Rice Resilience Forum 2026: Menguji Ketangguhan Ekosistem Beras Indonesia di Tengah Perubahan Iklim

0

TANGERANG — Ketahanan pangan Indonesia akan sangat ditentukan oleh seberapa tangguh ekosistem perberasan menghadapi perubahan iklim. Cuaca yang semakin sulit diprediksi, perubahan pola hujan, ancaman kekeringan dan banjir, hingga tekanan terhadap produktivitas membuat persoalan beras tidak lagi semata-mata soal produksi di tingkat sawah.

Tantangan tersebut akan menjadi salah satu pokok bahasan dalam Rice Resilience Forum 2026, seminar nasional yang diselenggarakan Majalah AGRINA dengan tema “Membangun Ekosistem Perberasan Indonesia yang Berdaya Saing, Tangguh terhadap Perubahan Iklim, dan Berkelanjutan dari Hulu hingga Hilir.”

Forum tersebut akan digelar pada Kamis, 17 September 2026, pukul 12.00–16.30 WIB, di Horti Hall Conference Room, Hall 5-6 ICE BSD, Tangerang.

Seminar ini mempertemukan pemerintah, pengamat pertanian, pelaku inovasi pertanian dan lembaga yang memiliki peran penting dalam pengadaan beras nasional. Mereka akan membahas bagaimana Indonesia membangun sistem perberasan yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan saat kondisi normal, tetapi juga tetap berjalan ketika menghadapi tekanan iklim dan gejolak rantai pasok.

Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., pakar agribisnis sekaligus Ketua Dewan Redaksi AGRINA, akan menyampaikan keynote address.

Bungaran diharapkan memberikan perspektif mengenai posisi strategis beras dalam pembangunan agribisnis dan ketahanan pangan nasional. Menurut perspektif agribisnis, persoalan beras tidak dapat dilihat secara terpisah antara produksi, perdagangan dan konsumsi. Seluruh mata rantai harus bekerja sebagai sebuah ekosistem.

Dari sisi pemerintah, Gunawan, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, akan membawa perspektif kebijakan dan produksi tanaman pangan.

Tantangan produksi beras semakin kompleks ketika perubahan iklim memengaruhi kalender tanam dan kondisi lahan. Karena itu, peningkatan produktivitas harus berjalan bersama strategi adaptasi terhadap perubahan iklim.

Teknologi menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menghadapi persoalan tersebut. Penerapan smart farming, pemanfaatan data, mekanisasi dan pemupukan presisi dapat membantu petani meningkatkan efisiensi penggunaan input sekaligus menjaga produktivitas.

Namun teknologi saja tidak cukup.

Menurut pengamat pertanian Khudori, ketahanan ekosistem perberasan juga berkaitan dengan tata niaga, insentif ekonomi bagi petani dan hubungan antarpelaku dalam rantai pasok. Produktivitas yang meningkat harus diikuti sistem perdagangan yang mampu memberikan kepastian dan keuntungan yang wajar bagi produsen.

Perspektif inovasi dan regenerasi petani akan dibawa oleh Amri Ilmma, CEO Edufarmers. Transformasi sektor pertanian membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengadopsi teknologi sekaligus memahami perubahan pola bisnis pertanian.

Di sisi hilir, Prihasto Setyanto, Direktur Pengadaan Perum BULOG, akan memberikan perspektif mengenai pengadaan dan ketersediaan beras nasional.

Bagi Indonesia, keberadaan lembaga pengadaan pangan menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas pasokan. Produksi yang tinggi di tingkat petani harus dapat terhubung dengan sistem pengadaan, penyimpanan dan distribusi yang efisien.

Bukan Hanya Soal Produksi

Perubahan iklim membuat ukuran ketahanan pangan perlu diperluas.

Selama ini keberhasilan ekosistem perberasan kerap diukur dari kemampuan menghasilkan gabah dan beras dalam jumlah cukup. Padahal, ketika produksi terganggu oleh kekeringan atau banjir, ketahanan sistem juga ditentukan oleh kemampuan mengelola cadangan, distribusi dan perdagangan.

Karena itu, ketangguhan perberasan harus dibangun dari hulu hingga hilir.

Di tingkat hulu, tantangannya mencakup ketersediaan benih unggul, air, pupuk, teknologi budidaya, mekanisasi serta kemampuan petani beradaptasi dengan perubahan iklim.

Di tengah rantai pasok, efisiensi panen, pascapanen, pengeringan, penggilingan dan penyimpanan menjadi penting untuk mengurangi kehilangan hasil sekaligus menjaga kualitas.

Sementara di hilir, tata niaga dan distribusi menentukan apakah beras dapat tersedia di pasar dengan harga yang terjangkau sekaligus memberikan insentif yang memadai kepada petani.

Karena itu, membangun ekosistem perberasan yang tangguh membutuhkan sinergi lintas sektor. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Petani, pelaku usaha, lembaga riset, perusahaan teknologi, industri penggilingan, pedagang hingga lembaga pengadaan pangan memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlanjutan sistem.

Teknologi dan Tata Niaga Bertemu

Rice Resilience Forum 2026 akan mempertemukan dua isu yang selama ini kerap dibahas secara terpisah: inovasi produksi dan ketahanan rantai pasok.

Smart farming dan pemupukan presisi dapat membantu menjawab persoalan efisiensi di tingkat budidaya. Namun hasil teknologi tersebut baru memberikan dampak maksimal apabila didukung tata niaga dan distribusi yang efisien.

Demikian pula kebijakan pengadaan dan stabilisasi pasokan membutuhkan basis produksi yang kuat dan berkelanjutan.

Pertemuan berbagai perspektif itu diharapkan menghasilkan gambaran yang lebih utuh mengenai masa depan perberasan Indonesia.

Sebab tantangan beras ke depan bukan hanya bagaimana menghasilkan lebih banyak gabah. Tantangannya adalah bagaimana menghasilkan beras secara efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, menguntungkan petani, kompetitif bagi industri, dan tersedia bagi masyarakat.

Di tengah perubahan iklim global, ketangguhan ekosistem perberasan pada akhirnya akan menjadi salah satu penentu ketahanan pangan Indonesia.

Melalui Rice Resilience Forum 2026, Majalah AGRINA membuka ruang untuk membahas persoalan tersebut dari hulu hingga hilir—dari sawah tempat beras diproduksi hingga meja konsumen tempat pangan itu berakhir.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini