Produksi Gabah Nasional Tembus 60,2 Juta Ton pada 2025

0
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati,
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati, dalam acara Agri Pulse: Dua Tahun Transformasi Pertanian Era Prabowo, dari Kebijakan ke Dampak bagi Petani, Jakarta, Rabu (21/10).

Produksi gabah nasional pada 2025 mencapai 60,207 juta ton, naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 53 juta ton. Peningkatan ini sejalan dengan bertambahnya luas tanam padi dari sekitar 10 juta hektare menjadi 11,3 juta hektare.

Hal itu disampaikan Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Ladiyani Retno Widowati, dalam diskusi publik Agri Pulse: Dua Tahun Transformasi Pertanian Era Prabowo, dari Kebijakan ke Dampak bagi Petani di Jakarta, Rabu (21/10).

Retno mengatakan peningkatan tersebut didukung upaya percepatan swasembada pangan melalui penguatan sarana produksi dan modernisasi pertanian.

“Luasan tanam yang biasanya berkisar di angka 10 juta hektar pada tahun 2024, di tahun 2025 dapat ditingkatkan hingga 11,3 juta hektar. Seiring bertambahnya luasan, produksi Gabah Kering Giling (GKG) yang biasanya berada di kisaran 53 juta ton kini meningkat menjadi 60,2 juta ton,” ujar Retno.

Untuk menjaga tren tersebut, pemerintah menjalankan sejumlah strategi dalam Blueprint Swasembada Pangan 2024–2029. Langkahnya meliputi penggunaan benih unggul, penyederhanaan regulasi pupuk bersubsidi, penurunan harga pupuk sebesar 20 persen, serta penguatan irigasi melalui pompanisasi dan irigasi perpipaan.

Modernisasi budidaya juga dilakukan melalui mekanisasi pertanian. Menurut Retno, penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti traktor, transplanter, dan combine harvester, kini semakin umum di sentra produksi padi, terutama kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura).

“Pemandangan alat mesin pertanian seperti traktor roda dua dan empat, transplanter, serta combine harvester kini sudah menjadi hal lazim di sentra-sentra sawah intensifikasi, khususnya di kawasan Pantura,” katanya.

Selain padi, produksi jagung nasional pada 2025 mencapai 21,8 juta ton, meningkat 6,74 persen. Retno menyebut swasembada jagung untuk kebutuhan pakan ternak telah tercapai, sedangkan pemenuhan kebutuhan jagung untuk pangan masih memerlukan percepatan.

Strategi Produksi Berlanjut pada 2026

Pada 2026, Kementan menyiapkan dukungan lanjutan melalui pendekatan makro dan mikro. Pada tingkat makro, dukungan mencakup akses pupuk bersubsidi, benih unggul, ketersediaan air dan energi berupa BBM, gas, serta listrik, penyediaan alsintan, dan stabilitas harga gabah kering panen.

Adapun pendekatan mikro dilakukan melalui pendampingan teknis dan transfer teknologi dengan melibatkan pakar dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta perguruan tinggi.

Retno menyampaikan anggaran tanaman pangan pada 2026 mencapai Rp 3,327 triliun, dengan prioritas pada padi dan jagung, disusul kedelai, aneka ubi, kacang-kacangan, dan sorgum.

Dari jumlah tersebut, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan memperoleh alokasi Rp 2,44 triliun untuk mendukung berbagai program, termasuk target tanam padi seluas 3,2 juta hektare.

Program yang didukung meliputi peningkatan Indeks Pertanaman (IP), pengembangan padi ketan dan padi ramah lingkungan, mitigasi banjir dan kekeringan, serta pengembangan padi biofortifikasi. Varietas Inpari Nutri Zinc dan Inpago 13 Fortiz juga dikembangkan untuk mendukung penyediaan pangan bergizi dan penanganan stunting.

Selain itu, pemerintah mendorong substitusi impor kacang tanah dan kedelai guna memperkecil kesenjangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan nasional.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini