Menjelang musim hujan, kualitas gabah hasil panen petani menjadi salah satu tantangan dalam penyerapan gabah. Tingginya curah hujan, terutama di wilayah Pantai Utara (Pantura), dapat meningkatkan kadar air gabah hingga 30 persen. Angka tersebut jauh dari standar kadar air Gabah Kering Panen (GKP) yang ditetapkan pemerintah sebesar 25 persen.
Manajer Operasional SPP Kendal, M. Aziz Latif, mengatakan wilayah Pantura, termasuk Kendal, setiap tahun menghadapi tantangan banjir saat musim hujan. Sawah petani yang terendam air dapat memengaruhi kualitas gabah hasil panen.
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2025, persyaratan GKP menetapkan kadar air maksimal 25 persen dan kadar hampa kotoran maksimal 10 persen. Namun, saat panen berlangsung pada musim hujan, kadar air gabah bisa mencapai 30 persen.
“Tapi faktanya, kalau ketika musim panen penghujan, kadar air bisa sampai 30 persen,” kata Aziz saat ditemui di SPP Kendal, Jumat (30/10).
Meski menghadapi kondisi tersebut, Bulog tetap dapat menyerap gabah dengan kadar air tinggi karena memiliki fasilitas pengeringan menggunakan mesin (dryer). Fasilitas ini memungkinkan proses pengeringan dilakukan tanpa bergantung pada sinar matahari.
Hal ini berbeda dengan penggilingan padi tradisional yang masih mengandalkan lantai jemur. Saat musim hujan, proses pengeringan gabah secara tradisional bisa membutuhkan waktu dua hingga tiga hari karena terkendala cuaca.
“Artinya tidak menjadi masalah karena fasilitas pengeringannya kami menggunakan sistem drying. Drying artinya mau padi kadar airnya 25, padi kadar airnya 30, itu bisa langsung dikeringkan dengan sistem drying. Tidak tergantung pada matahari,” ujarnya.
Kendati demikian, Aziz mengakui kualitas beras hasil panen musim hujan umumnya tidak sebagus beras dari panen saat curah hujan rendah. Secara visual, beras cenderung lebih kusam dan memiliki tingkat beras patah lebih tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bulog melakukan pengaturan komposisi beras agar kualitasnya tetap memenuhi standar beras premium. Salah satu ketentuannya adalah tingkat beras patah maksimal 15 persen.
“Ketika tingkat patahnya banyak, kami bisa komposisikan kembali dengan resep. Artinya harus distandarkan dengan beras premium, maksimal 15 persen tingkat patahnya,” kata Aziz.
Dengan dukungan fasilitas pengeringan tersebut, Bulog SPP Kendal dapat menangani gabah dengan kadar air tinggi saat musim hujan, meskipun kondisi cuaca menjadi tantangan dalam menjaga kualitas hasil panen.




























