Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperingatkan produksi sawit selama lima tahun terakhir stagnan, sementara permintaan minyak sawit mentah (CPO) terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan risiko berkurangnya ekspor.
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng Wahyudiono dalam konferensi pers dan buka puasa bersama di Shangri-La, Jakarta, Kamis (12/3).
“Ini adalah fakta yang ada di tempat kita, bahwasanya produksi kita 5 tahun terakhir ini ya relatif tidak bergerak, so so aja. Ini menandakan industri kita ini perlu ada treatment,” ujarnya.
Ia menambahkan, salah satu penyebab stagnansi adalah lambatnya program replanting. Sementara itu, tuntutan pasokan CPO terus meningkat baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor.
Berdasarkan data GAPKI, Total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan 3,82 persen dari 23.859 ribu ton di tahun 2024 menjadi 24.772 ribu ton pada tahun 2025. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel yang naik menjadi 12.704 ribu ton atau 10,97 persen dari tahun sebelumnya sebesar 11.447 ribu ton.
Kenaikan biodiesel ini disebabkan oleh kenaikan bauran dari 35 persen menjadi 40 persen. Konsumsi oleokimia naik dari 2.207 ribu ton menjadi 2.234 ribu ton atau naik sebesar 1,22 persen.
“Jika produksi tetap stagnan, ekspor bisa dikorbankan, dan manfaat bagi petani maupun pasokan untuk biodiesel berisiko terganggu,” katanya.
Meski demikian, kinerja ekspor sawit Indonesia pada 2025 tercatat masih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Masih berdasarkan data GAPKI, total ekspor pada 2025 mencapai 32,34 juta ton, lebih tinggi 9,51 persen dari ekspor 2024 sebesar 29,53 juta ton.
Adapun total ekspor sawit Indonesia pada 2025 mencapai 32,34 juta ton dengan nilai sekitar US$35,87 miliar atau setara sekitar Rp590,34 triliun, sementara stok akhir tercatat sekitar 2,07 juta ton.
Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada minyak sawit olahan yang naik menjadi 22.727 ribu ton dari 20.451 ribu ton pada tahun sebelumnya, diikuti oleh olahan minyak inti sawit yang naik menjadi 1.560 ribu ton dari 1.262 ribu ton, oleokimia naik menjadi 5.076 ribu ton dari 4.796 ribu ton, dan CPO yang naik menjadi 2.964 ribu ton dari 2.916 ribu ton.
“Memang di tahun ini meningkat. tetapi kalau 5 tahun terakhir terus menurun. Karena itu tadi produksi nggak bergerak sementara konsumsi dalam negeri terus meningkat sehingga ekspornya terkoreksi,” katanya.
Ia juga mencatat, penurunan ekspor ke pasar utama CPO Indonesia, seperti India, Uni Eropa (UE), dan Amerika Serikat (AS).
“Kemudian beberapa ekspor kita ke beberapa negara tujuan, kita ambil 6 besar yang tiga yang minus dan tiga yang positif. Kita minus ke India, ke EU, dan kemudian ke USA,” ujarnya.
Apabila dirinci lebih jauh, peningkatan ekspor pada tahun 2025 dari tahun sebelumnya antara lain Afrika (+991 ribu ton), China (+644 ribu ton), Malaysia (+516 ribu ton), Bangladesh (+503 ribu ton), dan Pakistan (+214 ribu ton). Sedangkan penurunan ekspor terjadi untuk tujuan India (-859 ribu ton), EU 27 (-97 ribu ton), dan AS (-15 ribu ton).
Sementara itu, Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, peningkatan produksi 7 persen pada tahun 2025 sebagian besar berasal dari kebun perusahaan yang sudah melakukan replanting.
“Produksi kita meningkat 7 persen ya, itu kita syukuri. Ini akibat dari replanting-replanting perusahaan yang memang sudah menghasilkan,” katanya.
Namun, Eddy menekankan bahwa replanting sawit rakyat (PSR) masih belum optimal, sehingga hal ini menjadi tugas bersama, termasuk bagi pemerintah, untuk mengatasi hambatan replanting.
Menurutnya, dengan total potensi produksi nasional saat ini sebesar 56 juta ton seharusnya bisa lebih tinggi jika program replanting rakyat berjalan sesuai rencana.
Apabila replanting-replanting PSR atau replanting rakyat ini bisa berjalan dengan baik sesuai dengan rencana. Ini jauh sekali pencapaiannya. Jadi bisa dikatakan juga tidak berjalan dengan baik kan gitu. Nah ini yang yang menjadi PR kita bersama,” ujarnya.
Berdasarkan data industri, total produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 56,55 juta ton, terdiri dari CPO sebesar 51,66 juta ton dan PKO sekitar 4,89 juta ton, atau meningkat sekitar 7,18 persen dibandingkan produksi tahun sebelumnya.






























