
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan, pemerintah menyiapkan anggaran Rp 5 triliun untuk membangun 100 gudang baru milik Perum Bulog. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan stok beras nasional yang terus meningkat.
Demikian disampaikan setelah rapat koordinasi dengan kementerian/lembaga yang membahas Pembangunan Infrastruktur Pascapanen, Penyesuaian Harga Acuan Penjualan/Pembelian (HAP), dan tata kelaloh minyak goreng, Jakarta, Rabu (22/4).
Zulhas menyebut, stok beras pemerintah di gudang Bulog saat ini telah mencapai 4,9 juta ton. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan produksi yang didorong kebijakan pertanian, termasuk program pompanisasi yang digencarkan Menteri Pertanian.
“Sekarang gudang Bulog isinya sudah 4,9 juta. Ini Pak Mentan (Andi Amran Sulaiman) ini kerjanya kencang soalnya ya. Oleh karena itu, kita kewalahan mengenai gudang,” ujar Zulhas.
Bekas Menteri Perdagangan (Mendag) itu menambahkan, Instruksi Presiden (Inpres) dan Peraturan Presiden (Perpres) untuk pembangunan 100 gudang tersebut sudah keluar.
“Oleh karena itu sudah keluar Inpres ya? Inpres kan ya, dananya sudah ada lama tapi Inpres sudah jadi dan sudah Perpres sudah jadi sudah sampai 2 minggu kita kerja cepat akan dibangun 100 titik gudang Bulog yang baru untuk mendukung apa namanya stok beras yang terus-menerus meningkat,” katanya.
Tak hanya menambah kapasitas, gudang baru ini juga akan dilengkapi teknologi modern yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional. Teknologi tersebut memungkinkan beras disimpan dengan daya tahan hingga dua tahun.
“Seratus unit sudah kita putuskan tadi anggaran totalnya Rp 5 triliun ya. Dan ini gudangnya ini sesuai dengan perkembangan teknologi kemarin kepala BRIN itu mengatakan ini bisa 2 tahun,” katanya.
Selain itu, Zulhas juga menyoroti kenaikan harga Minyakita yang belakangan terjadi di pasar. Ia menjelaskan, Minyakita pada dasarnya merupakan minyak goreng curah yang dikemas agar lebih higienis dan ditujukan untuk pasar tradisional.
Namun, tingginya permintaan dari berbagai segmen, termasuk ritel modern dan program bantuan pangan, membuat pasokan di pasar tradisional berkurang.
“Minyakita ini terlalu populer, semua orang beli, baik di mal maupun ritel modern, sehingga tidak cukup,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, salah satu penyebab utama kenaikan harga adalah penyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng kepada 33 juta penerima selama dua bulan, masing-masing 2 liter, yang menggunakan Minyakita.
Akibatnya, pasokan yang seharusnya tersedia di pasar tradisional terserap ke program bantuan tersebut.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah memutuskan agar distribusi Minyakita difokuskan kembali ke pasar tradisional di sekitar 500 kabupaten/kota. Sementara itu, untuk program bantuan pangan ke depan, pemerintah akan menggunakan berbagai merek minyak goreng lain dengan harga yang sama melalui kerja sama dengan produsen.
“Nah sekarang kita sudah rubah bantuan pangan nanti kita akan pakai merek apa saja dengan harga yang sama tentu kita akan minta kepada produsen sehingga MinyakKita tidak terganggu di pasarnya,” imbuhnya.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap pasokan Minyakita kembali stabil dan tidak memicu kenaikan harga di pasar.




























