Ekspor Pertanian Melonjak 26 Persen, Mendag Busan Ajak HKTI Masuk Pasar Global

0
Menteri Perdagangan, Budi Santoso acara Temu Tani dan Rakernas Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) di Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, Rabu (3/12).

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, menyampaikan bahwa kinerja ekspor pertanian Indonesia menunjukkan tren positif. 

Hal itu dia sampaikan dalam acara Temu Tani dan Rakernas Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) di Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, Rabu (3/12).

“Saya laporkan kepada Ibu Ketua Komisi IV dan Bapak-Ibu sekalian, ekspor kita pada periode Januari–Oktober tahun ini secara keseluruhan naik 6,96 persen,” ujar Busan.

Dia menambahkan, ekspor pertanian dalam kurun waktu 2020–2024 mencatat tren pertumbuhan rata-rata 7,17 persen. Bahkan, khusus Januari–Oktober tahun ini, ekspor produk pertanian menjadi yang tertinggi dengan kenaikan mencapai 26,56 persen.

 “Selamat kepada para petani yang telah memproduksi dan mengekspor produk kita,” ucapnya. Peringkat kedua disumbang sektor industri pengolahan sekitar 16 persen.

Busan menjelaskan, kontribusi ekspor pertanian terhadap total ekspor nasional saat ini mencapai 2,49 persen atau naik sekitar 0,4 persen.

Dalam kesempatan itu, Busan juga memaparkan program Kementerian Perdagangan (Kementan) yakni UMKM bisa ekspor. Menurut dia, anggota HKTI termasuk dalam kelompok yang dapat difasilitasi. 

Dia menjelaskan, Kemendag memiliki perwakilan perdagangan dan ITPC di 33 negara, berjumlah 47 kantor, yang bertugas mempromosikan potensi produk ekspor Indonesia.

“Nah, caranya gampang. Nanti UMKM tinggal presentasi, kemudian difasilitasi oleh Ibu Dirjen PEN kepada perwakilan kita. Tidak perlu khawatir soal bahasa, karena staf kami akan menerjemahkan. Presentasi cukup dilakukan secara online dan didampingi perwakilan,” jelas DIA.

Setelah presentasi, perwakilan Kemendag akan mencarikan calon pembeli. Jika sudah ada buyer yang tertarik, proses dilanjutkan dengan business matching.

 “Dari Januari sampai Oktober, kami telah memfasilitasi 1.132 UMKM dengan nilai transaksi mencapai 134,34 juta dolar AS atau sekitar 2,4 triliun rupiah. Sebanyak 70 persen di antaranya belum pernah ekspor,” ungkap DIA.

Busan menegaskan bahwa pemerintah ingin ekspor dinikmati tidak hanya oleh pelaku usaha besar, tetapi juga usaha menengah dan kecil. Ia melihat produk pertanian cukup banyak yang mengikuti business matching, namun belum terlihat dari anggota HKTI.

 Karena itu, dia meminta Dirjen PEN melakukan kurasi terhadap produk berpotensi ekspor dari anggota HKTI untuk kemudian dijadwalkan mengikuti program tersebut.

“Yang menentukan tujuan ekspor sebaiknya dari Ibu dan Bapak sendiri, karena permintaan saat ini sangat tinggi dan UMKM yang ingin ikut business matching sudah mengantre. Kami ingin pengusaha kecil kita juga menikmati pasar ekspor karena produk kita banyak diminati buyer mancanegara,” pungkas dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini