
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Alim Setiawan Slamet mendorong percepatan hilirisasi perkebunan melalui penguatan kolaborasi antara balai, perguruan tinggi, dan industri. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemanfaatan hasil riset dan inovasi menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing, khususnya pada komoditas kopi dan kakao.
Hal ini disampaikan Wamentan Alim saat melakukan kunjungan kerja ke Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) di Sukabumi, Jumat (23/10).
Kunjungan tersebut bertujuan melihat langsung potensi fasilitas, lahan, serta hasil inovasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung program strategis nasional, khususnya penguatan hilirisasi produk pertanian.
“Tugas yang diberikan kepada saya adalah mengakselerasi pembangunan dari hasil-hasil riset dan perakitan. Kita perlu mendorong kolaborasi yang lebih erat, khususnya dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait, sehingga inovasi yang dihasilkan bisa lebih cepat diadopsi menjadi teknologi yang unggul,” ujar Wamentan Alim.
Menurutnya, hasil inovasi yang telah dikembangkan BRMP TRI perlu dihubungkan dengan kebutuhan industri agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat adopsi teknologi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan.
Dia menilai komoditas seperti kopi dan kakao memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui inovasi teknologi dan penguatan kemitraan. Karena itu, hasil riset yang sudah tersedia perlu disambungkan dengan kebutuhan teknis dan peluang pengembangan di dunia usaha.
“Potensinya luar biasa. Tinggal bagaimana kita menyambungkan hasil inovasi ini dengan kebutuhan teknis dan mitra yang tepat,” katanya.
Menurut Wamentan Alim, optimalisasi fasilitas dan lahan milik BRMP TRI juga perlu menjadi perhatian. Aset negara tersebut dapat dimanfaatkan lebih produktif melalui kemitraan, termasuk untuk kegiatan pengembangan teknologi, pendidikan, pelatihan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Kita perlu mengajak lebih banyak mitra untuk memanfaatkan fasilitas dan lahan yang ada. Nanti kebutuhannya kita petakan, mitranya kita identifikasi, dan saya siap membantu menghubungkan agar kolaborasi ini bisa berjalan,” ujarnya.
Dia juga mendorong agar model kerja sama yang berhasil dikembangkan di balai tersebut dapat direplikasi di balai-balai lain di bawah Kementerian Pertanian. Dengan demikian, hasil inovasi dari berbagai komoditas dapat dikembangkan secara lebih terarah dan terintegrasi.
Menurut Wamentan Alim, Kementan memiliki sejumlah balai yang menangani komoditas strategis, mulai dari tanaman industri dan penyegar, kelapa sawit, tebu, tanaman rempah dan obat, hingga tanaman pangan dan hortikultura. Potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui konsorsium dan kolaborasi lintas lembaga.
“Kalau model kolaborasi ini berhasil, saya kira bisa kita kembangkan secara paralel di balai-balai lain. Kita sudah memiliki konsorsium yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan mitra, dan ini akan kita lanjutkan,” kata Wamentan Alim.
Selain hilirisasi komoditas, kunjungan tersebut juga membahas potensi pengembangan teknologi bioenergi. Wamentan Alim menilai hasil pengembangan bahan baku seperti kelapa, kopi, dan singkong perlu dilanjutkan dengan peningkatan kualitas serta efisiensi teknologi. Pengembangan sumber bahan baku lain juga dapat dikaji dengan mempertimbangkan kelayakan teknologi dan ketersediaannya.
Dia menegaskan, pengembangan bioenergi perlu dilakukan secara cermat agar tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pangan. Karena itu, pemilihan bahan baku dan teknologi harus mempertimbangkan aspek efisiensi, keberlanjutan, dan keseimbangan kebutuhan.
Melalui penguatan hilirisasi, Wamentan Alim berharap hasil riset dan inovasi perkebunan dapat dimanfaatkan lebih cepat oleh dunia usaha, mendorong lahirnya produk bernilai tambah, serta meningkatkan daya saing komoditas Indonesia.
Sinergi antara balai, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan industri menjadi fondasi untuk menjadikan inovasi pertanian sebagai penggerak produktivitas dan pertumbuhan ekonomi sektor perkebunan.




























