
Ternyata, 33 persen dari 100 juta ton kebutuhan minyak nabati dunia per tahunnya berasal dari minyak sawit.
Demikian disebutkan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHBun), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan), Prayudi Syamsuri di Jakarta, Jumat (21/6).
“Kemudian, dari 33 persen minyak sawit tersebut, 58 persennya berasal dari Indonesia. Jadi, sadar tidak sadar, kita sudah menjadi lumbung pangan dunia,” jelas Prayudi.
Menurut dia, ketergantungan dunia terhadap minyak sawit sebesar 33 persen tersebut sulit digantikan oleh minyak kedelai (soybean oil), minyak rapeseed (canola) dan minyak bunga matahari (sunflower oil).
“Jadi kalau dalam bahasa kita bahwa 33 persen untuk menggantikan sawit itu tidak mudah. Di sana baik kita sebut dengan kedelei, sunflower, rapeseed dan bahasa-bahasa lain-lainnya itu tidak mudah menggantikan 33 persen sawit kita,” kata dia.
Prayudi mengatakan, ekspor minyak sawit Indonesia setiap tahunnya sekitar 26 juta ton hingga 30 juta ton. Komoditas ini paling besar diekspor ke India, China, Pakistan, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.
“Lima negara ini itu memberikan 50 persen pangsa pasar ekspor kita. Artinya kalau ada gangguan terhadap lima negara ini maka itu sangat mempengaruhi kita sebagai negara eksportir,” kata dia.
Prayudi mengatakan, India saat ini sedang berpikir bagaimana memproduksi kelapa sawit. Sehingga, sebagai produsen sawit nomor satu di dunia, ini perlu diwaspadai.
“Terkait dengan hal tersebut tentu harus kita jaga tingkat produktivitas kita. Agar apa? harga yang kita dapatkan lebih murah, tapi kita masih bisa untung. Nah, kalau produktivitas kita rendah maka kita akan kewalahan menghadapi negara-negara yang baru,” kata dia.
Kemudian China, lanjut Prayudi, konsumennya mirip dengan Indonesia. Namun, pemerintah negara ini mendorong masyarakatnya tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berorientasi ekspor.
“Konsekuensinya apa kalau dia memenuhi ekspor maka persyaratan ekspor negara tujuan itu akan diadopsi oleh China. Nah, salah satu pasar yang paling dekat dengan mereka dan bisa lewat darat itu adalah Eropa,” kata dia.
China saat ini, lanjut Prayudi, sudah mulai mengarah ke Green China, yaitu produk yang mereka impor harus memenuhi aspek deforestasi, aspek lingkungan, dan sebagainya.
“Karena sebagian dari yang dia kelola dia produksi lipstik dari minyak, produksi sabun yang diekspor ke Eropa dan mengandung kelapa sawit maka peraturan Uni Eropa harus memenuhi hal tersebut. Karena itu, kita harus waspadai pasar China,” kata dia.
Selanjutnya Uni Eropa. Kendati ekspor minyak sawit ke Uni Eropa hanya 8,8 persen paling tinggi 10 persen, tetapi negara ini jadi trendsetter perdagangan, termasuk komoditas sawit.
“Artinya kebijakan apa pun yang diambil Uni Eropa itu akan diikuti oleh negara lain. Ikut-ikutanlah Amerika Serikat, Inggris menerapkan The European Union on Deforestation-free Regulation (EUDR),” kata dia.
Menurut dia, sebagai produsen besar minyak nabati dunia tidak dimungkiri tantangan ke depan semakin besar, pun tuntutan pasarnya juga semakin banyak.
“Sawit ini hal yang berbeda, kita menghadapi pasar global yang tuntutan pasarnya itu semakin banyak. Ini baru kita bicara tadi lingkungan. Deforestasi itu akan menjadi isu selalu masyarakat Uni Eropa,” pungkas Prayudi.





























