IBU KOTA NUSANTARA (IKN), 28 Agustus 2026 — Keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat menghadapi tantangan semakin kompleks. Penerapan mandatori biodiesel B50 di dalam negeri serta tuntutan pasar global melalui European Union Deforestation Regulation (EUDR) membuat petani sawit swadaya dituntut meningkatkan produktivitas sekaligus memenuhi standar keberlanjutan dan ketertelusuran.
Di tengah tantangan tersebut, peran perempuan dan generasi muda dinilai menjadi salah satu kunci untuk memastikan keberlangsungan usaha jutaan keluarga petani sawit.
Pandangan itu mengemuka dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 yang digelar pada 27–28 Agustus 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Solidaridad Indonesia menjadi salah satu pihak yang mendorong penguatan kapasitas petani, terutama melalui peningkatan peran perempuan dan generasi muda dalam ekosistem sawit rakyat.
Country Manager Solidaridad Indonesia, Yeni Fitriyanti, mengatakan keberlanjutan industri sawit tidak semata-mata ditentukan oleh produktivitas kebun, sertifikasi, maupun kemampuan memenuhi persyaratan pasar internasional. Lebih dari itu, keberlanjutan sangat bergantung pada ketangguhan keluarga dan komunitas petani sebagai fondasi utama perkebunan rakyat.
“Keberlanjutan industri kelapa sawit sebenarnya dimulai dari ambang pintu rumah tangga petani,” kata Yeni.
Menurut dia, besarnya areal perkebunan sawit rakyat membuat penguatan petani swadaya menjadi agenda strategis. Dari sekitar 6,94 juta hektare perkebunan sawit rakyat, sebagian besar dikelola petani swadaya yang menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses pembiayaan, teknologi, informasi pasar hingga pendampingan.
Kondisi tersebut membuat petani semakin rentan menghadapi fluktuasi harga dan perubahan tuntutan pasar global.
“Kita sedang berada di masa yang sangat menentukan. Syarat ketat dari pasar global seperti ISPO dan EUDR memaksa kebun-kebun sawit rakyat untuk segera naik kelas,” ujar Yeni.
Menurut dia, generasi muda memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Anak muda tidak hanya dipandang sebagai penerus kepemilikan kebun, tetapi juga sebagai penggerak transformasi digital di tingkat desa.
Pemuda dapat berperan dalam pemetaan kebun menggunakan teknologi GPS, pengelolaan data digital, peningkatan ketertelusuran rantai pasok hingga pengembangan usaha baru berbasis potensi desa. Kemampuan tersebut semakin penting ketika pasar global menuntut informasi yang lebih akurat mengenai asal-usul komoditas.
“Di sinilah anak muda memiliki peran vital untuk membawa teknologi masuk ke kebun, seperti pemetaan digital dan inovasi bisnis desa,” katanya.
Pada saat yang sama, perempuan dinilai memiliki peran strategis yang tidak kalah penting. Selama ini kontribusi perempuan dalam perkebunan kerap dipandang sebagai pelengkap, padahal mereka berperan besar dalam mengelola ekonomi rumah tangga dan menjaga ketahanan keuangan keluarga petani.
“Perempuan tidak boleh dianggap hanya sebagai pendukung. Mereka adalah ujung tombak keuangan keluarga petani. Lewat kelompok simpan pinjam desa, kaum perempuan ini terbukti mampu menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga,” ujar Yeni.
Persoalan regenerasi juga menjadi perhatian. Industri sawit rakyat menghadapi fenomena aging smallholders atau semakin menuanya petani, sementara minat generasi muda untuk meneruskan usaha perkebunan belum selalu kuat.
“Jika bertani tidak lagi menarik secara ekonomi bagi generasi muda, siapa yang akan mengelola perkebunan ini di masa depan?” kata Yeni.
Karena itu, Solidaridad mendorong lahirnya generasi muda yang mampu menjadi Digital & Technology Champions di pedesaan. Anak muda diharapkan tidak hanya kembali ke kebun, tetapi juga membawa pendekatan baru melalui teknologi, inovasi bisnis dan pengelolaan data.
Solidaridad juga mendorong penguatan kewirausahaan pedesaan serta akses pembiayaan yang lebih inklusif, termasuk bagi perempuan. Menurut Yeni, pembangunan sawit berkelanjutan tidak cukup hanya dilakukan melalui perbaikan praktik budidaya.
“Kelapa sawit berkelanjutan tidak hanya membutuhkan praktik pertanian yang lebih baik di lapangan, tetapi juga menuntut investasi nyata pada manusia karena mereka yang mengelola sektor ini hari ini dan di masa depan. Kita harus memutus rantai diskriminasi dan mengintegrasikan kesetaraan gender ke dalam jantung kebijakan strategis sawit kita,” tegasnya.
Pengalaman pendampingan Solidaridad di sejumlah negara menunjukkan pelibatan perempuan dan generasi muda dapat memberikan dampak ekonomi. Di Ghana, misalnya, program yang melibatkan sekitar 25% perempuan disebut mampu meningkatkan hasil panen lebih dari 50% dan pendapatan rata-rata petani sebesar 22%.
Pelibatan perempuan dalam pengelolaan keuangan kelompok juga membantu keluarga mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman informal dengan bunga tinggi. Sementara itu, investasi pada pendidikan anak dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi regenerasi petani.
WCOPS Dorong Keberlanjutan yang Inklusif
Penguatan posisi petani di tingkat global juga menjadi salah satu agenda penting IOPS Forum 2026 melalui lahirnya World Coalition of Oil Palm Smallholders (WCOPS).
Koalisi tersebut menekankan pentingnya peningkatan representasi petani sawit rakyat dalam tata kelola komoditas sawit global. Melalui Joint Statement, WCOPS mendorong agar agenda keberlanjutan tidak berhenti pada pemenuhan aturan dan sertifikasi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan perlindungan yang adil bagi petani.
Bagi Solidaridad, keberlanjutan harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, mencakup lingkungan, ekonomi, kesetaraan gender, regenerasi petani serta posisi petani dalam rantai nilai global.
Kehadiran Solidaridad dalam IOPS Forum 2026 diharapkan dapat memperkuat kerja sama antarnegara produsen sawit untuk membangun tata kelola yang lebih inklusif. Dengan demikian, agenda keberlanjutan tidak menjadi beban tambahan bagi petani kecil, tetapi menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus memperkuat daya saing sawit rakyat di pasar global.






























