Pemerintah menambah alokasi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1 juta ton untuk mengantisipasi penurunan produksi beras akibat musim kemarau panjang. Tambahan pasokan tersebut disiapkan untuk menjaga ketersediaan beras di pasar hingga memasuki musim panen pada Maret 2027.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengatakan kondisi tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu kemarau masih disertai hujan sehingga petani tetap dapat menanam padi, tahun ini kondisi kemarau lebih kering sehingga produksi petani menurun.
“Jadi enggak ada produksi. Oleh karena itu, karena supply and demand, ya, tidak ada produksi, pasti harganya naik. Ada naik Rp100, ada Rp200,” kata Zulhas, sapaan Zulkifli Hasan dalam rapat koordinasi pangan, Senin (7/9).
Karena itu, pemerintah memutuskan menambah pasokan beras SPHP medium sebanyak 1 juta ton. Beras bersubsidi itu akan digunakan untuk menekan kenaikan harga beras di pasar.
“Beras yang disubsidi yang dijual di pasar kira-kira harganya Rp 12.000, Rp12.500 paling mahal. Kita tambah 1 juta lagi agar harga yang beredar di pasar yang tadi mulai naik Rp100-Rp200 itu bisa kita turunkan kembali,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan tambahan tersebut jauh lebih besar dari usulan awal Bulog. Semula Bulog mengajukan tambahan sekitar 400.000 ton untuk mengantisipasi kebutuhan September hingga Desember 2026.
“Beras SPHP alokasi penambahannya awalnya kami mengajukan 400.000 ton untuk mengantisipasi karena beras SPHP sekarang yang ada di gudang-gudang Bulog tinggal sekitar 100.000 ton,” kata Rizal.
Namun, pemerintah akhirnya menyetujui tambahan hingga 1 juta ton. Keputusan tersebut mempertimbangkan kebutuhan masyarakat pada akhir tahun sekaligus kondisi pasokan pada awal 2027.
Rizal menjelaskan, Januari dan Februari tahun depan diperkirakan belum memasuki masa panen. Sementara itu, panen baru diperkirakan berlangsung pada Maret 2027.
“Dari arahan dari Pak Menko dan Pak Mentan kan di bulan Januari, bulan Februari itu kan belum ada panen. Kan belum ada panen, panen nanti di bulan Maret. Oleh karena itu yang usulan kami dari 400 dilipatgandakan menjadi 1 juta,” ujarnya.
Dengan demikian, tambahan 1 juta ton SPHP tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun, tetapi juga menjadi bagian dari langkah pemerintah menjaga pasokan beras selama masa paceklik hingga awal musim panen 2027.
Bulog memastikan beras tersebut akan disebarkan melalui berbagai saluran penyaluran agar segera menjangkau masyarakat. Penyaluran tersebut melalui RPK, SP2KP, KDKMP dan sejumlah saluran lainnya.
“Semua, ke semua, RPK, SP2KP pokoknya 10 saluran sampai ke KDKMP masuk itu semua,” kata Rizal.
Sementara itu, realisasi penyaluran SPHP sebelumnya telah mencapai sekitar 92 persen dari alokasi 828.000 ton. Rizal menyebut stok yang tersisa sekitar 80.000 ton dan diperkirakan segera tersalurkan.
“Iya, 1 juta untuk mitigasi ini kan mau akhir tahun, akhir tahun kan perlu mau lebaran, mau Natal juga, mau tahun baru juga, sehingga perlu kebutuhannya banyak. Kami antisipasi dengan menambah SPHP tersebut sesuai arahan dari Pak Menko,” ujarnya.
Pemerintah berharap tambahan pasokan tersebut dapat menjaga ketersediaan beras sekaligus menahan kenaikan harga di tengah musim kemarau dan paceklik yang diperkirakan berlangsung hingga sebelum panen pada Maret 2027.






























