BOGOR — Kacang koro pedang berpeluang membuka dua jalan sekaligus bagi sektor perkebunan dan industri pakan nasional. Selain dibidik sebagai sumber protein nabati alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, tanaman ini berpotensi dikembangkan di sela perkebunan kelapa sawit, terutama pada fase tanaman belum menghasilkan dan peremajaan sawit rakyat.
Peluang tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Nasional Pengembangan Ekosistem Perbenihan Kacang Koro Pedang untuk Mendukung Kemandirian Bahan Baku Industri Pakan Nasional di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu, 21 Oktober 2026. Forum yang mempertemukan unsur pemerintah, peneliti, perguruan tinggi, asosiasi industri pakan, perusahaan benih, dan sektor perkebunan itu membahas upaya membangun rantai pasok koro pedang dari penyediaan benih hingga penyerapan hasil oleh industri.
Potensi koro pedang bukan semata terletak pada kemampuan menghasilkan biji berprotein, melainkan juga peluang pemanfaatan lahan yang belum produktif secara optimal. Di perkebunan sawit, khususnya saat peremajaan dan pada masa tanaman belum menghasilkan, ruang antarbarisan dapat menjadi alternatif pengembangan tanaman sela yang berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi petani.
Namun, peluang tersebut belum otomatis menjadi bisnis yang menguntungkan. Ketersediaan benih bermutu, kesesuaian lahan, produktivitas aktual, biaya budidaya, teknologi pengolahan, dan kepastian pembeli harus dipastikan. Industri pakan pun memiliki persyaratan ketat: bahan baku harus aman, berkualitas konsisten, tersedia secara berkelanjutan, dan kompetitif dari segi harga.

Kebutuhan diversifikasi bahan baku pakan semakin relevan seiring membesarnya industri pakan nasional. Berdasarkan paparan Direktorat Pakan Kementerian Pertanian, produksi pakan nasional meningkat dari 17,64 juta ton pada 2022 menjadi 20,35 juta ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, pakan unggas menjadi kontributor terbesar.
Besarnya kebutuhan industri tersebut berjalan beriringan dengan penggunaan bahan baku asal tumbuhan yang masih banyak dipenuhi melalui impor. Data Direktorat Pakan menunjukkan pemasukan soybean meal atau bungkil kedelai mencapai sekitar 5,49 juta ton pada 2025. Sementara itu, angka parsial hingga 2 Oktober 2026 tercatat sekitar 5,35 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan bahan baku protein untuk industri pakan. Koro pedang pun muncul sebagai salah satu kandidat diversifikasi sumber protein domestik. Meski demikian, keberadaannya belum dapat dianggap sebagai pengganti langsung bungkil kedelai. Komposisi nutrisi, keamanan, efektivitas pengolahan, dan kelayakan ekonominya masih harus dibuktikan melalui pengujian.
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, dalam paparannya menekankan pentingnya kualitas yang konsisten, kontinuitas pasokan, dan harga yang bersaing. Ketiga faktor tersebut menentukan apakah bahan baku alternatif dapat diterima dan digunakan secara berkelanjutan oleh produsen pakan.
Pertimbangannya sederhana: bahan baku menyumbang sekitar 80–85 persen biaya produksi pakan. Karena itu, bahan alternatif tidak cukup hanya tersedia dalam jumlah besar. Harganya harus masuk dalam perhitungan formulasi, sementara mutu dan pasokannya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tantangan lain terletak pada keamanan bahan baku. Koro pedang mengandung senyawa antinutrisi, antara lain canavanine dan lektin, yang membutuhkan validasi teknologi pengolahan atau detoksifikasi. Tanpa proses yang tepat, kandungan protein yang menjanjikan belum cukup untuk menjamin bahan tersebut aman dan efektif digunakan dalam formulasi pakan.
Hingga FGD berlangsung, belum ada angka tingkat penggunaan koro pedang yang telah dipastikan aman dan ekonomis untuk menggantikan sebagian bungkil kedelai dalam formulasi pakan. Pengujian kandungan nutrisi, antinutrisi, efektivitas pengolahan, dan dampaknya terhadap biaya produksi masih diperlukan.
Produktivitas Menjanjikan, Benih Jadi Fondasi
Dari sisi budidaya, tim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipaparkan Muchdar Soedarjo dan tim menyampaikan potensi produktivitas biji koro pedang mencapai sekitar empat ton per hektare. Kandungan protein bijinya tercatat 28,6 persen, dengan kadar lemak sekitar 2,26 persen dan umur panen lima hingga enam bulan.
Tanaman ini dinilai mampu beradaptasi pada lahan yang relatif kurang subur dan kondisi ketersediaan air terbatas. Teknik budidayanya juga relatif sederhana, meliputi penanaman langsung, pengelolaan gulma, pemupukan sesuai kebutuhan, serta pemanenan polong matang secara bertahap.
