Bapanas dan Bulog Temukan Minyakita dan Telur Lampaui HET di Pasar Rawamangun

0
minyak goreng-kemasan-minyakita diijual dengan harga Rp 15.700 per kantong.
Minyak goreng kemasan Minyakita dijual dengan harga Rp 15.700 per kantong. Dok: Ist

Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog menemukan minyak goreng kemasan Minyakita dan telur ayam ras dijual melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) saat melakukan monitoring di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (24/12).

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, Minyakita yang ditemukan di Pasar Rawamangun dijual dengan harga Rp16.000 per liter, melebihi HET yang ditetapkan sebesar Rp 15.700 per liter.

“Ini melebihi dari HET, yang mana HET sesuai dengan ketentuan di sini sudah tertulis Rp 15.700. Nah ini nanti tolong Satgas Pangan ya, ini ditindaklanjuti agar disesuaikan dengan HET Rp 15.700 per liter,” ujar dia. 

Rizal pun meminta kepada Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri untuk menindaklanjuti temuan ini guna menelusuri pihak yang menyebabkan harga komoditas tersebut melampaui ketentuan.

“Kalau memang yang nakal para pengecernya, ya pengecernya diberikan sanksi. Namun apabila yang nakal itu distributornya, ya distributornya yang diberikan sanksi,” ujar Rizal.

Saat ditanya mengapa Minyakita masih dijual di atas HET, Rizal menjelaskan, alasan pedagang menaikkan harga karena kesulitan menyediakan uang kembalian sebesar Rp 300.

“Tadi pedagang menyampaikan alasan menjual Rp 16.000 karena sulit mencari kembalian Rp 300. Tapi itu tidak dibenarkan. Harga Minyakita tetap harus mengikuti HET yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 15.700 per liter,” ujar Rizal.

Selain Minyakita, Rizal juga menemukan telur ayam ras dijual dengan harga Rp 32.000 per kilogram, melampaui harga acuan yang ditetapkan maksimal Rp 30.000 per kilogram.

“Ini juga perlu ditindaklanjuti agar harga kembali sesuai aturan, sehingga masyarakat tidak terbebani menjelang Natal dan Tahun Baru,” imbuh dia.

Terkait harga telur ayam ras, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa menegaskan bahwa stok telur nasional dalam kondisi melimpah dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Stok telur sangat banyak. Indonesia sudah swasembada telur, sehingga pasokannya aman. Tinggal bagaimana kita mengimbau dan mengarahkan pedagang agar kembali menjual sesuai harga yang seharusnya,” ujar Ketut.

Dia memastikan, secara nasional ketersediaan telur tidak menjadi persoalan, bahkan hingga melewati Ramadan. “Secara nasional stok telur sangat mencukupi. Sampai Ramadan aman, bahkan setelah Ramadan pun masih aman karena kita surplus,” kata dia.

Terkait kenaikan harga telur di tingkat pedagang, Ketut menyebut terdapat beberapa faktor yang memengaruhi, termasuk peningkatan permintaan musiman serta program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski dampaknya relatif kecil.

“MBG ada pengaruh sedikit. Kemudian faktor musiman juga biasanya memicu kenaikan. Tapi di tingkat peternak, harga masih di kisaran Rp 22.000–Rp 23.000 per kilogram, bahkan maksimal Rp 25.000. Artinya pedagang masih bisa menjual ke konsumen di harga Rp 30.000 per kilogram,” jelas dia.

Ketut menegaskan, dengan pasokan yang melimpah, tidak ada alasan harga telur melonjak terlalu tinggi. Pemerintah akan terus mengingatkan pedagang agar menyesuaikan harga sesuai ketentuan demi menjaga stabilitas pangan.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini