Mentan Amran Minta Importir Kedelai Tak Naikkan Harga Semena-mena

0
Menteri Pertanian (Mentan),Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengimbau importir kedelai agar tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah memanasnya situasi geopolitik global.

Imbauan itu disampaikan Mentan Amran setelah melakukan rapat tertutup dengan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan di kantor PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), Bogor, Jawa Barat, Kamis (10/4).

Amran mengatakan, harga kedelai boleh naik asalkan tidak memberatkan masyarakat yang membutuhkan kedelai tersebut. 

“Kami sudah minta teman-teman importir jangan mengambil keuntungan besar anda sudah impor sudah banyak puluhan tahun tolong jangan persulit orang. Naik boleh lah naik, tapi jangan sampai itu menekan saudara-saudara kita yan membutuhkan kedelai,” ujarnya.

Mentan Amran menegaskan, pemerintah siap mengevaluasi izin dan rekomendasi impor kedelai bagi importir yang menaikkan harga secara semena-mena.

“Karena rekomendasi impornya ada di Kementerian perdagangan dan Kementan kalau menaikkan semena-seman kita kita akan pertimbangkan evaluasi nanti rekomendasi impornya, izin impornya,” tegasnya.

Kepala Badan Pangan Nasional itu mengatakan, situasi saat ini menjadi momentum bagi seluruh pelaku usaha untuk menunjukkan keberpihakan kepada bangsa.

“Kapan lagi kita mau berbuat baik kepada bangsa. Ini kesempatan emas untuk berbuat baik kepada bangsa yang kita cintai ini,” imbuhnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) telah memfasilitasi kesepakatan antara importir dan pengrajin tahu tempe untuk menjaga stabilitas harga kedelai melalui penerapan Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp 11.500 per kilogram di tingkat importir.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam rapat koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan bersama asosiasi dan pelaku usaha pada Kamis (9/4) 

Kesepakatan ini memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tetap berada di bawah Rp 12.000 per kilogram sampai dengan adanya perubahan kebijakan berikutnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro menegaskan bahwa isu yang berkembang di masyarakat telah terverifikasi dan tidak benar, serta memastikan komitmen bersama seluruh pihak tetap terjaga.

“Kami sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp 20 ribu itu tidak benar. Harga tetap di bawah HAP, bahkan di level importir masih sekitar Rp 11.500,” tegas Yudi.

Yudi menjelaskan bahwa dinamika global memang memberikan tekanan, terutama pada biaya logistik, transportasi, hingga komponen penunjang lainnya.

“Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali. Ini yang perlu kami sampaikan agar tidak terjadi kekhawatiran di masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyampaikan bahwa harga dan pasokan kedelai masih dalam kondisi terkendali meskipun menghadapi tekanan global.

“Saya rasa di tingkat importir saat ini sudah wajar, mungkin di sekitar Rp10.100 sampai Rp10.300 per kilogram tergantung wilayah. Di tingkat pengrajin mungkin sekarang ini sekitar Rp10.500 sampai dengan Rp11.000 per kilogram,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pelaku usaha terus berupaya menjaga stabilitas di tengah tantangan eksternal.

“Saat ini kami mencoba dengan sangat keras untuk menjaga kestabilan dari harga komoditas kedelai. Tapi perlu dicatat ada beberapa faktor seperti geopolitik yang berdampak pada ongkos logistik, asuransi kapal, hingga bahan penunjang,” ungkapnya.

Hen Sen menambahkan bahwa semua pihak harus terus bersinergi untuk menjaga stabilitas harga kedelai.

“Menjaga stabilitas bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan melibatkan semua pihak baik swasta maupun pemerintah. Perlu saling bekerja sama supaya suasana usaha menjadi lebih kondusif,” tambahnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini