IPOSS Proyeksikan Ekspor Sawit Q3 2026 Diproyeksikan Turun Hampir 50 Persen

0
Tandan buah segar sawit
Tandan buah segar (TBS) sawit yang baru dipanen. Dok: Kementan

Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan ekspor produk sawit Indonesia turun menjadi sekitar 4,3 juta ton pada kuartal III 2026, dari 8,3 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut diperkirakan dipengaruhi meningkatnya konsumsi domestik setelah penerapan mandatori biodiesel B50 di tengah penurunan produksi minyak sawit.

IPOSS memuat proyeksi tersebut dalam Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 (Juli–September) 2026 bertema “Memperkokoh Domestik sebagai Penentu Arah Sawit Global” yang diterbitkan pada 8 Juli 2026.

Dalam laporan tersebut, IPOSS menilai pasar domestik semakin berperan dalam menentukan arah industri sawit Indonesia sekaligus memengaruhi keseimbangan pasar global. Penerapan mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 dinilai meningkatkan kebutuhan crude palm oil (CPO) untuk energi dalam negeri.

Di sisi produksi, IPOSS memperkirakan produksi crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO) selama Juli–September 2026 mencapai sekitar 11,1 juta ton atau turun 3 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Penurunan produksi diperkirakan terutama terjadi pada Juli dan September akibat kecenderungan kondisi kering yang berkaitan dengan menguatnya El NiƱo–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Sementara itu, konsumsi domestik diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 7,2 juta ton, naik 12,9 persen dibandingkan Q3 2025. Kenaikan ini terutama berasal dari biodiesel yang diperkirakan menyerap sekitar 4,25 juta ton, atau hampir 60 persen dari total konsumsi domestik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan energi semakin dominan dalam membentuk permintaan minyak sawit dalam negeri.

IPOSS menilai meningkatnya konsumsi domestik di tengah penurunan produksi membuat alokasi pasokan untuk ekspor semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, ekspor menjadi penyesuaian untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menjaga ketersediaan stok nasional.

Stok minyak sawit nasional diperkirakan turun menjadi sekitar 1,1 juta ton pada akhir kuartal III 2026. Menurut IPOSS, rendahnya stok membuat pasar lebih sensitif terhadap perubahan produksi, konsumsi, dan ekspor, sekaligus berpotensi mengurangi ketersediaan pasokan di pasar global.

Dari sisi harga, CPO global diproyeksikan terus menguat hingga September 2026 seiring terbatasnya pasokan ekspor, rendahnya stok, dan meningkatnya serapan domestik akibat implementasi B50. Sementara itu, harga CPO domestik diperkirakan menguat pada awal kuartal III, namun kenaikannya berpotensi tertahan dan terkoreksi pada September akibat kenaikan pos tarif Bea Keluar.

IPOSS menjelaskan struktur bea keluar yang bersifat berjenjang membuat kenaikan harga referensi yang melampaui ambang tarif tertentu dapat memicu kenaikan bea keluar yang lebih besar dibandingkan kenaikan harga CPO di pasar. Kondisi tersebut meningkatkan beban ekspor, menekan harga bersih yang diterima eksportir, serta mendorong sebagian pasokan tetap berada di pasar domestik sehingga memberi tekanan terhadap harga CPO dalam negeri.

Selain memuat proyeksi pasar, Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 2026 juga mengulas evaluasi domestic market obligation (DMO) minyak goreng, produktivitas sawit rakyat, pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) ekspor, kesiapan menghadapi European Union Deforestation Regulation (EUDR), pembiayaan biodiesel B50, serta integrasi data rantai pasok.

IPOSS menilai peningkatan konsumsi domestik melalui program B50 perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas sawit rakyat, penguatan kapasitas pembiayaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta perbaikan tata kelola industri sawit secara menyeluruh.Ā 

Melalui outlook tersebut, IPOSS berharap dokumen ini dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyusun strategi pengembangan industri sawit.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini