
Perum Bulog memanen padi varietas unggul IR 32 dengan produktivitas mencapai 7,2 ton per hektare di lahan budidaya mandiri seluas 5,5 hektare di Desa Kepuh, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa (4/11).
Panen ini merupakan bagian dari Program Project Management Office (PMO) Mitra Tani yang dikembangkan Bulog untuk mendorong modernisasi pertanian melalui penerapan teknologi berbasis efisiensi dan keberlanjutan.
Dalam program tersebut, berbagai inovasi diterapkan, antara lain pemupukan menggunakan drone, penggunaan biostimulan (nutrisi tanaman), biopestisida, serta combine harvester machine (CHM) dalam proses panen.
Wakil Direktur Perum Bulog, Marga Taufiq, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sektor hulu agar program hilirisasi yang dijalankan Bulog dapat berjalan optimal.
“Sebenarnya kegiatan ini adalah kegiatan di hulu, tetapi kita Bulog merasa perlu bahwa kegiatan hilirisasi itu akan sukses kalau kegiatan hulunya bagus,” kata dia.
Dia menambahkan, Program PMO Mitra Tani hadir tidak sekadar untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menjadi contoh penerapan pertanian berkelanjutan di tingkat lapangan. Melalui program ini, Bulog bekerja sama dengan berbagai mitra untuk memastikan budidaya dilakukan dengan benar sehingga hasil panen lebih optimal.
Di antaranya, melibatkan konsultan pertanian yang memberi pendampingan terkait metode tanam yang tepat, serta bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) dalam penerapan pemupukan berstandar baik.
Misalnya konsultan pertanian yang memberikan pendampingan dalam metode penanaman yang tepat, serta dengan PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang mendukung praktik pemupukan berstandar baik.
“Kita juga melibatkan para petani di sini untuk mencari cara tanam yang bagus. Hasilnya cukup baik, dari panen di lahan lima hektare ini produktivitasnya mencapai 7,2 ton per hektare,” ujar Taufiq.
Marga berharap metode bertani berbasis teknologi modern seperti yang diterapkan PMO Mitra Tani dapat diperluas ke berbagai daerah lain.
“Kita harapkan metode-metode atau cara-cara bertanam seperti ini bisa kita tularkan di tempat-tempat lain,” ujar Taufiq.
Adapun hasil panen ini langsung diserap oleh fasilitas milik Bulog, yakni Sentra Penggilingan Padi (SPP) Karawang. Nantinya, beras ini akan diolah menjadi beras premium.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Bulog dalam memperkuat rantai pasok pangan dari hulu hingga hilir, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset perusahaan untuk mendukung ketersediaan pangan nasional.




























