
Perum Bulog mengembangkan tiga pola kemitraan dalam budidaya padi melalui Project Management Office (PMO) Mitra Tani, yakni Kemitraan Sinergis, Program Makmur BUMN, dan Mandiri Bulog.
Ketiga pola tersebut menjadi komitmen perusahaan pelat merah tersebut untuk menghasilkan gabah dan beras berkualitas tinggi yang nantinya akan diserap sebagai bagian dari penguatan pasokan beras nasional.
Direktur Pemasaran Perum Bulog, Hasto Prihasto menjelaskan, kegiatan PMO Mitra Tani diinisiasi sejak tahun 2024 dengan tujuan meningkatkan kualitas gabah dan beras yang masuk ke Bulog.
“Jadi, ada ide pada waktu itu bagaimana memberikan satu budidaya pertanian yang nantinya gabah-gabahnya berasnya itu akan masuk ke bulog dengan kualitas yang baik,” kata Hasto saat menghadiri panen di lahan Kepuh, Karawang, Jawa Barat, Selasa (4/11).
Dia mengatakan, pada saat itu terdapat beberapa pola kerja sama yang dikembangkan bersama Bulog. Pertama, pola kemitraan sinergis.
Pola kemitraan sinergis ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2024 lalu sampai sekarang itu mencakup luasan 2.826 hektare, yang tersebar di berbagai daerah seperti Lebak, Klaten, Banyuwangi, Palopo, Indramayu, Merauke, Cirebon, Sumedang, Grobogan, hingga Sukoharjo.
“Pola yang pertama ini, pola kemitraan sinergis ini Bulog yang membiayai semuanya. Maksudnya biaya saprodi-nya semua dan nantinya Bulog yang akan menyerap hasil produksinya sebagai offtaker,” tutur dia.
Dari pola kemitraan sinergis ini, Bulog telah menghasilkan 14.236 ton gabah pada musim tanam pertama, sementara musim tanam kedua masih berlangsung.
Pola kedua adalah Program Makmur BUMN, dengan total luas 3.757 hektare yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam skema ini, Bulog berperan sebagai offtaker, bekerja sama dengan Pupuk Indonesia serta sejumlah BUMN lainnya yang memanfaatkan lahan milik BUMN bersama petani.
Sedangkan pola ketiga, yang kini diterapkan di Karawang, adalah Mandiri Bulog, yaitu budidaya yang sepenuhnya dilakukan di atas aset milik Bulog sendiri.
“Di lahan Kepuh ini totalnya ada 5,5 hektare. Setelah diubin, hasil produksinya mencapai 7,2 ton per hektare, cukup tinggi dibanding musim tanam sebelumnya yang hanya sekitar 4,3 hingga 4,4 ton per hektare,” ungkap Hasto.
Bulog berencana melanjutkan pola mandiri ini di berbagai lahan miliknya seperti di Cikalong (3 hektare), Marunda (50 hektare), dan Cibitung (6 hektare).
Hasto menambahkan, pembiayaan seluruh kegiatan pada pola mandiri ini ditanggung sepenuhnya oleh Bulog, dan hasil produksinya juga menjadi milik Bulog.
Dia menyebut, harga gabah di wilayah Karawang saat ini mencapai Rp 7.000 per kilogram, sehingga Bulog menyerap hasil panen dengan skema komersial, bukan PSO (Public Service Obligation).
“Kalau harga di bawah Rp 6.500, kita serap dengan skema PSO. Tapi karena sekarang sudah di atas Rp 7.000, maka penyerapan dilakukan secara komersial,” ujar Hasto.
Untuk menjamin hasil yang optimal, Bulog juga menggandeng Balai Besar Padi (BRMP Padi) sebagai penyedia benih unggul, serta bekerja sama dengan Pupuk Indonesia dalam penerapan teknologi pemupukan menggunakan drone.
“Dengan benih unggul dan teknologi budidaya yang efisien, hasil panen meningkat signifikan,” kata Hasto.
Ke depan, Bulog akan terus mengembangkan pola Mandiri Bulog di berbagai lahan asetnya, guna memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memastikan ketersediaan beras berkualitas tinggi di pasar domestik.





























