
Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mendorong penguatan daya saing ekspor kopi dan karet alam Indonesia melalui organisasi komoditas internasional. Optimalisasi kerja sama tersebut dapat membuka peluang pasar lebih luas, meningkatkan nilai tambah produk, serta memberikan manfaat nyata bagi petani dan pelaku usaha nasional.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Johni Martha, saat membuka seminar “Kuasai Pasar Global: Memanfaatkan Organisasi Komoditas Internasional untuk Ekspor Kopi dan Karet” di Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (17/10).
“Kami ingin mendapatkan masukan langsung dari para pelaku usaha mengenai apa yang perlu dilakukan pemerintah agar kegiatan ekspor dapat difasilitasi dengan baik tanpa kendala administratif yang berarti. Informasi dari pelaku usaha sangat penting agar kebijakan dan langkah yang kami ambil sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” ujar Johni.
Johni menekankan, pengalaman langsung eksportir diperlukan untuk melengkapi data statistik perdagangan dalam merumuskan kebijakan yang tepat. Ia mengajak pelaku usaha menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi, termasuk persoalan di pasar tujuan ekspor, agar dapat dibahas bersama untuk mencari solusi yang sesuai.
Johni juga mendorong pelaku usaha kopi domestik untuk memanfaatkan keanggotaan Indonesia dalam International Coffee Organization (ICO). Salah satu peluang yang perlu dicermati ialah pengembangan standar kopi spesial berbasis Robusta. Pengembangan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas, diferensiasi produk, dan nilai jual kopi Indonesia di pasar global.
Direktur Perundingan Antar Kawasan dan Organisasi Internasional Kemendag, Natan Kambuno menegaskan, keanggotaan dalam organisasi komoditas internasional perlu dimanfaatkan secara strategis agar menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata.
“Kita perlu bergerak dari participation ke utilization, yaitu dari sekadar berpartisipasi menjadi mampu memanfaatkan kerja sama internasional secara strategis untuk kemajuan sektor kopi dan karet alam nasional,” ujar Natan.
Natan menyoroti potensi kopi Indonesia untuk dikembangkan sebagai produk bernilai tambah yang mampu memperkuat diferensiasi dan meningkatkan daya saing kopi Indonesia di segmen pasar premium. Karakteristik produk dan praktik budi daya yang sesuai dengan persyaratan pasar dapat menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah dengan tetap memperhatikan verifikasi mutu dan pemenuhan standar yang relevan.
Seminar menghadirkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari organisasi komoditas internasional, asosiasi pelaku usaha, hingga pemerintah dengan mengundang lima kementerian. Kelimanya yaitu Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian serta sembilan asosiasi/organisasi sektor terkait.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menyoroti potensi ekspor kopi olahan Indonesia yang mencapai USD 692,1 juta pada 2025, tumbuh 4,56 persen. Indonesia juga menjadi eksportir kopi premix terbesar dunia dengan pangsa pasar 17,54 persen.
Sementara itu, Badan Pengawas Dewan Kopi Indonesia, Jamil Musanif, menekankan pentingnya promosi global dengan mengoptimalkan keunggulan cita rasa, 69 indikasi geografis kopi, dan praktik budi daya berkelanjutan. Narasumber lainnya, Ekonom ANRPC, Riska Pujiati, memproyeksikan peningkatan permintaan karet alam seiring pertumbuhan industri otomotif dan kebutuhan ban kendaraan listrik, terutama di Tiongkok dan India.
Sementara itu, perwakilan Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Widyantoko Sumarlin menyoroti penurunan produksi karet Indonesia dan mendorong penguatan ketertelusuran, kemitraan langsung dengan petani, serta diversifikasi pasar ekspor.
Salah satu peserta, Adi Syahid dari Syahid Kopi, mengapresiasi penyelenggaraan seminar dan berharap pemerintah memperluas dukungan sertifikasi bagi petani untuk mengatasi tingginya biaya dan meningkatkan akses ke pasar ekspor.
Apresiasi dan masukan dari peserta tersebut menjadi referensi bagi pemerintah serta pelaku usaha dalam merumuskan langkah konkret untuk meningkatkan daya saing dan ekspor kopi dan karet alam Indonesia melalui penguatan nilai tambah, keberlanjutan, sertifikasi, dan perluasan akses pasar global.





























