YOGYAKARTA — Kelapa sawit tak hanya berhenti sebagai bahan baku pangan, energi, dan industri oleokimia. Di tangan CV Smart Batik Indonesia, komoditas perkebunan itu masuk ke ranah ekonomi kreatif melalui inovasi malam batik berbasis sawit dan eksplorasi pewarna alami.
Inovasi tersebut mengantarkan Smart Batik Indonesia meraih Juara 3 Championship Inovasi Wastra Nusantara (Citra Nusa) 2026 dalam rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang digelar Bank Indonesia. Penghargaan diumumkan pada penutupan KKI 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu (23/8/2026).
Smart Batik Indonesia merupakan binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam kompetisi tersebut, posisi pertama diraih Tinung Rambu dari KPw BI Nusa Tenggara Timur, disusul BOOLAO dari KPw BI Jawa Barat. Smart Batik Indonesia berada di peringkat ketiga.
Citra Nusa merupakan salah satu program KKI yang diarahkan untuk memperkuat daya saing pelaku usaha wastra melalui inovasi desain, peningkatan kapasitas, pengembangan produk, serta pembukaan akses pasar yang lebih luas. Tahun ini, Citra Nusa menghasilkan lima juara utama dan tiga juara favorit.
Bagi Smart Batik Indonesia, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas kreativitas motif. Karya yang dibawa dalam kompetisi itu, Batik Sawit Motif MIPA, mencoba mempertemukan dua dunia yang selama ini dianggap berbeda: warisan budaya batik dan ilmu pengetahuan.
Motif MIPA mengangkat unsur Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi ke dalam komposisi ornamen batik. Simbol-simbol sains ditata bukan hanya sebagai dekorasi, tetapi menjadi bagian dari narasi yang menjadikan batik sebagai media edukasi.
Karya tersebut masuk dalam 20 karya terpilih Citra Nusa 2026 sebelum akhirnya melaju ke tahap penentuan pemenang.
CEO Smart Batik Indonesia sekaligus Ketua Umum Paguyuban Batik Sawit DIY, Miftahudin Nur Ihsan, mengatakan pengembangan produk tidak berhenti pada penciptaan motif. Menurut dia, inovasi juga diarahkan pada bahan yang digunakan dalam proses produksi sehingga batik memiliki nilai tambah dari sisi teknologi dan keberlanjutan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah malam batik berbasis sawit sebagai alternatif bahan malam konvensional. Produk tersebut dikembangkan selama beberapa tahun dan menjadi bagian dari gagasan besar Smart Batik Indonesia untuk memasukkan produk turunan kelapa sawit ke dalam rantai nilai industri kreatif.
Pendekatan itu sekaligus membuka perspektif baru mengenai hilirisasi sawit. Jika selama ini hilirisasi lebih banyak dikaitkan dengan industri pangan, kosmetik, oleokimia, dan energi, pemanfaatan turunan sawit untuk industri batik menunjukkan adanya ruang baru yang bersinggungan dengan sektor kreatif.
Smart Batik Indonesia juga mengembangkan pemanfaatan bahan alami yang berasal dari bagian tanaman kelapa sawit, termasuk cangkang sawit, sebagai sumber pewarna alami.
Eksplorasi tersebut berpotensi memperluas pemanfaatan komoditas sawit sekaligus mengembangkan prinsip ekonomi sirkular. Bagian tanaman yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi lebih rendah dapat diolah menjadi bahan pendukung produk kreatif dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Dengan konsep itu, Batik Sawit tidak sekadar menjadikan kelapa sawit sebagai tema visual. Sawit ditempatkan sebagai bagian dari proses produksi, mulai dari bahan pendukung membatik hingga eksplorasi sumber pewarna.
Inovasi Smart Batik Indonesia juga bukan kali pertama dibawa ke panggung internasional. Perusahaan tersebut sebelumnya memperkenalkan inovasi batik berbasis malam sawit dan pewarna alami dalam Innovation Festival Suzhou 2024 di China.
Dukungan terhadap pengembangan inovasi tersebut datang dari sejumlah pihak, antara lain Bank Indonesia, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Pemerintah Daerah DIY, Pemerintah Kota Yogyakarta, dan sejumlah mitra lainnya.
Dalam konteks pengembangan UMKM, dukungan ekosistem menjadi semakin penting. KKI 2026 sendiri melibatkan lebih dari 1.860 UMKM dari berbagai daerah. Dalam gelaran tersebut, business matching ekspor mencapai Rp169,9 miliar dengan melibatkan 192 UMKM, 31 pembeli, dan 16 negara. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM kini tidak lagi semata berorientasi pada pameran, tetapi juga diarahkan pada akses pasar dan ekspor.
Bagi Smart Batik Indonesia, proses pembinaan Bank Indonesia menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Miftahudin menilai kemitraan dengan BI tidak sekadar memberikan ruang untuk mengikuti pameran atau kompetisi, tetapi juga membantu penguatan kapasitas usaha, inovasi produk, branding, hingga pembukaan akses pasar.
Di sisi lain, keberhasilan Citra Nusa menunjukkan bahwa inovasi wastra memiliki peluang berkembang ketika kekuatan budaya bertemu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Batik yang selama ini identik dengan motif tradisional dapat berkembang menjadi medium edukasi dan komunikasi sains. Pada saat yang sama, kelapa sawit yang selama ini dikenal sebagai komoditas perkebunan dapat memperoleh ruang baru dalam industri kreatif.
Pertemuan tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan meningkatkan nilai tambah komoditas domestik. Hilirisasi tidak selalu harus menghasilkan produk industri berskala besar. Inovasi UMKM yang mampu mengolah bahan lokal menjadi produk bernilai tambah juga merupakan bagian dari rantai hilirisasi.
Smart Batik Indonesia mencoba mengambil ruang itu dari Yogyakarta. Melalui Batik Sawit Motif MIPA, perusahaan tersebut membawa pesan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai bahan yang ramah lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya lokal dapat diolah menjadi produk inovatif, edukatif, dan memiliki nilai ekonomi.
Prestasi di Citra Nusa 2026 sekaligus memperkuat posisi Smart Batik Indonesia untuk membawa Batik Sawit ke pasar yang lebih luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi berkembang menjadi produk yang memiliki pasar, skala produksi, konsistensi kualitas, dan daya saing ekspor.
Dari Yogyakarta, Batik Sawit mencoba membuktikan bahwa masa depan wastra Indonesia tidak harus memilih antara tradisi dan inovasi. Keduanya dapat berjalan bersama—menggabungkan budaya, sains, hilirisasi sawit, ekonomi kreatif, dan keberlanjutan dalam satu lembar kain.






























