Produktivitas Sawit Seret, 51 Persen Lahan Terindikasi Ganoderma

0
Ilustrasi pohon sawit yang terserang penyakit ganoderma.

Sudahlah produktivitasnya seret, industri sawit nasional juga menghadapi ancaman serius berupa penyakit Ganoderma alias busuk pangkal batang yang berisiko menurunkan hasil lebih jauh.

Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Dwi Asmono, mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 51 persen dari total 16,4 juta hektare lahan sawit di Indonesia terindikasi terserang ganoderma.

“Sekarang kita sudah posisinya 16,4 juta. Produktivitasnya belum maksimal. Tapi kita juga vulnerable karena kalau kita kaji hampir 51 persen area di Indonesia itu ada indikasi terkena penyakit ganoderma,” kata Dwi Dwi dalam Squawk Box, CNBC Indonesia Kamis lalu.

Pernyataan tersebut mengacu pada kajian R. R. M. Paterson, peneliti terkemuka dalam sistem budidaya sawit, yang secara konsisten menyoroti ancaman besar penyakit Ganoderma boninense terhadap industri kelapa sawit, terutama di Indonesia dan Malaysia.

“Kita harus dekati (mengatasi Ganoderma) ini supaya tadi permasalahan yang produktivitas stagnan bisa kita atasi. Jadi ini beberapa inisiatif. Dan itu GAPKI ambil peran sentral,” ujarnya.

Menurut Dwi, penanganan Ganoderma membutuhkan pendekatan menyeluruh dan lintas sektor. Ia menilai selama ini penanganan dilakukan secara terpisah-pisah dan kurang terpadu.

“Kita mesti bisa merakit segmen yang tidak segmented,” tegasnya. “Misalnya begini, kalau ada pelaku industri yang fokusnya di benih, seolah-olah masalah Ganoderma cukup diselesaikan lewat benih. Kalau dia bergerak di bidang fungisida, ya solusinya fungisida. Padahal sebenarnya tidak sesederhana itu.”

Ia mengatakan, penyakit merupakan hasil interaksi kompleks antara genetik tanaman, patogen, dan lingkungan. Karena itu, penanganannya tidak bisa dilakukan secara tunggal, tetapi harus dengan pendekatan holistic approach (pendekatan holistik).

“Jadi, GAPKI membangkitkan lagi. Sebenarnya kita sudah punya Konsorsium Ganoderma Indonesia yang diinisiasi Gapki hampir 15 tahun yang lalu, Tapi tidak berjalan. Kita bangkitkan lagi. Kita gunakan holistic approach, tidak segmental. Kemudian kita tentukan priority yang mana,” ujarnya.

Ia menambahkan, GAPKI menjalin kerja sama dengan Perhimpunan Fitopatologi Indonesia serta sejumlah lembaga riset dari kalangan anggota GAPKI. Selanjutnya, inisiatif ini diusulkan ke Kementerian Pertanian agar penanganan Ganoderma dapat dilakukan secara terkoordinasi dan menyeluruh.

“Masalah ini tidak mudah. Karena kalau kita lihat misalnya di Amerika Selatan, untuk penyakit yang namanya Pudrición del cogollo itu perlu waktu 100 tahun untuk menyelesaikan. Tapi kita tidak boleh menyerah. Karena kita punya pengalaman vulnerability misalnya di kelapa, yang sekarang dibangkitkan lagi,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini