Mentan Amran: Mulai 1 Juli Indonesia Tidak Impor Solar

0
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman. Dok: Ist

Mulai 1 Juli 2026, Indonesia tidak lagi mengimpor solar seiring penerapan program biodiesel campuran 50 persen berbasis minyak sawit (B50).

Demikian disampaikan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat menghadiri Silaturahim dan Tausiyah Swasembada Pangan bertema Urgensi Hilirisasi dan Inovasi Terapan Berbasis Ekoteologi di IAIN Sultan Amai Gorontalo, Sabtu (20/6/2026).

Mentan Amran menyebut kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kemandirian energi nasional berbasis komoditas sawit.

Pengusaha dari Indonesia Timur itu mengatakan, kebijakan B50 menjadi langkah strategis dalam mempercepat hilirisasi sawit sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar.

‘”Biodiesel, apa itu biodiesel? Sawit ini kita ubah menjadi solar. Mulai 1 Juli, Indonesia tidak impor solar lagi tapi mandiri sudah berdaulat,” ujar Amran.

Adapun orogram ini melanjutkan tahapan implementasi biodiesel sebelumnya, mulai dari B20, B30 hingga B40, yang menjadi dasar penguatan pemanfaatan energi berbasis sawit di Indonesia.

Dikutip dari rilis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), implementasi B50 diproyeksikan memberikan dampak ekonomi signifikan, antara lain menciptakan nilai tambah industri kelapa sawit nasional sebesar Rp24,68 triliun.

Selain itu, program ini juga diperkirakan menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri sawit dan energi.

Dari sisi lingkungan, pemanfaatan biodiesel B50 disebut mampu mengurangi emisi hingga 46,72 juta ton setara karbon dioksida (CO2), serta mendukung target penurunan emisi nasional.

Sementara itu, dari aspek makroekonomi, penerapan B50 diperkirakan dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun akibat berkurangnya impor bahan bakar fosil.

Pada 2026, pemerintah akan menerapkan skema transisi melalui pelaksanaan B40 pada semester pertama dan B50 pada semester kedua, dengan total alokasi biodiesel sekitar 17,60 juta kiloliter (kL).

Hingga 13 April 2026, realisasi penyaluran biodiesel telah mencapai sekitar 3,90 juta kL atau 24,9 persen dari total alokasi tahunan.

Pelaksanaan program ini didukung oleh 26 Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) dan 32 Badan Usaha BBM (BU BBM) di berbagai wilayah Indonesia, dengan dukungan 85 titik serah untuk menjamin kelancaran distribusi biodiesel nasional.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini