Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Jeffrey Haribowo mengungkapkan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) masih menjadi salah satu penyebab utama anjloknya produksi kakao nasional. Bahkan, serangan hama dan penyakit bisa menurunkan hasil panen hingga 80 persen di beberapa wilayah.
“Contohnya penyakit yang disebabkan oleh serangan serangga PBK (Penggerek Buah Kakao) dan VSD (Vascular Streak Dieback). Kalau sudah parah, tanaman bisa kehilangan produksinya 30 hingga 80 persen,” ujar Jeffrey Jeffrey, dikutip dari wawancaranya bersama CNBC Indonesia, Senin (3/11).
Jeffrey menjelaskan, permasalahan OPT tidak bisa diatasi hanya dengan penyemprotan pestisida atau insektisida.
Ia menilai, penanganan harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari menjaga kualitas tanah dan nutrisi tanaman hingga riset pengembangan bibit unggul kakao yang sesuai dengan kondisi agroklimat di masing-masing daerah.
“Daerah yang basah tentu berbeda dengan yang kering. Jadi, kita harus melihatnya secara terintegrasi,” tegas Jeffrey
Lebih lanjut, Jeffrey berharap agar dana pungutan ekspor (PE) yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kakao nasional. Dana tersebut, kata dia, harus diarahkan untuk memperkuat pelatihan petani, memperbaiki lahan, dan mendorong riset.
“Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 1,2 juta hektare lahan kakao, dan lebih dari setengahnya dalam kondisi yang kurang produktif. Di sinilah peluangnya. Dana pungutan ekspor harus bisa dioptimalkan untuk memperbaiki kebun, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat petani,” papar dia.
Mengenai potensi dampak pungutan ekspor terhadap daya saing, Jeffrey menegaskan kebijakan tersebut bukanlah hal baru. Ia menilai, langkah itu seharusnya dipandang sebagai peluang untuk memperkuat industri pengolahan kakao dalam negeri, bukan beban bagi eksportir.
“Indonesia sebagian besar mengekspor produk olahan kakao, bukan biji mentah. Jadi ini bisa menjadi dorongan untuk mengolah lebih banyak kakao di dalam negeri,” kata dia.
Jeffrey menutup dengan menegaskan bahwa dengan sinergi antara pemerintah, industri, dan petani, Indonesia bisa memperkuat kemandirian bahan baku dan mengembalikan kejayaan kakao nasional.





