Meski demikian, produktivitas tersebut masih perlu diuji melalui budidaya di berbagai lokasi. Hasil aktual akan dipengaruhi kondisi tanah, ketersediaan air, varietas, teknik pemeliharaan, serta biaya panen dan pascapanen. Kelayakan usaha tidak bisa hanya dihitung dari potensi hasil, tetapi harus memperhitungkan seluruh biaya produksi hingga biji siap dipasarkan.
Persoalan yang lebih mendasar adalah sistem perbenihan. M. Rahmad Suhartanto dari IPB University menyoroti terbatasnya varietas unggul yang telah dilepas dan belum kuatnya jaringan produsen benih berskala besar. Selama ini, penyediaan benih masih banyak bergantung pada simpanan hasil panen, komunitas, bantuan, dan perdagangan informal.
Keterbatasan tersebut dapat menjadi hambatan apabila pengembangan koro pedang diperluas dalam waktu singkat. Benih yang tidak seragam berisiko menghasilkan pertumbuhan dan produktivitas yang berbeda-beda, sedangkan industri membutuhkan pasokan bahan baku dengan kualitas yang dapat diprediksi.
Berdasarkan acuan IPB, kebutuhan benih berkisar 40–80 kilogram per hektare. Dengan demikian, pengembangan 1.000 hektare memerlukan sekitar 40–80 ton benih. Jika areal diperluas menjadi 10.000 hektare, kebutuhan benihnya dapat mencapai 400–800 ton.
Skala kebutuhan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan koro pedang harus berjalan seiring dengan penguatan sistem perbenihan. Pemuliaan dan pelepasan varietas, produksi benih sumber, penangkaran, sertifikasi, pengawasan mutu, serta distribusi harus dibangun secara bertahap agar perluasan areal tidak melampaui kemampuan penyediaan benih.
PT Botani Seed Indonesia memaparkan model bisnis kemitraan tertutup atau closed-loop yang menghubungkan pemulia tanaman, produsen benih, petani, pengolah, dan pembeli. Model ini diarahkan untuk mengurangi ketidakpastian yang selama ini dihadapi petani mengenai pembeli hasil panen dan industri mengenai kesinambungan pasokan.
Perusahaan tersebut juga memaparkan simulasi pengembangan produksi benih, termasuk pilot seluas 100 hektare dengan target benih bersih 245 ton. Namun, angka produksi, harga jual, biaya, dan keuntungan yang disampaikan masih berupa proyeksi usaha, bukan realisasi. Kelayakannya perlu diuji berdasarkan produktivitas aktual, standar sertifikasi, kebutuhan modal kerja, dan permintaan pasar yang terverifikasi.
Lahan Sela Sawit Menjadi Peluang
Salah satu peluang pengembangan koro pedang berada di perkebunan kelapa sawit, terutama pada fase tanaman belum menghasilkan atau immature. Gagasan tersebut dibahas Sudradjat Badri melalui program koronisasi, yakni pengembangan budidaya koro secara terstruktur di lahan pertanian, lahan marginal, dan ruang antarbarisan sawit.
Dalam paparannya, potensi lahan peremajaan sawit rakyat disebut mencapai 2,8 juta hektare. Masa tanaman belum menghasilkan yang berlangsung sekitar tiga tahun dinilai membuka kesempatan untuk mengembangkan tanaman sela sebelum sawit memasuki masa produksi.
Jika dikelola dengan tepat, koro pedang berpotensi memberikan tambahan arus kas bagi petani selama masa tunggu tersebut. Tanaman ini juga berpeluang menutup permukaan tanah, membantu menekan pertumbuhan gulma, dan memberikan kontribusi nitrogen melalui proses biologis.
Namun, angka 2,8 juta hektare itu tidak berarti seluruh areal dapat langsung ditanami koro pedang. Luas efektif yang tersedia harus ditentukan berdasarkan kondisi kebun, umur dan jarak tanam sawit, karakteristik tanah, ketersediaan air, akses pengangkutan, serta kesesuaian teknis budidaya. Pengembangan tanaman sela juga tidak boleh mengganggu pemeliharaan maupun pertumbuhan tanaman utama.
Ketersediaan benih menjadi persoalan penting dalam skenario ini. Jika hanya sebagian kecil dari potensi lahan peremajaan sawit dimanfaatkan, kebutuhan benih pun dapat meningkat tajam. Simulasi berdasarkan acuan kebutuhan 40–80 kilogram per hektare menunjukkan, apabila satu persen dari potensi 2,8 juta hektare digunakan, areal tanam mencapai 28.000 hektare dengan kebutuhan benih sekitar 1.120–2.240 ton.
