tebu melalui berbagai program, salah satunya bongkar ratoon dengan anggaran mencapai Rp2,5 triliun untuk meningkatkan produktivitas.

Selain itu, Sudaryono menambahkan, Kementan juga memberikan dukungan berupa subsidi pupuk, alat dan mesin pertanian, serta perluasan areal tanam yang ditargetkan mencapai 200 ribu hektare.

Dengan total intervensi yang diperkirakan mencapai Rp 4 triliun, pemerintah menargetkan peningkatan produksi gula nasional hingga 1 juta ton.

“Kalau kebocoran di hilir bisa kita tutup, maka investasi Rp 4 triliun itu bisa menghasilkan tambahan 1 juta ton gula. Dengan asumsi harga Rp 17 ribu per kilogram, potensi nilai tambah yang dihasilkan bisa mencapai Rp17 triliun,” jelasnya.

Ia menambahkan, peningkatan produksi dalam negeri tidak hanya berdampak pada pengurangan impor, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk peningkatan kesejahteraan petani dan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Substitusi impor itu penting. Impor memang bukan hal yang ideal, tapi kalau bisa kita gantikan dengan produksi dalam negeri, itu jauh lebih baik. Selain meningkatkan pendapatan petani, juga memperkuat ekonomi nasional,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Kementan siap menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada pangan, termasuk komoditas gula, melalui kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini