Keberlanjutan Sawit Indonesia di Persimpangan Jalan

0
Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Rizal Affandi Lukman dalam paparannya di acara Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE), Jakarta, Rabu 14 Agustus 2024. (Foto: Majalah Hortus)

Keberlanjutan industri sawit di dalam negeri menghadapi tantangan serius. Sementara konsumsi sawit terus meningkat, produksi mengalami stagnasi.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Rizal Affandi Lukman dalam paparannya di acara Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE), Jakarta, Rabu (14/8).

Penggunaan sawit di Indonesia, yang merupakan yang terbesar di dunia, hampir mencapai 20 juta ton per tahun. Namun, ada persoalan serius terkait kebutuhan biodiesel yang kini sudah melebihi kebutuhan pangan.

“Jadi ini at the crossroad (berada di persimpangan jalan), apakah kita akan teruskan tapi nanti kalau memang produksi kita stagnated ini menjadi suatu alarm bagi kita bahwa produktivitas kita semakin menurun,” kata Rizal.

Menurut Rizal, penurunan produksi disebabkan oleh kegiatan replanting (permajaan kebun) yang berjalan lambat terhadap 41 persen lahan sawit dari total luas 16,38 juta hektare yang dikelola oleh small holders.

Rizal meyebutkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) saat ini hanya menargetkan 40 ribu hektare per tahun untuk replanting, padahal seharusnya targetnya mencapai 260 ribu hektare per tahun.

Perhitungan ini didasarkan pada 41 persen dari total luas lahan sawit sebesar 16,38 juta hektare, yang dibagi dalam periode 25 tahun, menghasilkan target tahunan sebesar 260 ribu hektare.

“Di bawah itu menyebabkan ya ini produktivitas menjadi menurun. Jadi, kalau produktivitas menurun, produksi kita akan sangat terbatas,” kata Rizal.

Oleh karena itu, Rizal menyarankan kepada pemerintah untuk mempercepat program replanting, khususnya untuk small holders. Sementara itu, replanting untuk sektor industri biasanya sudah berjalan dengan sendirinya.

Jika tidak, akan ada kekurangan pasokan untuk pangan maupun bahan kimia, karena sebagian sawit akan digunakan dan mungkin akan dibakar. Terlebih lagi, dengan program pemerintah yang akan datang, yang mencanangkan penggunaan B40.

“Kalau ini kita terlambat, ini kita akan terjadi tadi kekurangan pasokan untuk food maupun untuk oleh chemical karena dipakai akan dibakar. Apalagi, program pemerintah yang akan datang mencanangkan lebih besar lagi 40 persen,” kata Rizal.

Rizal memproyeksikan kebutuhan akan sawit diperkirakan akan lebih tinggi daripada pasokan dalam 3-4 tahun ke depan. Saat ini, kenaikan produksi sawit hampir stagnan, sementara minyak nabati lain masih tersedia.

“Jadi ini terakhir di triwulan terakhir kenaikan sawit yang merah ini sudah hampir stagnated. Sedangkan dari sisi minyak nabati yang lain masih ada. Jadi, ini persoalannya kita harus cepat,” pungkas dia.

Untuk diketahui, produktivitas sawit Indonesia berdasarkan Statistik Perkebunan Unggulan Nasional memang stagnan. Misalnya pada 2020 produksinya sebesar 45,7 juta ton (14,5 juta ha), 2021 sebesar 45,121 juta ton (15,6 juta ha), 2022 sebesar 45,8 juta ton (16,8 juta ha), dan 2023 sebesar 48,2 juta ton (16,8 juta ha).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini