Fortasbi dan Pesatri Tanam 5.000 Pohon Pascabencana Aceh Tamiang

0
fortasbi melakukan penanaman pohon di Tamiang Aceh
Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) bersama Perkumpulan Pekebun Sawit Tenggulun Lestari (Pesatri) melakukan penanaman pohon di Sempadan Sungai Rengas Tenggulun Aceh Tamiang. Dok: Ist

Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) dan Perkumpulan Pekebun Sawit Tenggulun Lestari (Pesatri) melakukan pembibitan dan penanaman berbagai jenis pohon sebagai upaya mitigasi perubahan iklim menyusul abrasi sempadan sungai dan bencana yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025.

Sejak Maret 2026, petani sawit swadaya yang tergabung dalam Pesatri membibitkan sekitar 5.000 bibit dari 14 jenis tanaman buah dan tanaman keras. Bibit tersebut terdiri atas sekitar 1.500 batang durian, 800 batang alpukat, 500 batang mangga, serta jambu madu, duku, kelengkeng, jengkol, matoa, manggis, kemiri, mahoni, dan kayu manis.

Puncak rangkaian kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (26/7) di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang, melalui penanaman pohon secara serentak. Bibit hasil pembibitan ditanam di pekarangan warga, sempadan Sungai Pantai Dusun Rengas (DAM Rengas), sekolah dasar, taman kanak-kanak, sepanjang jalan desa, hingga kawasan perhutanan sosial di sekitar Kawasan Ekosistem Leuser.

Penanaman pohon tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa, guru, tokoh masyarakat, pemuda, kelompok tani hutan, hingga perwakilan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Kolaborasi itu dilakukan untuk memulihkan sempadan sungai yang mengalami abrasi sekaligus merehabilitasi kawasan yang rentan terhadap bencana ekologis.

Ketua Fortasbi Sutiyana mengatakan sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan bukan menjadi garis akhir, melainkan pijakan awal untuk melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi dan membangun budaya pelestarian di area perkebunan sawit swadaya.

“Sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan bukanlah garis akhir, melainkan pijakan awal untuk melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi dan membentuk budaya pelestarian di area-area perkebunan sawit swadaya,” ujar Sutiyana saat kegiatan penanaman, Minggu (26/7).

Ia menegaskan, langkah taktis ini merupakan wujud nyata penerapan praktik pertanian regeneratif yang memadukan prinsip keberlanjutan dan mitigasi perubahan iklim. Petani sawit swadaya, menyadari betul sebagai aktor dalam mitigasi perubahan iklim. Penghijauan akan terus didorong untuk menjadi contoh praktik keberlanjutan tingkat lanjut pasca sertifikasi,

“Keberadaan perkebunan sawit swadaya bukan hanya berdampak pada kesejahteraan petani, tapi juga bisa merawat dan mempertahankan keanekaragaman hayati, serta mengelola lingkungan seperti sempada sungai,” kata dia.

Kepala Desa Sumber Makmur Salihin mengapresiasi langkah Pesatri dan Fortasbi untuk mengihijaukan wilayah desa dan sempada sungai dengan tamanan keras dan buah-buahan, yang akan bermanfaat untuk lingkungan dan masyarakat di Kecamatan Tenggulun, Aceh Tamiang.

“Kami senang dengan program ini, bukan hanya akan mengurangi dampak kerusakan lingkungan terutama sempadan sungai yang terkena abrasi, tapi juga bisa dimanfaatkan warga dengan ditaman di pekarangan rumah, serta fasilitas sosial, halaman sekolah dan kantor desa yang nanti jadi teduh dan buahnya bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Ketua Pesatri Langkat Ginting mengungkapkan, yang dikerjakan para petani Pesatri di Aceh Tamiang dan Fortasbi mengirimkan pesan kuat, jika petani sawit swadaya mampu beradaptasi, berinovasi, dan menjaga lingkungan.

“Kami berharap langkah kecil ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan Aceh Tamiang, yang tahun lalu (2025) mengalami bencana,” ujar dia.

Petani sawit swadaya membuktikan, produksi komoditas global dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan. Melalui pohon durian, mahoni, jengkol, mangga dan tanaman lainnya, para petani ini sedang merajut jaring pengaman ekologis, memastikan lanskap perkebunan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, namun juga sejuk dan lestari bagi generasi esok.

 

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini