Kejar Produktivitas Kebun, BPDP Bersama Ditjenbun dan PT SIB Gelar Pelatihan SDM Sawit Bagi Pekebun di Sumsel

0

Sebanyak 38 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit program Pengembangan Sumberdaya Manusia Perkebunan (SDM Perkebunan) tahun 2026 Angkatan I, yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan PT Sumber Daya Indonesia Berjaya (PT SIB).

Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kapasitas sumber daya manusia perkebunan sekaligus menutup kesenjangan produktivitas sawit rakyat yang hingga kini masih berada di bawah potensi optimal.

Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan teknis peserta, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan perilaku dalam mengelola usaha perkebunan secara profesional dan berkelanjutan.

“Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis di lapangan,” kata Andi Yusuf saat pembukaan kegiatan, 22 Juni 2026.

Menurut Andi, PT SIB selama enam tahun terakhir dipercaya Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPDP untuk melaksanakan berbagai program pengembangan kapasitas SDM perkebunan di berbagai daerah.

Pelatihan kali ini, seluruh proses pembelajaran mengacu pada pedoman teknis yang ditetapkan pemerintah, mulai dari materi, modul hingga silabus pelatihan. Para peserta akan mengikuti pembelajaran di kelas, diskusi kelompok, praktik lapangan, serta kunjungan lapang guna memperkuat pemahaman terhadap materi yang diberikan.

Salah satu agenda penting dalam pelatihan tersebut adalah kunjungan lapangan ke Koperasi Rukun Amanah Sejahtera di Kabupaten Banyuasin. Koperasi tersebut dipilih karena telah berhasil memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan dinilai dapat menjadi contoh praktik terbaik penerapan Good Agricultural Practices (GAP) serta tata kelola kelembagaan pekebun yang baik.

Melalui kunjungan tersebut, peserta diharapkan dapat melihat secara langsung bagaimana standar budidaya berkelanjutan diterapkan di lapangan sekaligus memahami berbagai persyaratan yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi ISPO.

“Peserta akan belajar tidak hanya dari teori, tetapi juga dari praktik yang sudah berhasil diterapkan oleh pekebun yang telah tersertifikasi,” ujar Andi.

Produktivitas Masih Menjadi Tantangan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit Direktorat Jenderal Perkebunan, Mula Putra, yang mewakili Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah terbesar perkebunan sawit rakyat Indonesia.

Menurut dia, produktivitas rata-rata kebun sawit rakyat saat ini masih berada pada kisaran 3,3 hingga 3,5 ton minyak sawit per hektare per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya dapat dicapai, yakni sekitar 5 hingga 6 ton per hektare per tahun.

“Masih terdapat gap produktivitas yang cukup besar antara kondisi aktual dan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Menutup kesenjangan inilah yang menjadi fokus pemerintah,” katanya.

Berbagai faktor dinilai menjadi penyebab rendahnya produktivitas tersebut. Mulai dari penggunaan benih yang tidak unggul, penerapan teknik budidaya yang belum optimal, hingga pemeliharaan tanaman yang belum sesuai standar teknis.

Karena itu, pemerintah menjalankan sejumlah program utama untuk mendukung peningkatan produktivitas perkebunan rakyat. Salah satunya adalah Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang ditujukan untuk mengganti tanaman tua atau tidak produktif dengan bibit unggul.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat dukungan sarana dan prasarana perkebunan serta pengembangan SDM melalui berbagai pelatihan teknis dan pemberdayaan kelembagaan pekebun.

Mula Putra menjelaskan bahwa pengembangan SDM kini menjadi salah satu instrumen utama dalam pembangunan perkebunan nasional. Tidak hanya untuk komoditas kelapa sawit, tetapi juga mencakup komoditas strategis lainnya seperti kelapa dan kakao.

“Pemerintah menyadari bahwa sumber daya manusia merupakan faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas sekaligus mewujudkan perkebunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Penguatan kapasitas tersebut dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, peningkatan soft skill berupa penguatan kelembagaan, kepemimpinan kelompok tani, serta kemampuan membangun kerja sama. Kedua, peningkatan hard skill melalui pelatihan teknis budidaya, panen dan pascapanen, implementasi ISPO, hingga pengelolaan sarana dan prasarana perkebunan.

ISPO Menjadi Keniscayaan

Dalam sambutannya, Mula Putra menegaskan bahwa penerapan standar keberlanjutan melalui ISPO kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang harus dipenuhi seluruh pelaku industri sawit, termasuk pekebun rakyat.

Tuntutan pasar global terhadap produk sawit berkelanjutan semakin meningkat. Karena itu, pemerintah terus mendorong percepatan penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan melalui berbagai program pendampingan dan pelatihan.

Menurut dia, pelatihan seperti yang berlangsung di Palembang merupakan langkah awal yang sangat penting untuk mempersiapkan pekebun menuju sertifikasi ISPO.

“Pelatihan ini bukan hanya soal meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mengubah mindset agar prinsip-prinsip keberlanjutan benar-benar diterapkan dalam pengelolaan kebun,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada para instruktur untuk memberikan pendampingan secara maksimal kepada peserta, termasuk setelah pelatihan selesai. Pendampingan pascapelatihan dinilai penting agar materi yang telah diberikan benar-benar diterapkan di lapangan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas.

Sementara kepada peserta, ia meminta agar seluruh materi yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan disebarluaskan kepada pekebun lain di wilayah masing-masing.

“Peserta harus menjadi agen perubahan dan agen penyebaran pengetahuan bagi sesama pekebun,” katanya.

Regenerasi Pekebun Jadi Sinyal Positif

Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan tersebut memiliki arti strategis bagi daerah yang merupakan salah satu sentra utama produksi kelapa sawit nasional.

Ia menyebut Kabupaten Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir sebagai tiga wilayah penopang utama produksi sawit di Sumatera Selatan.

Menurut dia, salah satu hal yang menarik dari pelatihan kali ini adalah tingginya partisipasi generasi muda pekebun.

“Kami melihat cukup banyak peserta dari kalangan generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan ke depan,” ujarnya.

Regenerasi petani, kata dia, menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional. Kehadiran petani muda diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi, inovasi, serta penerapan praktik budidaya yang lebih modern dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan industri sawit saat ini tidak hanya terkait produktivitas, tetapi juga tuntutan global terhadap aspek lingkungan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas SDM menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing pekebun rakyat.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini