Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Jeffrey Haribowo mengungkapkan, hilirisasi industri kakao di Indonesia sebenarnya telah berjalan sejak lama. Namun, hingga kini, pengembangannya masih terbatas pada produk setengah jadi.
Menurut Jeffrey, hilirisasi kakao di Tanah Air sudah dimulai sejak sekitar tahun 2010, namun sebagian besar produk yang dihasilkan masih berupa bahan olahan antara seperti butter, powder, dan cocoa liquor.
“Kebanyakan adalah bahan setengah jadi, tadi yang saya sampaikan ya, butter, powder, dan cocoa liquor itu diekspor untuk kemudian diolah menjadi coklat di negara-negara tujuannya, di China, di Eropa, di Amerika,” ujar Jeffrey dikutip dalam sebuah wawancara di CNBC Indonesia, Jakarta, Senin (3/11).
Jeffrey menjelaskan, salah satu tantangan dalam pengembangan produk hilir kakao justru menjadi peluang besar yang tengah dinantikan pelaku industri, yakni selesainya perjanjian dagang Indonesia–Uni Eropa (IEU-CEPA).
Dia menilai, kesepakatan tersebut dapat membuka peluang lebih luas bagi produk olahan kakao Indonesia untuk menembus pasar Eropa.
“Karena di Eropa tidak punya kakao, mereka impor coklatnya juga dari Amerika Latin, dari Afrika Barat. Kenapa Indonesia tidak bersaing untuk masuk ke warga Eropa?” tutur Jeffrey.
Selain Eropa, Jeffrey menyebut pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama dagang dengan Amerika Serikat melalui pembahasan mengenai resiprokal tarif.
“Tentunya kami berharap bahwa Indonesia bisa kembali mendapatkan tarif yang preferensial untuk masuk ke Amerika Serikat,” ungkap dia.
Jeffrey menambahkan, potensi besar industri kakao Indonesia tidak hanya datang dari produk komoditas berskala besar, tetapi juga dari kebangkitan cokelat-cokelat artisan dalam negeri yang kerap luput dari perhatian.
Menurutnya, para pelaku cokelat artisan ini umumnya berskala kecil dan menggunakan bahan baku kakao asli Indonesia. Mereka mengemas produknya dengan storytelling yang menarik tentang asal-usul kakao, memberdayakan petani lokal, serta terlibat langsung dalam proses fermentasi hingga produksi. Gerakan ini, kata Jeffrey, kini tumbuh di berbagai daerah di Indonesia.
“Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan pun aktif mendorong para pelaku cokelat artisan untuk mempromosikan cokelat Indonesia ke luar negeri. Menurut saya, merekalah duta sejati cokelat Indonesia,” ujarnya.
Jeffrey juga mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 600 cita rasa cokelat yang berbeda-beda di setiap daerah. Karena itu, memperkenalkan cokelat Indonesia ke dunia bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga tentang membangun kebanggaan terhadap kekayaan rasa lokal.
“Kita justru harus berutang budi kepada para pembuat cokelat artisan, karena lewat merekalah dunia mengenal cita rasa kakao Indonesia,” kata Jeffrey.
Kapasitas Produksi Masih Belum Optimal
Jeffrey menjelaskan, kapasitas pengolahan kakao Indonesia saat ini mencapai 700 ribu ton per tahun, namun yang termanfaatkan baru sekitar 61 persen. Kondisi ini terjadi karena produksi domestik belum mampu memenuhi kebutuhan industri, sehingga sebagian besar bahan baku masih diimpor.
Berdasarkan data tahun 2023, produksi kakao nasional hanya mencapai 171 ribu ton per tahun, sementara impor mencapai 276 ribu ton.
“Bayangkan kalau produksi dalam negeri bisa ditingkatkan dan impor dikurangi, industri akan lebih mandiri dan keuntungan bisa langsung dirasakan oleh petani Indonesia,” tutur dia.
Jeffrey berharap pemerintah dapat memaksimalkan penggunaan dana Pengutan Ekspor (PE) yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional. Dana tersebut, katanya, bisa digunakan untuk pelatihan petani, perbaikan kualitas tanah, hingga riset varietas unggul.
“Riset sangat penting. Semua harus berbasis sains. Kita perlu tahu kondisi apa yang menyebabkan masalah tertentu, dan kembangkan riset tentang kakao secara kolaboratif antara swasta, universitas, dan BRIN,” ujar Jeffrey.
Lebih lanjut, dia menegaskan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) karena 99 persen perkebunan kakao di Indonesia dikelola oleh petani rakyat.
“Kalau petani punya pengetahuan dan teknik yang baik, produktivitas bisa naik dua kali lipat tanpa menambah luas lahan,” ujar dia.
Fokus pada Peningkatan Produktivitas
Jeffrey menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah peningkatan produktivitas di tingkat kebun (on-farm) sebelum beralih ke pengolahan lanjutan.
“Perbaiki kebunnya dulu, pastikan bahan bakunya cukup. Setelah itu baru bicara pengolahan yang lebih maju,” kata dia.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, hilirisasi yang lebih dalam, dan peningkatan produktivitas petani, Jeffrey optimistis Indonesia bisa memperkuat posisi sebagai salah satu produsen kakao penting di dunia.





























