Gubernur Sumsel Dorong Lompatan Produktivitas, Industri Sawit Diminta Jaga Keseimbangan Tata Kelola

0

 

PALEMBANG — Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menegaskan arah kebijakan daerah yang berfokus pada peningkatan produktivitas industri kelapa sawit di tengah tekanan global dan tuntutan energi baru. Dalam pembukaan Andalas Forum VI, ia mendorong pelaku industri untuk tidak hanya bertahan, tetapi melakukan lompatan efisiensi dan daya saing.

“Di tengah ketidakpastian global, sawit tetap menjadi pilar utama ekonomi Sumsel. Tapi kita tidak bisa berjalan dengan cara lama,” ujar Herman dalam forum yang digelar Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu, 16 April 2026.

Herman menyoroti tantangan implementasi program biodiesel B50 yang diproyeksikan membutuhkan pasokan hingga 16 juta ton minyak sawit. Menurut dia, kebutuhan tersebut hanya bisa dipenuhi jika ada peningkatan produktivitas yang signifikan di tingkat kebun.

Karena itu, ia mendorong penggunaan teknologi dalam pengolahan tanah dan pemupukan untuk meningkatkan hasil per hektare. “Kita tidak bisa hanya mengandalkan ekspansi lahan. Produktivitas harus jadi fokus utama,” katanya.

Namun, dorongan dari pemerintah daerah itu juga diimbangi dengan peringatan dari pelaku industri. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa di tengah upaya peningkatan produksi, industri sawit juga menghadapi tekanan besar dari sisi tata kelola dan regulasi yang semakin ketat.

Ia menilai tema Andalas Forum VI—yang menekankan sinergi untuk tata kelola dan keberlanjutan—sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Tuntutan tata kelola terus berkembang. Harapannya, ini tidak menjadi beban yang justru menghambat keberlanjutan industri,” ujar Eddy.

Menurut dia, keseimbangan antara produktivitas dan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menjadi kunci. Jika tidak dikelola dengan tepat, tekanan regulasi berpotensi menurunkan daya saing industri sawit Indonesia di pasar global.

Meski demikian, Eddy tetap optimistis. Ia menyebut sawit sebagai “lumbung ekonomi” yang selama ini menopang jutaan tenaga kerja dan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Dalam konteks Sumatera Selatan, ia juga mengapresiasi langkah pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur, khususnya Pelabuhan Tanjung Carat.

“Infrastruktur seperti pelabuhan sangat krusial untuk menekan biaya logistik. Ini akan berdampak langsung pada daya saing kita,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Andalas Forum VI, Ratna Dewi, melihat antusiasme tinggi peserta sebagai sinyal kuat bahwa industri sawit membutuhkan ruang dialog yang lebih intensif. Ia mencatat jumlah peserta yang hadir mencapai 750 orang pada hari pertama, melampaui target awal sebanyak 500 peserta.

“Ini menunjukkan bahwa para pemangku kepentingan ingin terlibat aktif dalam mencari solusi atas berbagai isu krusial industri sawit,” ujar Ratna.

Menurut dia, Andalas Forum VI dirancang tidak hanya sebagai ajang pertemuan, tetapi juga sebagai platform strategis untuk merumuskan rekomendasi kebijakan. Rangkaian kegiatan meliputi seminar dan pameran yang menghadirkan puluhan eksibitor dengan berbagai inovasi di sektor sawit.

“Kami menghadirkan 44 exhibitor dengan 48 stand pameran. Ini menjadi ruang untuk menunjukkan inovasi dan dukungan terhadap industri sawit, dari hulu hingga hilir,” katanya.

Ratna menambahkan, tema yang diusung tahun ini menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mewujudkan tata kelola industri yang berkelanjutan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Bagi Herman Deru, masukan dari pelaku industri dan penyelenggara forum menjadi bagian penting dalam merumuskan kebijakan yang lebih adaptif. Ia menilai, tantangan industri sawit saat ini tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.

Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat komunikasi publik untuk merespons berbagai isu negatif yang kerap menyasar industri sawit. Menurut dia, tanpa narasi yang kuat, kebijakan yang sebenarnya strategis bisa disalahpahami oleh masyarakat.

“Fungsi humas harus diperkuat. Kita harus bisa menjelaskan kepada publik bahwa sawit ini tidak hanya soal ekonomi, tapi juga menyangkut kesejahteraan jutaan orang,” ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Herman tetap optimistis. Ia berharap Andalas Forum VI tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu melahirkan langkah konkret yang berdampak langsung pada industri dan masyarakat.

“Ini bukan sekadar forum. Ini tempat kita menyatukan langkah. Kalau sinergi ini terbangun, saya yakin sawit akan tetap menjadi kekuatan utama ekonomi kita,” kata Herman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini