
Perum Bulog memiliki fasilitas pengolahan pascapanen modern yang memungkinkan gabah hasil serapan petani diproses menjadi beras siap edar. Salah satunya berada di Sentra Penggilingan Padi (SPP) Kendal, Jawa Tengah.
Di fasilitas ini, gabah yang berasal dari petani tidak langsung menjadi beras. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui, mulai dari pemeriksaan kualitas, pengeringan, penyimpanan, hingga penggilingan.
Manager Operasi SPP Kendal M. Aziz Latif menjelaskan, gabah yang diterima dari petani terlebih dahulu diperiksa kualitasnya sebelum ditimbang. Setelah itu, gabah kering panen (GKP) masuk ke mesin pengering atau dryer.
“Gabah kering panen yang kemudian dilakukan proses pengeringan oleh dryer, kapasitasnya 120 ton per hari,” kata Aziz saat menjelaskan proses produksi di SPP Kendal, Jumat (30/10).
Setelah dikeringkan hingga menjadi gabah kering giling (GKG), gabah tersebut bisa langsung masuk proses penggilingan atau disimpan terlebih dahulu di dalam silo.
SPP Kendal memiliki tiga silo dengan kapasitas masing-masing 2.000 ton. Dengan demikian, fasilitas tersebut mampu menampung hingga 6.000 ton GKG.
Berbeda dengan penyimpanan gabah di gudang konvensional yang umumnya menggunakan karung, gabah di silo SPP Kendal disimpan dalam bentuk curah.
Untuk menjaga kualitas selama penyimpanan, petugas melakukan pemeriksaan suhu dan kelembapan secara berkala. Langkah ini dilakukan agar gabah dapat disimpan lebih lama tanpa mengabaikan kualitasnya.
Selanjutnya, kata Aziz, gabah yang telah disimpan kemudian masuk ke tahap penggilingan menggunakan mesin Rice Milling Unit (RMU). Dari proses tersebut, SPP Kendal menghasilkan beras premium maupun medium.
Seluruh proses pengolahan di SPP Kendal juga menggunakan sistem kontrol berbasis Programmable Logic Controller (PLC). Melalui sistem ini, proses produksi dikendalikan secara terkomputerisasi
Aziz mengatakan, SPP Kendal saat ini lebih banyak memproduksi beras premium, yakni Punokawan, Sentra Ramos, dan Sedap Super untuk dipasarkan melalui sejumlah jaringan ritel modern, seperti Indomaret, Alfamart, Indo Grosir, dan Superindo.
Produksi dan Tantangan Pasokan
Dari penyerapan gabah pada musim panen pertama dan kedua, SPP Kendal telah menyerap sekitar 5.119 ton gabah kering panen. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 ton telah diolah menjadi beras.
Namun, setelah musim panen berakhir, SPP Kendal menghadapi tantangan untuk menjaga ketersediaan bahan baku agar kegiatan produksi tetap berjalan hingga musim panen berikutnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bulog bekerja sama dengan sejumlah penggilingan padi skala kecil di wilayah Kendal dan Demak. Beras hasil produksi penggilingan tersebut diserap sebagai bahan baku untuk produksi beras premium.
“Kami juga bekerja sama dengan penggilingan-penggilingan di sekitar yang lebih kecil agar bisa menyuplai beras bahan baku premium kepada kami. Jadi kita tumbuh bersama dengan penggilingan-penggilingan kecil di sekitar,” ujar Aziz.
Selain menjaga pasokan bahan baku, SPP Kendal juga menghadapi tantangan fluktuasi harga gabah. Kondisi tersebut menjadi perhatian Bulog agar tetap dapat memproduksi beras premium dengan harga yang sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET).
Aziz menyebut HET beras premium sebesar Rp 14.900 per kilogram. Karena itu, Bulog berupaya menjaga agar produk yang dipasarkan tidak melampaui ketentuan harga tersebut.
SPP Kendal merupakan salah satu fasilitas dalam unit bisnis industri Perum Bulog. Secara nasional, unit bisnis tersebut memiliki 10 Sentra Penggilingan Padi, tujuh Sentra Pengolahan Beras, dua Sentra Pengeringan Jagung, serta lima unit pengolahan.



























