BPDP Dukung Pendanaan Riset Komoditas Kelapa dan Kakao

0
Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS, Achmad Maulizal Sutawijaya. (Foto: Ist)

Pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kini secara resmi memperluas mandatnya untuk mendanai pengembangan riset dan inovasi pada komoditas kelapa dan kakao, menyusul diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 132 Tahun 2024 oleh Presiden Prabowo Subianto.

Langkah ini menandai transformasi BPDP dari lembaga yang sebelumnya fokus pada sawit, menjadi lembaga strategis yang mendukung riset hulu dan pengembangan teknologi tiga komoditas unggulan, kelapa sawit, kelapa, dan kakao.

“Alhamdulillah, dengan adanya kelapa dan kakao ini, kita berubah menjadi badan pengelola dana perkebunan. Dan itu sudah diteken oleh Pak Presiden dalam Perpres 132 Tahun 2024,” ujar Kepala Divisi Perusahaan BPDP), Achmad Maulizal saat menjadi pembicara di acara ETIKAP, Jakarta, Rabu (12/6). 

Maulizal menyampaikan, BPDP akan mendukung pendanaan riset di sektor hulu kelapa dan kakao sebagai upaya memperkuat peran komoditas tersebut sebagai tulang punggung pembangunan bangsa dan negara.

“Karena kita melihat bahwa ternyata baik sawit maupun produk-produk komoditas yang lain, bisa nih menjadi tulang punggung untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia kita ini,” kata Maulizal.

Arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) menempatkan tiga fokus utama di sektor perkebunan sebagai bagian dari strategi jangka menengah dan panjang untuk mendorong pertumbuhan nasional.

“Yang pertama adalah green industry, maksudnya perkebunan ini sebuah industri hijau ya. Yang memang kita sudah lihat selama ini perkebunan sawit, dari mulai tanam sampai 20—22 tahun masih bisa menghasilkan tandan buah segar yang menjadi turunan-turunan produk kelapa sawit,” ujar dia.

Maulizal menambahkan, kelapa juga memiliki potensi serupa jika dikembangkan lebih lanjut di dalam negeri. Hal yang sama berlaku untuk kakao, yang sudah mulai banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan dalam negeri.

“Tapi memang kalau kelapa sudah bisa ekspor, sawit sudah bisa ekspor, kakao ini memang mostly (kebanyakan) masih di dalam negeri, dan kebutuhannya sangat tinggi untuk dalam negeri sendiri,” ujar Maulizal.

Karena itu, kata Maulizal, BPDP ke depan juga akan mendorong penguatan sektor hulu pada komoditas kakao agar dapat berkembang menjadi industri yang mampu menopang kesejahteraan petani sekaligus berdaya saing, layaknya industri sawit.

“Arahan kepada kami sudah sangat jelas, bahwa pendanaan BPDP untuk kelapa dan kakao akan semakin intensif diarahkan pada riset, yang nantinya akan diintegrasikan atau ‘di-blending’ dengan riset kelapa sawit,” ujar dia.

BPDP juga berharap dapat menerima masukan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait riset kelapa, seperti pengembangan bibit dan pupuk, serta bagaimana cara pengolahan kakao yang optimal.

Menurut Maulizal, selama ini saingan komoditas kelapa dan kakao sebagian besar berasal dari negara-negara Asia yang telah lebih dulu menguasai teknologi pertanian berkualitas tinggi. “Nah, ini coba akan kita lihat seperti apa ke depannya dari sisi BRIN,” kata dia.

Kedua, pasar global kelapa sawit terbukti sangat tangguh, bahkan saat pandemi melanda. Di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, industri ini tidak mengalami penurunan signifikan, dan justru mencatatkan kenaikan secara year-on-year yang cukup menggembirakan.

“Kemudian juga secara pemanfaatan dari ujung batang kelapa itu, kelapa sawit sampai ujung akarnya, dimanfaatkan sepenuh-penuhnya oleh pasar dunia,” tambah dia.

Lantas ketiga, sawit mendukung ketahanan energi nasional melalui pengembangan bioenergi seperti biodiesel. “Nah, kelapa dan kakao juga diharapkan seperti itu,” ujar Maulizal.

Harus diakui bahwa baik kelapa maupun kakao memang belum berkembang menjadi industri yang mampu menopang atau membantu petani secara mandiri. Jika dibandingkan lebih jauh, pemanfaatan teknologi pada kelapa dan kakao juga masih jauh berbeda dengan yang diterapkan pada kelapa sawit.

“Oleh karena itu, kami terbuka menerima masukan, karena salah satu program pendanaan dan pengelolaan perkebunan adalah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk pengembangan perkebunan, baik kelapa maupun kakao,” imbuh dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini