Pemerintah Indonesia berencana melakukan ekspor beras pada tahun ini setelah Presiden RI, Prabowo Subianto secara resmi mengumumkan Indonesia telah mencapai swasembada pangan, khususnya beras.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa stok beras Bulog hasil penyerapan tahun lalu saat ini mencapai 3,25 juta ton. Pada tahun ini, Bulog kembali mendapat penugasan pemerintah untuk menyerap 4 juta ton beras.
Dengan tambahan penyerapan tersebut, Rizal menyebut total stok beras Bulog berpotensi mendekati 7 juta ton. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor beras ke negara-negara yang membutuhkan.
Meski belum ada penugasan resmi ekspor dari pemerintah, Rizal mengatakan Bulog telah melakukan langkah antisipatif dengan menyiapkan 1 juta ton beras kualitas premium.
“Bulog sudah menyiapkan 1 juta ton sesuai dengan arahan Bapak Mentan selaku Kepala Bapanas. Kami stokkan 1 juta ton untuk ekspor nanti dengan kualitas premium,” ujar Rizal di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Jakarta, Minggu (11/1).
Seiring kesiapan stok tersebut, Bulog juga mulai menjajaki potensi pasar luar negeri. Rizal menjelaskan, pihaknya telah melakukan komunikasi awal dengan para atase perdagangan negara-negara ASEAN untuk memetakan potensi permintaan beras.
“Kebetulan kemarin staf kami sudah rapat dengan seluruh atase perdagangan yang ada di ASEAN. Alhamdulillah sudah ada komunikasi awal,” katanya.
Namun demikian, hingga saat ini belum ada jawaban resmi dari kedutaan maupun negara tujuan terkait realisasi permintaan ekspor tersebut. “Mungkin dalam beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan sudah ada jawaban dari negara-negara tersebut,” ujar Rizal.
Rizal menegaskan, rencana ekspor beras tidak akan mengganggu ketersediaan pasokan dalam negeri, terutama menjelang Imlek, Ramadan, dan Idulfitri.
“Saat ini stok Bulog sekitar 3,25 juta ton. Kalau dialokasikan 1 juta ton untuk ekspor, masih tersisa sekitar 2,25 juta ton. Itu sangat aman untuk Imlek, Ramadan, sampai Lebaran,” tegasnya.
Bulog memastikan pengelolaan stok tetap mengutamakan ketahanan pangan nasional, sementara peluang ekspor dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar beras regional.
Sebelumnya, dalam pengumuman swasembada pangan pada Rabu (7/1), Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia hampir pasti siap mengekspor beras tahun ini.
“Izin Bapak Presiden (Prabowo Subianto) yang penting Bulog, izinnya dan serapannya tiga bulan ke depan, sama saja 2025, aku tidak minta lebih, itu ekspor hampir pasti kita lakukan tahun ini,” kata dia.
Amran menegaskan ekspor beras akan menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia, seiring stabilnya pasokan nasional dan keberhasilan pengelolaan cadangan pangan strategis di tengah peningkatan produksi petani.
Adapun stok beras nasional pada awal 2026 berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional tercatat mencapai 12,53 juta ton. Jumlah tersebut mencakup stok beras di Bulog, serta stok yang tersebar di tingkat rumah tangga produsen dan konsumen, penggilingan, pedagang, serta sektor horeka (hotel, restoran, dan katering).
Stok beras awal 2026 tersebut meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir. Tercatat kenaikan sebesar 203,05 persen dibandingkan stok awal 2024 yang berada di angka 4,13 juta ton. Sementara dibandingkan stok awal 2025 yang tercatat 8,4 juta ton, terjadi peningkatan sebesar 49,12 persen.






























