Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengingatkan pentingnya peningkatan produktivitas sawit seiring dengan soft launching biodiesel 50 persen (B50).
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, mengungkapkan bahwa meskipun pasokan bahan baku untuk B50 saat ini mencukupi, fokus utama harus pada peningkatan produktivitas.
“Jadi, kami sebenarnya kalau dari sisi bahan baku tidak ada masalah, karena produksi kita sekitar 54 juta ton dan kalau ini digunakan untuk B50 itu masih mencukupi,” jelas Mukti dalam keterangannya diterima Majalah Hortus, Senin (19/8).
Kendati begitu, dia menekankan perlu adanya peningkatan produktivitas. Tanpa peningkatan tersebut, ada kemungkinan harus mengurangi ekspor, karena sebagian besar produksi akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan B50.
“Tapi memang mau tidak mau kita harus bisa meningkatkan produktivitas, karena kalau tidak maka kita terpaksa harus mengurangi ekspor karena sebagian besar akan digunakan untuk B50,” ujar Mukti.
Oleh karena itu, Mukti menekankan perlunya mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan ekspansi kebun baru untuk mendukung kebutuhan biodiesel tanpa mengganggu pasokan ekspor.
“Harapan ke depan, paling tidak tadi saya sudah sampaikan bahwa nanti kita harus bisa meningkatkan produktivitas, antara lain dengan program PSR itu harus kita genyot,” kata Mukti.
“Kemudian tadi juga Pak Menteri Pertanian sampaikan akan meningkatkan luas areal (sawit) antara lain di Papua,” sambung Mukti.
Mukti menilai bahwa pengembangan kebun khusus untuk energi akan sangat menguntungkan. Dengan adanya kebun khusus tersebut, pasokan kelapa sawit untuk biodiesel tidak akan mengganggu suplai untuk ekspor.
“Saya kira ini sangat bagus kalau nanti ada kebun khusus untuk energi sehingga tidak akan mengganggu supply kita untuk ekspor,” ujar Mukti.
Sementara itu, Sementara itu, CEO PT Eshan Agro Sentosa (Jhonlin Group), Bambang Aria Wisena, mengungkapkan bahwa soft launching B50 merupakan milestone besar dalam dunia biodiesel yang sudah dimulai selama ini menuju Indonesia Mandiri Energi.
“Ternyata hari ini kita melihat bahwa masa depan biodiesel semakin cerah, yang tadinya kita tidak mengira bahwa kita harus loncat langsung ke B50. Ini tentunya sesuatu hal yang luar biasa, yang sangat membahagiakan bagi dunia perkelapa sawitan,” ujar dia.
Ehsan menyambut positif kelanjutan program mandatori biodiesel di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyatakan bahwa keberlanjutan program ini sangat penting dan dinantikan oleh sektor kelapa sawit, yang telah mendapatkan manfaat dari kebijakan tersebut.
“Oleh karena itu, kami menyambut dengan sangat baik, dengan sangat bahagia, bahwa pemerintahan yang baru di bawah kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto akan melanjutkan program mandatori biodiesel yang telah berjalan selama ini,” pungkas dia.






























