Dirut PTPN Optimistis Minyak Sawit Tetap Kompetitif di Tengah Perang Tarif

0
pekerja mengangkat brondolan buah sawit.
Pekerja menunjukkan brondolan sawit dengan kedua tangannya. Dok: PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)

Pemerintah menyatakan optimismenya terhadap daya saing minyak sawit (CPO) di pasar minyak nabati global, meskipun tengah berlangsung perang tarif yang memengaruhi perdagangan internasional.

Menurut Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara III (PTPN III), Mohammad Abdul Ghani, minyak sawit memiliki daya saing yang tidak terbantahkan dibandingkan minyak nabati lainnya seperti kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.

“Kalau kita bicara soal edible oil secara global, saat ini produksi totalnya mencapai sekitar 228 juta ton, dan minyak sawit (CPO) menyumbang sekitar 34 persen dari total tersebut,” ujar Ghani dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia, Jumat (2/5).

Ghani menjelaskan bahwa kelapa sawit memiliki keunggulan komparatif yang sulit disaingi, terutama dari sisi produktivitas dan biaya produksi.

“Kita tahu, mulai dari soybean, rapeseed, hingga sunflower, rata-rata produktivitasnya hanya sekitar 0,5 hingga 0,8 ton per hektare. Sementara sawit jauh lebih tinggi, sehingga cost of production kita lebih rendah, jelas dia.

Terkait isu perang tarif, termasuk yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia, Abdul Ghani menilai dampaknya masih terbatas.

Amerika itu hanya 6 persen dari market kita, market nasional. Tentu kita masih punya banyak peluang untuk mengalihkan ekspor ke negara lain,” kata Ghani.

Meski begitu, dia menyampaikan keyakinannya, AS tetap membutuhkan minyak sawit Indonesia. Terlebih, kata dia, sudah ada komunikasi antara utusan pemerintah Indonesia dan pihak Amerika Serikat yang membuka jalan menuju penyelesaian.

“Kita menambah katakanlah konsumsi, menambah impor soybean misalkan atau bahan bakar minyak ya, fossil oil. Tentu itu akan menjadi solusi,” kata Ghani.

Namun demikian, Ghani menegaskan, secara keseluruhan kontribusi Amerika terhadap ekspor sawit Indonesia tergolong kecil. “Sebenarnya bagi kita, As itu kecil, cuman 6 persen dari total ekspor. Peluang kita di negara lain masih sangat terbuka,” tegas dia

Ghani juga menegaskan, minyak sawit Indonesia masih memiliki banyak peluang. Justru, saat-saat seperti ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk memastikan sawit terus berkembang dengan fokus pada isu keberlanjutan.

“Di Eropa Barat, Amerika itu kan negara-negara yang selama ini memastikan atau mensyaratkan sawit ramah lingkungan. Maka di Indonesia perlu dikembangkan, ditingkatkan isu-isu tentang deforestasi dan sebagainya,” ujar dia.

Ghani juga menambahkan bahwa meskipun ada penurunan harga CPO setelah penerapan tarif, peluang ekspor ke negara-negara ini masih terbuka lebar. 

“Memang ada penurunan sedikit harga CPO, mungkin sekitar 50 dolar AS per metrik ton. Tapi 80 persen biaya produksi CPO kita berbasis rupiah, sementara ekspor dalam dolar. Jadi, ketika dolar turun, rupiah juga melemah, dan ini sebenarnya tidak terlalu berdampak pada harga ekspor,” jelas dia.

Dia juga mengungkapkan, ke depan, Indonesia harus terus mencari pasar baru dengan penerapan praktik budidaya sawit yang ramah lingkungan. “Kita perlu merambah pasar baru dengan penerapan eco-friendly dalam cultivation kita,” tandas dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini