
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyebut ketegangan geopolitik akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran justru menjadi berkah bagi ekspor Indonesia. Ia mencatat terjadi lonjakan ekspor pertanian.
“Nah, ini kita manfaatkan, kita ada naik ekspor kita 167 triliun, dan itu data BPS, bukan data pertanian. Impor kita menurun kurang lebih nilainya Rp 41 triliun, jadi kita dapat keuntungan 200 triliun,” jelas Mentan Amran saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Rabu (22/4).
Kontributor utama dari kinerja tersebut berasal dari komoditas perkebunan, terutama minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), yang mencatatkan peningkatan signifikan.
Ia menegaskan peningkatan ekspor CPO terjadi hampir ke seluruh negara tujuan. Volume ekspornya, kata Mentan Amran, berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), tercatat mencapai sekitar 6 juta ton.
Peningkatan ini didorong oleh membaiknya harga CPO di pasar global, yang mendorong petani meningkatkan pemupukan, perawatan, hingga produktivitas panen.
“Luar biasa, karena harga dunia baik, sehingga petani memupuk dengan baik, memelihara dengan baik, memanen dengan baik,” ujarnya.
Menanggapi potensi penurunan impor CPO oleh negara-negara Eropa, tokoh asal Sulawesi Selatan itu menegaskan hal tersebut tidak menjadi masalah karena pemerintah Indonesia akan mengembangkan program B50.
“Sekarang justru ekspor kita naik. Ekspor kita justru ekspor kita naik. Dan tidak ada masalah, kenapa? Kita akan masuk B50. B50 itu membutuhkan CPO kurang lebih 5 juta ton,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga tengah mengembangkan inovasi pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar setara bensin. Kajian tersebut dilakukan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan ditindaklanjuti melalui kerja sama dengan PTPN dalam skala kecil.
“Ada yang menarik, kemarin ini kita uji coba, itu bisa jadi gasoline, pengganti bensin. Itu dikaji oleh ITS, kami langsung tanda tangan MoU dengan PTPN, tindak lanjuti skala kecil dulu. Kalau ini berhasil, kita akan tingkatkan lebih besar,” tegasnya.
Selain ekspor perkebunan, peluang juga datang dari komoditas pupuk. Mentan Amran mengungkapkan tingginya permintaan pupuk urea dari sejumlah negara. Kondisi ini dipicu ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang mengganggu pasokan energi dan bahan baku pupuk global.
Ia menyebut India secara langsung mengajukan permintaan sebesar 500 ribu ton. Selain itu, Australia, Filipina, dan Brasil juga mengajukan permintaan untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia.
“Produksi kita sekarang 7,8 juta ton, kita kebutuhan negeri kurang lebih 6 juta ton. Nah, kita kemungkinannya kita lepas 1 juta ton, nanti kita lihat mana yang terbaik untuk bangsa,” ujarnya.
Untuk Australia, pemerintah telah menyepakati pengiriman tahap awal sebesar 250 ribu ton. Sementara alokasi untuk negara lain masih dalam tahap pembahasan. “Kita akan lihat mana yang terbaik untuk kepentingan bangsa,” imbuhnya.





