Perhitungan tersebut merupakan simulasi, bukan target resmi pengembangan. Namun, angkanya menggambarkan tantangan yang harus diantisipasi sejak awal: penyediaan benih, kesiapan petani, kemampuan distribusi, dan kapasitas pasar harus tumbuh seiring.
Karena itu, pengembangan di kebun sawit sebaiknya dimulai melalui kawasan percontohan yang memiliki kondisi lahan sesuai dan akses terhadap calon pembeli. Demplot dapat digunakan untuk mengukur produktivitas aktual, kebutuhan tenaga kerja, biaya produksi, pengaruh tanaman sela terhadap pengelolaan kebun, serta keuntungan yang benar-benar diterima petani.
Dari sisi daerah, Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan mengidentifikasi lima kabupaten sebagai kandidat pengembangan awal, yakni Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Banjar, dan Tapin. Penetapan lokasi masih memerlukan verifikasi lapangan, termasuk pemeriksaan tanah, drainase, curah hujan, akses logistik, dan legalitas lahan.
Tanah Laut diposisikan sebagai salah satu prioritas indikatif untuk kegiatan demonstrasi dan pengujian awal. Kegiatan dapat mencakup demplot budidaya, pengembangan sumber benih, serta uji formulasi pakan. Adapun daerah lain dapat diarahkan untuk seleksi benih, uji adaptasi, penguatan kelembagaan petani, dan pembangunan jaringan pasok.
Paparan daerah juga menyebutkan dua pabrik pakan di Kalimantan Selatan yang dapat dijajaki untuk kolaborasi pengenalan bahan baku. Langkah ini penting agar pengembangan koro pedang sejak awal terhubung dengan kebutuhan pengguna, bukan sekadar menghasilkan biji tanpa kepastian penyerapan.
Membangun Rantai Pasok dari Hulu hingga Hilir
Tantangan utama koro pedang pada akhirnya bukan hanya persoalan budidaya, melainkan bagaimana membangun ekosistem bisnis yang menghubungkan benih, petani, pengolahan, dan industri. Perluasan areal tanpa kepastian pembeli dapat merugikan petani, sedangkan industri tidak akan mengandalkan bahan baku yang volumenya tidak pasti dan mutunya berubah-ubah.
Karena itu, tindak lanjut FGD diarahkan pada beberapa agenda. Pertama, memperkuat standardisasi benih melalui pemuliaan varietas, produksi benih sumber, penangkaran, dan pengawasan mutu. Kedua, melakukan pengujian kandungan nutrisi dan antinutrisi serta memvalidasi teknologi detoksifikasi. Ketiga, mengembangkan kawasan percontohan yang mengintegrasikan budidaya, produksi benih, dan pengolahan hasil.
Agenda berikutnya adalah membangun kemitraan closed-loop dengan kesepakatan yang jelas mengenai spesifikasi mutu, volume, harga, dan mekanisme pembelian. Kolaborasi IPB University, BRIN, Kementerian Pertanian, GPMT, perusahaan benih, pemerintah daerah, perusahaan perkebunan, kelompok tani, dan industri pakan diperlukan untuk menyelaraskan kebutuhan setiap pihak.
Penyusunan peta jalan nasional juga penting agar pengembangan tidak berjalan sendiri-sendiri. Peta jalan itu perlu memuat lokasi prioritas, tahapan kegiatan, kebutuhan pendanaan, pembagian peran kelembagaan, target produksi, dan indikator keberhasilan yang terukur.
Bagi petani sawit, koro pedang baru akan memberikan manfaat ekonomi apabila pendapatan dari tanaman sela melebihi biaya benih, budidaya, pemanenan, dan pemasaran tanpa mengganggu pengelolaan sawit. Bagi produsen pakan, bahan baku tersebut harus terbukti aman, memiliki nilai nutrisi yang sesuai, tersedia secara konsisten, dan menawarkan harga yang kompetitif setelah pengolahan.
Dengan pendekatan tersebut, koro pedang berpeluang menjadi sumber protein nabati domestik sekaligus membuka alternatif usaha bagi petani dan sektor perbenihan. Kebun sawit dapat menjadi salah satu ruang pengembangannya, sementara industri pakan berpotensi menjadi pasar apabila persyaratan teknis dan ekonominya terpenuhi.
Kemandirian bahan baku pakan, pada akhirnya, bukan sekadar mengganti bahan impor dengan tanaman lokal. Tantangan sesungguhnya adalah membangun rantai pasok yang mampu menjamin mutu, keamanan, volume, harga, dan kontinuitas secara berkelanjutan. Di situlah peluang besar koro pedang akan ditentukan: bukan hanya oleh seberapa luas tanaman ini dibudidayakan, tetapi oleh seberapa kuat hubungan antara kebun, petani, pengolah, dan industri yang menyerap hasilnya.






























