GAPKI Ungkap Ongkos Logistik Ekspor Sawit Naik 50 Persen Akibat Perang Timur Tengah

0
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono memberikan keterangan pers di Jakarta, Kamis (12/3).

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan konflik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada kegiatan ekspor sawit Indonesia, ditandai dengan kenaikan biaya logistik dan perubahan jalur pelayaran.

“Freight and insurance itu naik sampai 50 persen rata-rata. Bahkan di beberapa daerah artinya beberapa yang harus kita ekspor misalnya seperti ke Eropa,” kata Eddy dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3). 

Meski demikian, ia menilai industri sawit nasional masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan geopolitik tersebut. Menurutnya, ekspor minyak sawit Indonesia masih tetap berjalan ke berbagai negara tujuan.

“Di satu sisi kita prihatin dengan adanya perang Timur Tengah, tetapi di sisi lain kita bersyukur ternyata industri sawit masih cukup kuat menghadapi ini. Masih bisa ekspor, masih bisa keluar,”  ujarnya.

Eddy menyebut ekspor sawit Indonesia saat ini menjangkau sekitar 177 negara dengan total volume ekspor mencapai sekitar 32,3 juta ton. Nilai ekspor juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ekspor kita ada kenaikan dibandingkan tahun 2024. Kemudian nilainya pun kita ada naik. Dari 29 menjadi 35,” katanya.

Namun demikian, gangguan perdagangan paling terasa terjadi pada pengiriman ke kawasan Timur Tengah yang harus melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz. Menurut Eddy, ekspor sawit Indonesia ke kawasan tersebut mencapai sekitar 1,83 juta ton.

“Yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Yang harus melalui Selat Hormuz itu ekspor kita ke Middle East ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu,” ujarnya.

Sementara untuk pengiriman ke kawasan Eropa, sebagian kapal harus memutar jalur pelayaran untuk menghindari risiko keamanan di rute utama seperti Terusan Suez. Kapal pengangkut sawit terpaksa melalui jalur lebih jauh lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

“Yang lain masih bisa keluar walaupun harus memutar lewat Cape Town di bawah Afrika sampai ke Eropa. Kalau lewat Terusan Suez ada yang masih berani memaksakan, tetapi dengan risiko yang tinggi sehingga biayanya juga tinggi,” kata Eddy.

Ia menambahkan, lonjakan biaya logistik terjadi karena meningkatnya harga bahan bakar serta premi asuransi pelayaran akibat risiko keamanan yang lebih tinggi.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Eddy menilai industri sawit tetap menjadi penopang penting bagi perekonomian nasional.

“Industri sawit ini luar biasa. Industri sawit benar-benar sebagai penopang ekonomi nasional,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai sektor ini perlu mendapat dukungan kebijakan yang kondusif dari pemerintah agar tetap mampu berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Jangan sampai dengan adanya kebijakan-kebijakan yang kurang kondusif justru industri yang kita banggakan ini malah melemah dan akhirnya hanya menjadi cerita sejarah,”  kata Eddy.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini