
Kementerian Pertanian (Kementan) langsung membeli sejumlah hasil riset Universitas Gadjah Mada (UGM) senilai sekitar Rp 40 miliar sebagai upaya mempercepat swasembada pangan. Inovasi yang dibeli meliputi benih kedelai, bawang putih, kakao, hingga pengembangan sapi perah.
Kesepakatan pembelian itu dicapai dalam pertemuan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dengan jajaran pimpinan dan civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) di Jakarta Selatan, Senin (29/6).
Mentan Amran mengapresiasi berbagai inovasi yang dihasilkan UGM. Menurutnya, banyak hasil riset kampus tersebut yang telah siap diterapkan untuk mendukung pembangunan sektor pertanian nasional.
“Ini kami bangga terhadap UGM, luar biasa. Peneliti-peneliti andalannya hadir dan ternyata banyak hasil karya UGM yang bisa diterapkan di Republik Indonesia, khususnya sektor pertanian,” ujarnya.
Amran mengatakan berbagai hasil riset UGM sudah siap diterapkan untuk mendukung pembangunan sektor pertanian nasional. Salah satunya ialah varietas kedelai yang mampu mencapai produktivitas sekitar 3 ton per hektare.
“Total kerjasama hari ini ada kurang lebih 6 komoditas, 5 atau 6 komoditas itu Rp 40 miliar. Kami harapkan ada sapi perah, sapinya namanya Sapi Gama,” ujarnya.
Tokoh dari Sulawesi Selatan itu mengatakan Kementan akan langsung membeli dan mengawal penerapan hasil riset UGM agar segera dimanfaatkan petani.
“Ini kita langsung tindak lanjuti, bukan MoU tapi langsung kita beli karya-karya putra terbaik bangsa yang ada di UGM. Langsung kita beli dan kemudian kita kawal bersama,” katanya.
Menurut Amran, pengembangan kedelai akan langsung diuji pada lahan seluas 1.000 hingga 2.000 hektare. Pendampingan serupa juga dilakukan pada komoditas bawang putih agar hasil riset tersebut segera dimanfaatkan petani.
“Uji sampai 1.000 hektare, 2.000 hektare untuk kedelai, begitu juga bawang putih kita langsung kawal bersama. Ini sangat baik, kolaborasi ini sangat baik,” ujarnya.
Amran menilai pemanfaatan hasil riset dalam negeri menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor komoditas pertanian.
“Kalau kita bisa menghasilkan bibit-bibit unggul, ngapain kita beli dari luar? Ini juga kita langsung tindak lanjuti. Insyaallah ini kolaborasi untuk negeri,” katanya.
Ia mengatakan kolaborasi dengan perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk menekan impor komoditas pertanian, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dan ekspor melalui hilirisasi.
“Kolaborasi ini menyasar komoditas impor dan menaikkan komoditas ekspor. Hilirisasi kelapa, pala, kopi, kakao, mente, tebu. Jadi produk yang sudah kita unggul kita hilirisasi, sedangkan yang masih impor kita hasilkan sendiri,” ujarnya.





























