
Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan) akan memanggil semua pimpinan perusahaan sawit untuk menandatangani komitmen meningkatkan produktivitas sawit.
Hal ini disampaikan Plt. Direktur Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementan, Heru Tri Widiarto dalam Dialog Profesional Sawit Indonesia di Jakarta, Sabtu (16/11).
Heru menilai, kenaikan produktivitas sawit, anggaplah setara 1 juta ton minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) itu akan memberikan dampak yang luar biasa.
“Ya, jangan hanya nanti kalau ada masalah minta tolong ke kami gitu ya, kami ada masalah nggak mau nolong, masalahnya cuma menaikkan produktivitas aja, gitu lho,” kata Heru.
Heru mengatakan, komitmen serupa sudah dilakukan dengan pabrik-pabrik gula (PG). Mereka telah menadatangani komitmen untuk meningkatkan produksi dalam rangka mencapai swasembada gula tahun 2028.
“Kemarin saya mencoba bikin terobosan, semua PG saya hadirkan, saya suruh tanda tangan komitmen produksi masing-masing PG-nya untuk 2025 dan seterusnya sampai 2028,” kata Heru.
“Saya patok di angka 3,4, dapatnya itu 3,3, alhamdulillah. Karena konsumsi sekarang turun ke 2,9 juta ton Pak Menteri. Jadi, harusnya kalau komitmen itu dijaga, tahun depan pun nyampe, karena trennya sekarang luas areal tanam tebu 3 tahun terakhir naik,” sambungnya.
Lebih lanjut, Heru menyampaikan, arahan Presiden Prabowo Subianto adalah Indonesia swasembada pangan dan energi. Dia pun berharap perusahaan ikut membantu meningkatan produktivitas sawit.
“Nah, kami juga mohon HIPKASI (Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia) ikut berkontribusi minimal memberi masukanlah kepada kami soal bagaimana meningkatkan produktivitas itu,” tutur Heru.
Heru mengakui tantangan yang dihadapi dalam program replanting, termasuk kebun swasta. Salah satu kendalanya adalah sikap petani yang enggan melakukan replanting karena masih ada hasil buah yang bisa dipanen.Â
Mereka merasa sayang untuk mengganti pohon yang masih berbuah, dengan kekhawatiran tidak akan mendapat hasil sementara jika pohon yang ada diganti.
“Faktor yang namanya ‘eman-eman’ itu juga ada lho. Kalau petani sawit mungkin kita paham lah eman-eman masih ada buahnya, sayang kalau direplanting kami makan apa gitu. Nah, ya kalau di kebun swasta juga masih begitu,” ujar Heru.
Menurut Heru, hingga saat ini angka tertinggi replanting 92 ribu hektare pertahun. Nah, untuk tahun ini, kata dia, sudah di angka 70 ribu hektare. “Ayo lah dukung pemerintah kewajiban replanting itu tidak hanya rakyat. Rakyat sudah lah dapet 100 ribu hektare per tahun itu sudah paling jago,” Â kata Heru.
Selain itu, Heru juga menyapaikan untuk menopang program biodisel 60 persen atau B60 dengan rata-rata produktivitas 3 ton secara CPO per hektare butuh setidaknya lahan 2,3 juta hektare.
Heru menambahkan, pihaknya telah memetakan daerah-daerah potensi untuk mendukung program ini. Hanya saja, lanjut dia, tantangannya adalah mencari lahan yang bisa disatukan dalam satu titik.
“Jadi sulit Pak sekarang cari lahan itu segitu. Yang paling memungkinkan adalah mungkin ekstensifikasi natural gitu ya,” tutur Heru. “Nah, kewajiban kita Pak, nge-push yang existing ini, yang 17,2 juta.”





























