Majalah Hortus Edisi 159 Desember 2025

0

 

Pembaca sekalian,
Kondisi tanaman kakao di Indonesia belakangan ini cukup memprihatinkan. Menurut Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember, Jatim, produktvitas kakao rakyat stagnan di bawah 0,6 ton per hektare, jauh dari potensi agronomisnya. Seperti lingkaran setan, rendahnya hasil disebabkan penggunaan benih asalan, tanaman tua yang mencapai lebih dari 60 persen populasi, serta praktik budidaya yang tidak pernah pulih dari masa ke masa.

Banyak kebun kakao yang tampak seperti “tanaman sambilan” alih-alih komoditas perkebunan; dirawat seadanya, tanpa pemangkasan, tanpa pemupukan, dan tanpa pengendalian hama terpadu. “Kita perlu ekosistem riset yang lebih kuat, sekaligus pola penyuluhan yang benar-benar kompeten dan konsisten,” ujar Dini Astika Sari, dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jember.

Masalah lain yang menghambat pemulihan adalah minimnya teknologi terapan yang benar-benar sampai ke tangan petani. Di laboratorium, inovasi hadir setiap tahun—klon adaptif, teknik sambung pucuk yang lebih efisien, hingga model budidaya tahan iklim. Namun di kebun-kebun kecil, teknologi itu nyaris tak terdengar. Petani bekerja memakai pola turun-temurun, sementara akses ke sekolah lapangan atau demonstrasi plot sangat terbatas.

Kendala modal memperparah keadaan. Bagi banyak petani, biaya untuk pemupukan rutin saja kadang tak sanggup dipenuhi, apalagi biaya rehabilitasi pohon atau penanaman ulang. Lembaga keuangan jarang melirik petani kakao skala kecil karena risiko tinggi dan produktivitas rendah.

Pembaca majalah ini yang kami banggakan,

Kami coba angkat kondisi tanaman kakao yang memprihatinkan di atas sebagai tema Liputan khusus edisi desember 2025 ini. Ada secercah harapan industri kakao di negeri ini bakal Kembali bangkit seiring dengan dipindahkannya pengelolaan kakao kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Langkah ini menandai perubahan besar dalam tata kelola, sekaligus membuka perdebatan tentang efektivitas dan kesiapan semua pihak dalam mengelola komoditas unggulan yang dalam satu dekade terakhir mengalami kemerosotan tajam.

Sementara prediksi harga CPO di pasar global yang mengemuka dalam forum Palm Oil Conference (IPOC) 2025 dan Price Outlook 2026 – yang digelar oleh Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) di Nusa Dua, Bali, medio November 2025 – sebagai topik bahasan di Rubrik Laporan Utama kali ini.

Dorab Mistry, Director Godrej International Ltd misalnya menyebut harga CPO bakal menembus 5.000 ringgit per ton pada akhir tahun ini. Bahkan, kenaikan harga hingga 5.500 Ringgit sangat mungkin terwujud pada kuartal I tahun 2026, terutama jika Pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian terhadap kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Menurutnya, periode Januari hingga Maret 2026 akan menjadi fase yang sangat bullish (kondisi membaik) bagi pasar CPO, di mana sentimen positif kemungkinan besar akan mendominasi kontrak berjangka.

Prediksi membaiknya harga CPO di pasar global tersebut juga disampaikan Ketua Bidang Luar Negeri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), M. Fadhil Hasan, yang tampil pada sesi sebelumnya. Fadhil meyakini bahwa harga CPO akan bertahan tinggi hingga kuartal pertama 2026.

“Kami memproyeksikan harga minyak sawit dalam jangka pendek, hingga kuartal I 2026, akan tetap tinggi. Angka akan berkisar antara US$1.050 sampai US$1.125 per ton,” katanya dengan nada optimistis.

Di luar kedua rubrik andalan tersebut, seperti biasa, kami juga telah menyiapkan artikel atau berita berita lain yang tak kalah hangat dan atraktifnya.

Akhirnya, dari balik meja redaksi, kami ucapkan selamat menikmati sajian kami. ***

Baca/Dowload:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini