GAPKI: Industri Sawit Kembali Tunjukkan Ketangguhan di Tengah Konflik Timur Tengah

0
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono memberikan keterangan pers di Jakarta, Kamis (12/3).

Industri sawit Indonesia kembali menunjukkan ketahanan di tengah tekanan geopolitik global. Di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah, ekspor minyak sawit nasional masih tetap berjalan dan bahkan mengalami peningkatan di sejumlah pasar.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono dalam konferensi pers dan acara buka puasa bersama di Shangri-La Jakarta, Kamis (12/3).

“Kita prihatin dengan adanya perang di Timur Tengah. Tetapi di satu sisi kita bersyukur ternyata industri sawit masih cukup kuat menghadapi ini. Masih bisa ekspor, masih bisa keluar,” ujar Eddy.

Ia mengatakan ekspor minyak sawit Indonesia tetap berjalan meskipun terjadi kenaikan signifikan pada biaya logistik akibat konflik tersebut.

“Freight and insurance itu naik sampai 50 persen rata-rata. Bahkan untuk beberapa tujuan ekspor seperti ke Eropa,” katanya.

Eddy menjelaskan, produk sawit Indonesia saat ini telah diekspor ke sekitar 177 negara dengan volume sekitar 32,3 juta ton, meningkat dibandingkan 2024, sementara nilai ekspornya juga naik dari sekitar US$29 miliar menjadi US$35 miliar.

“Jadi artinya, industri sawit ini luar biasa. Industri sawit benar-benar sebagai penopang ekonomi nasional,” ungkap Eddy.

Namun demikian, ia mengakui konflik di kawasan Timur Tengah tetap menimbulkan gangguan pada sebagian jalur perdagangan, khususnya untuk ekspor yang harus melewati Selat Hormuz.

Menurutya, volume ekspor sawit Indonesia ke kawasan Timur Tengah yang berpotensi terdampak mencapai sekitar 1,83 juta ton.

“Yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East, terutama yang harus melalui Selat Hormuz. Ekspor kita ke Middle East itu ada sekitar 1,83 juta ton,” ujar Eddy.

Ia menjelaskan sebagian pengiriman masih dapat melalui Terusan Suez, namun dengan risiko dan biaya yang lebih tinggi. Alternatif lainnya adalah kapal harus memutar jalur lebih jauh melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang turut mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi.

Meski demikian, Eddy mengatakan ekspor sawit Indonesia masih tetap berjalan di tengah situasi tersebut. “Artinya industri sawit membuktikan bahwa dengan kondisi sesulit apa pun masih bisa berjalan,” katanya.

Di tengah gangguan jalur perdagangan tersebut, ekspor sawit Indonesia ke kawasan Afrika justru mengalami peningkatan.

“Ke Afrika itu justru terjadi kenaikan ekspor kita. Dengan kondisi perang ini Afrika masih bisa jalan, kecuali sedikit gangguan ke Mesir,” ujarnya.

Eddy menjelaskan ekspor sawit Indonesia ke kawasan Eropa juga masih cukup besar. Tercatat ekspor ke negara-negara Uni Eropa mencapai sekitar 3,2 juta ton, sementara ke negara Eropa di luar Uni Eropa sekitar 900 ribu ton atau hampir 1 juta ton.

“Eropa ini kita 3,2 juta ton, tapi di luar dari EU artinya Eropa tetapi non-EU itu 0,9 atau 900.000 ya artinya hampir 1 juta ton. Total sekitar 4,4 juta kalau dua itu termasuk Rusia,” katanya.

Meski ekspor masih berjalan, Eddy mengingatkan konflik yang berkepanjangan berpotensi mempengaruhi permintaan dari negara-negara importir.

“Kalau ini berkepanjangan pasti akan berpengaruh. Negara-negara importir bisa saja mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi, terutama karena biaya logistik,” imbuhnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini