Ini Alasan Kementan Libatkan Babinsa Dukung Swasembada Beras

0

Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini mengalami defisit penyuluh petani lapangan (PPL). Alasan itulah, Kementan kembali melibatkan para prajurit Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk menambal kekurangan penyuluh tersebut di lapangan.

Hal ini disampaikan Mentan Amran pada penandatanganan Nota Kesepakatan (MoU) Kementerian Pertanian (Kementan) dengan TNI tentang Dukungan Pelaksanaan Pembangunan Pertanian di Rumah Dinas Panglima TNI, Jakarta, Senin, (4/12).

“Kenapa kita kerja sama? Itu karena PPL hanya 40 ribu orang, kebutuhan kami 74 ribu orang, mungkin sekarang kebutuhan kami 80 ribu orang, hanya separuh dari kebutuhan dan ada moratorium. Jadi, kami gunakan yang ada,” kata Mentan Amran.

Mentan Amran mengatakan, tidak bisa dimungkiri bahwa berkat bantuan prajurit Babinsa, Indonesia bisa mencapai swasembada beras secara total pada tahun 2017, 2019, dan 2020. “Ini swasembada sempurna dan itu berkat bantuan TNI, khususnya Babinsa di seluruh Tanah air,” kata dia.

Pria kelahiran 27 April 1968 di Bone mengatakan, keterlibatan TNI untuk menangani masalah pangan saat kondisi iklim ekstrem ini sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 5 Tahun 2011, yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 3 Maret.

“Sekarang iklimnya cukup ekstrem, sangat mengkhawatirkan. Yang paling mengkhawatirkan lagi manakala kita mau impor beras, tetapi sesuai arahan Presiden bahwa 22 negara di dunia menyetop ekspor, yang juga diperparah dengan adanya perang Rusia dan Ukraina,” tutur dia.

Amran menjelaskan, musim kemarau El Nino yang melanda Indonesia tahun ini masuk pada kategori Gorila El Nino atau tingkatan terparah. Alhasil, lahan-lahan sawah yang saat ini bisa ditanami hanya yang masuk dalam wilayah irigasi.

“Sekarang ini iklim ekstrem. Kami baru pulang dari Jawa Tengah, Kalimantan, Sumatra, ada hujan, tapi belum berkesinambungan, sehingga kita belum bisa tanam, kecuali area irigasi,” kata Mentan Amran.

Karena itu, menurut Amran, Kementan tengah memfokuskan lahan-lahan rawa. Indonesia sendiri disebut Mentan Amran mempunyai 10 juta hektare lahan rawa mineral yang bisa digarap menjadi lahan produktif.

“Lahan baku pertanian kita sekarang 7,3 hektare. Artinya bisa dua kali lipat. Kita juga mampu memberi makan pada penduduk Indonesia sampai satu miliar ke depan. Tetapi, harus disiapkan dari sekarang,” imbuh Mentan Amran.

Sementara itu, Panglima TNI, Agus Subiyanto menyebutkan poin penting dalam penandatangan MoU ini adalah pendampingan pelaksanaan program pembangunan pertanian, peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian, kapasitas SDM dan optimasi lahan TNI untuk pertanian.

TNI memiliki lahan pertanian dan Kementan mendukung penyediaan alat mesin pertanian (alsintan), benih, pupuk dan lainnya untuk kebutuhan produksi hingga pasca panen.

“Kita juga akan bekali Babinsa tentang pertanian agar bisa membantu PPL untuk mengembangkan lahan. Kita tahu daerah memiliki tipologi lahan yang berbeda, misalnya daerah pegunungan kekurangan air sehingga TNI mendorongnya untuk dibuatkan irigasi dengan berkoordinasi juga dengan Kementerian PUPR,” ungkap dia.

“Tujuan kerja sama ini adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sesuai visi misi saya waktu fit and proper test. Kerja sama dengan Kementan ini pun penting karena kondisi banyak negara yang sudah mulai kelaparan, sehingga kita harus sinergi perkuat pangan,” tambah Agus.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini